
Nadia masih sibuk bekerja padahal sudah waktunya jam pulang. Apalagi hari ini mereka bekerja sampai sore hari saja. Sari sudah bersiap-siap untuk pulang begitupula dengan Edgar. Sari mengajak Edgar untuk pulang bersamanya, Edgar memanggil Nadia untuk mengingat rekan kerjanya itu jika sudah waktunya untuk pulang.
" Nad, Nadia." Panggil Edgar. Namun Nadia tak menyahut bahkan menoleh kearah Edgar, itu dikarenakan Nadia bekerja sambil memakai earphone di telinganya. Karena belum juga menyahut, Edgar menyentuh lengan tangan Nadia.
" Nad, Nadia."
Nadia terkejut, dia segera melepaskan earphone nya dan memandangi Edgar. "Ada apa kak?" Tanyanya.
" Sudah waktunya pulang." Ucap Edgar mengingatkan rekan kerjanya itu.
"Aku sedikit lagi hampir selesai tinggal memasukan beberapa info ini saja. Kakak sebaiknya pulang duluan saja." Kata Nadia yang ingin menyelesaikan semua pekerjaan dulu sebelum pulang.
" Tidak terlalu banyak, kan? Kami berdua bisa menunggu." Ucap Edgar, karena merasa tidak enak meninggalkan Nadia sendirian di kantor. Apalagi John dan pak Danang sudah pulang dari tadi.
" Tidak apa-apa kok kak. Aku tidak ingin kakak membuang waktu kakak dengan menunggu aku disini. Aku nanti bisa pulang sendiri dengan taksi." Ujar Nadia merasa tidak enak dengan Edgar dan juga Sari yang harus menunggunya.
" Baik. Aku dan Sari pulang duluan. Tidak apa-apa kan? Jika kamu sendirian disini." Edgar masih khawatir meninggalkan Nadia sendirian di kantor.
" Tidak masalah kak. Kakak boleh pulang sekarang." Ucap Nadia tersenyum sebagai tanda jika dirinya akan baik-baik saja.
Edgar dan sari akhirnya pergi meninggalkan Nadia sendirian di ruangan kerja. Nadia kembali fokus mengerjakan pekerjaannya. Tiba-tiba sebuah nada berbunyi dari ponselnya, terlihat notifikasi pesan. Nadia membaca pesan itu raut wajahnya tiba-tiba berubah cemas. Dia segera mematikan laptop dan mengisi dokumen yang dia kerjakan ke dalam tas. Dengan cepat di berlari menuju lantai bawah.
Ternyata Fajar sudah menunggunya di luar kantor, dengan membawa beberapa kantong plastik berisikan makanan yang dibelinya sebelum singgah menjemput istrinya. Nadia berlari menuju Fajar, yang berdiri menunggunya. Nadia menepuk pundak suaminya itu, Fajar menoleh, melihat wajah istrinya dia langsung menunjukan senyuman manisnya. Nadia melihat Fajar, dia tidak percaya dengan kehadiran Fajar dengan mengenakan jas almamater kampus.
" Fajar, kenapa kamu baru memberitahu ku jika kamu berada di depan kantor?" Tanya Nadia, dia merasa sedikit kesal dengan Fajar. Karena tiba-tiba datang menjemputnya di kantor dengan berpakaian seperti itu.
" Bukannya aku sudah bilang saat hari penutupan ospek." Jawab Fajar, jika dikilas balik memang Fajar pernah berkata jika dia akan menemui Nadia di kantor tempat Nadia bekerja, karena selama ini Nadia selalu menjemput serta menemuinya di kampus. Merasa tidak enak dengan sang istri, makanya fajar ingin melakukan hal yang sama.
" Bukan begitu, kamu seharusnya beritahu aku ketika kamu berencana untuk kesini. Bukannya saat sampai disini kamu memberitahunya." Kata Nadia dengan nada sedikit naik.
Fajar menyadari jika Nadia sedang maraha padanya saat ini. Fajar segera meminta maaf kepada Nadia. " Maafkan aku, tapi kenapa kakak mesti membentak ku? Atau kakak tidak ingin aku datang kesini?"
" Bukan begitu.. ayo kita segera pulang." Ujar Nadia menarik tangan suaminya untuk segera pulang ke rumah.
Sebelum menuju rumah, mereka berdua duduk di taman kota. Hari sudah berganti malam, mereka duduk berdua tanpa ada yang memulai pembicaraan bahkan makanan yang dibawakan oleh Fajar terlihat seperti sudah dingin karena sedari tadi tidak ada yang menyentuh.
"Fajar."
"Iya?"
" Ulurkan tanganmu."
" Untuk apa?"
Tanpa menjawab, Nadia menarik tangan Fajar. Dia mengeluarkan seuntai tali disaku bajunya. Kemudian dia mengikat tali itu di pergelangan tangan Fajar sambil berkata, " kamu sudah belajar dengan keras. Kamu juga memiliki banyak kegiatan yang kamu lakukan. Meski begitu, jangan lupa untuk menjaga dirimu juga. Dan aku harap kamu dicintai semua orang. Bukan berarti kamu juga mencintai mereka, ingat hati kamu itu cuma untuk aku."
Fajar tersenyum senang, seolah ini adalah momen sangat membahagiakan bagi dirinya. " Makasih ya kak." Ucapnya.
Suasananya yang awalnya canggung, kini menjadi sangat romantis untuk pasangan suami istri itu. Nadia melakukan itu, sama seperti dulu saat dirinya mengikat tali di pergelangan tangan Fajar. Namun nasihat kali ini cukup dan juga status mereka saat ini juga sudah berbeda. Nadia melakukan itu sebagai bentuk seorang istri, dia menandai suaminya sekaligus mengucapkan terima kasih atas kerja keras sang suami. Mungkin seuntai tali bagi orang lain, bukan sebuah hadiah yang berarti. Namun, bagi Nadia ini sudah lebih dari cukup, mengikat tali sebagai gelang dipergelangan tangan suaminya membuatnya mengingat akan masa dia melakukan hal sama sebagai seorang senior.
Fajar memandangi istrinya, dia mulai mendekati wajahnya untuk lebih dekat dengan wajah Nadia. Nadia merasakan detak jantung yang tak berhenti berdetak. Saat hampir dekat, Nadia dengan cepat menahan dahi Fajar dengan tangannya. Dirinya masih belum bisa diperlakukan seperti itu. Rasanya begitu canggung, apalagi detak jantung yang tak berhenti bergetar.
" Pergi bermain sepak bola sana!" Ucap Nadia asal-asalan, karena dia merasa malu dengan adegan barusan terjadi meski mereka tak sempat berciuman. Fajar tertawa, dia melihat raut wajah istrinya yang malu, bahkan tidak melihat kearahnya.
" Apanya yang lucu?" Tanya Nadia kesal karena Fajar terus menertawakan dirinya.
Bagaimana bisa Nadia menyuruh bermain sepak bola sendirian dimalam hari. Nadia terlihat lucu dimata Fajar, ketika Nadia merasa malu.
Mereka memutuskan untuk pulang, Nadia menasihati Fajar jika ingin menemuinya harus diberitahu jauh-jauh hari dan dia meminta Fajar jika menemuinya tidak boleh mengenakan jas almamater kampus seperti tadi. Karena Nadia masih merasa jika hal itu sangat memalukan apalagi jika ada rekan kerjanya yang tahu. Karena sampai saat ini Nadia masih menyembunyikan identitas statusnya kepada semua rekan kerjanya jika dirinya sudah menikah.
Keadaan rumah mereka begitu berantakan, bagaimana mereka berdua bisa mengurus karena kedua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Karena rumah yang berantakan, Fajar berniat untuk membereskannya. Dan dia teringat jika pakaian kotor mereka berdua yang menumpuk begitu banyak dan belum dicuci sama sekali. Setelah mengurus semua rumah, Fajar dan Nadia makan malam bersama. Makanan yang dibawa fajar tadi, Fajar panaskan untuk mereka berdua bisa memakannya kembali. Sebagai suami, fajar begitu cekatan dalam mengurus rumah. Sungguh beruntung bagi Nadia memiliki suami seperti Fajar.