
Dua sejoli yang saling mencintai tengah duduk berdua dipinggir pantai, deru ombak serta dingin malam seolah tidak dirasakan oleh mereka. Beruntung bagi pasangan itu, mereka berdua disinari oleh rembulan diatas langit serta bintang-bintang yang ikut membantu menyinari pasangan suami istri itu. Fajar, lelaki yang bahagia malam ini karena istri tercinta datang menemuinya. Ini adalah momen yang belum pernah mereka rasakan, selama ini hidup mereka hanya sibuk dengan kehidupan masing-masing. Nadia yang sibuk bekerja, sedangkan Fajar yang sibuk dengan pendidikannya. Kehidupan rumah tangga yang asing dengan kalimat menikmati alam bersama pasangan. Semenjak menikah tidak pernah bagi mereka merasakan. Kesibukan menghambat semuanya. Namun kini, di malam ini, di bawah sinar rembulan, dan juga deru ombak serta udara dinginnya malam. Menjadi saksi, akan mengalir cinta dari pasangan itu.
" Kak Nadia, saat kamu sampai di rumah besok pagi. Jangan lupa untuk kabari aku."
" Tentu. Kamu tidak perlu khawatir. Prince sudah tidur, jadi kita akan pulang dengan aman." Nadia tahu jika suaminya akan khawatir padanya. Apalagi saat melihat Prince yang setengah mabuk. Pastinya Fajar menjadi semakin khawatir.
Fajar tersenyum mendengarnya, meski tatapan matanya tidak bisa dibohongi. Dia begitu khawatir akan kepulangan Nadia besok pagi. Fajar terus memandangi wajah Nadia, dia tidak mau melewati momen indah ini dengan hanya diam.
" Lalu, apa yang ingin kakak lakukan sekarang?"
" Aku.. aku akan terus menatap mu seperti ini, sebelum aku pulang besok pagi."
Raut Fajar langsung berubah, bukan ini jawaban yang dia inginkan. Dia ingin Nadia melakukan sesuatu, jangan hanya diam dengan menatapnya saja. Baginya ini adalah momen yang akan susah diulangi bagi mereka berdua. Fajar langsung memalingkan wajahnya, agar Nadia tidak terus-menerus menatapnya.
Nadia tertawa pelan, begitu lucu melihat Fajar merajuk seperti itu. Dia sudah tahu maksud Fajar, namun dia berpura-pura untuk tidak peka apa yang Fajar inginkan. Nadia lebih dekat dengan Fajar, di telinga dia lalu berbisik dengan menyebut nama suaminya. " Fajar".
Saat Fajar menengoknya, tatapan mata mereka bertemu, wajah mereka semakin dekat. Nadia menggigit bibirnya, lalu hidungnya menyentuh hidung Fajar. Dia kembali membuat jarak diantara wajah mereka. Dan melihat ke arah ombak yang menghantam.
" Itu hadiahmu." Ucap Nadia dengan malu.
Fajar hanya bisa bengong, sangat lama untuknya mencerna. Karena jarang bagi Nadia, istrinya yang terkenal galak dan jutek itu bisa semanis ini. Fajar tersenyum, matanya tidak mau memandangi yang lain selain objek ciptaan Tuhan yang cantik dihadapannya ini.
" Aku merasa itu cuma hadiah yang diberikan sebagai ketua ospek. Bagaimana dengan hadiah karena telah menjadi suamimu?"
" Dapatnya nanti saja," Nadia langsung berdiri dan melenggang pergi.
Fajar hanya bisa pasrah, meski begitu dia tetap tersenyum. Nadia begitu lucu ketika sedang malu. Dia mencoba memanggil istrinya, namun Nadia terus saja melenggang pergi. Fajar berlari mengejar istrinya. Terasa sangat lucu bagi Fajar, ketika Nadia merajuk seperti itu.
Besok paginya, Nadia pulang pagi-pagi sekali. Karena dia harus berangkat kerja. Tidak sempat berpamitan dengan Fajar, karena merasa tidak enak hati melihat suaminya tertidur sangat pulas. Selama perjalanan di gunakan waktu untuk tidur sejenak. Sesampainya di rumah, masih ada waktu bagi Nadia untuk bersiap-siap di kantor. Tidak lupa dia mengabari suaminya, jika dia sudah sampai di rumah.
Di kantor, dia mulai bekerja, pak Danang selaku manajer tiba-tiba datang menemuinya, bukannya memberikan pekerjaan tetapi pak Danang justru memuji Nadia karena sudah bekerja keras. Setelah itu dia memanggil Edgar untuk menemaninya menemui seorang klien.
Setelah pak Danang pergi, John berdiri dan mendekati Nadia. Dia lagi-lagi kembali meminta tolong kepada Nadia. Dia meminta Nadia untuk membantunya menelpon beberapa supplier dan juga meminta Nadia untuk mengecek barang. Dan kembali Nadia juga tidak bisa menolak. Dia tetap menerima pekerjaan itu meski pekerjaannya juga sangat banyak.
Ada satu barang yang tidak cocok dengan apa yang ditawarkan oleh John kepada supplier. Nadia mencoba membicarakan itu pada Toni. Tanpa malah meminta Nadia untuk berbicara dengan Wilan, dia yang bertanggung jawab akan barang tersebut, dia juga memberitahu Nadia untuk meminta nomor ponsel Wilan kepada Edgar.
Agar pekerjaannya cepat selesai dia langsung menghubungi Edgar untuk meminta nomor Wilan. Edgar mulai merasa curiga, sebab pekerjaan itu seharusnya dilimpahkan kepada John bukan Nadia. Edgar merasa kasihan kepada Nadia, sebagai karyawan baru dia sudah dimanfaatkan oleh John.
" John, siapa yang menghubungi mu?" Tanya pak Danang mendekat, karena melihat Edgar yang baru saja selesai mengobrol dengan ponselnya.
" Nadia, dia meminta nomor ponsel Wilan."
" Untuk apa dia meminta nomor ponsel Wilan?"
" Katanya ada barang yang harus dia tanyakan sesuai dengan kebutuhan supplier." Jawab Edgar.
" Bukankah itu tugasnya John, kenapa jadi dia yang mengerjakannya?" Pak Danang mulai merasa heran sebab dari kemarin tugasnya John selalu dikerjakan oleh Nadia.
" Entahlah pak." Edgar mengirim nomor ponsel Wilan namun dia mengurung niatnya dengan memberi nomor ponsel orang lain.
Toni berbincang mengenai barang untuk produksi kurang lengkap. Dia bercerita jika mereka membutuhkan barang tersebut, tetapi perusahaan tersebut sudah tidak mau bekerja sama dengan mereka. Makanya barang yang diinginkan supplier terkadang tidak terpenuhi. Nadia merasa bersalah dan ingin membantu terlebih itu adalah tugas dari bagiannya. Toni mengajaknya untuk mengunjungi pemilik perusahaan itu.
Disisi lain, Fajar tengah mengerjakan makalah dengan teman-temannya. Tidak terasa dia sudah mau memasuki pertengahan semester. Dia butuh banyak belajar serta mencari sumber untuk bisa menentukan penelitian apa yang dia akan lakukan untuk tugas akhirnya. Saat tengah mengerjakan tugas, Fani dan temannya datang menghampiri mereka.
" Hai kak.. maaf jika aku mengganggu kakak. Aku mau tanya, apa kakak melihat Diva? Soalnya dosen tengah mencarinya, sudah dua hari dia tidak masuk kelas." Tanya Fani, sebagai seorang teman dia sangat perduli dengan Diva meski Diva terkadang bersikap cuek.
Kevin yang juga berada disitu, begitu terkejut. Gadis itu begitu aneh, dia sangat menjunjung tinggi pendidikannya, bahkan tidak mau ikut kegiatan ospek. Tapi sekarang dia malah tidak hadir didalam kelas.
" Kami tidak tahu. Aku tidak pernah melihatnya." Ucap Fajar.
Disusul dengan yang lain, karena teman-temannya yang lain juga tidak melihat dimana Diva.
Mendengar itu, Fani beserta temannya undur diri. Fani sudah tidak mau memperjuangkan cintanya. Dia ikhlas cintanya demi Fajar supaya bahagia. Dia sudah tahu, karena cinta ditolak oleh Fajar. Bukan hanya itu, dia sudah melihat sosok gadis yang dijaga hatinya oleh Fajar. Dia melihat bagaimana Fajar memperhatikan gadis itu, baik gadis itu berbicara bahkan tengah tertawa. Terlihat Dimata Fani, jika Fajar sangat mencintai gadis itu. Sudah tidak ada harapan bagi dirinya, meski secuil. Itulah Fani memilih untuk merelakan cintanya.