
" Sayang, ayah dan bunda ingin bilang sesuatu kepadamu."
" Apa?"
" Sebenernya ayah dan bunda ingin menjodohkan kamu dengan anak dari sahabat ayah. Ayah dan bunda belum siap untuk bicara kepadamu, takutnya kamu belum bisa menerima. Anak dari sahabat ayahmu, sudah mengetahui perjodohan ini. Dia menerima perjodohan ini, tinggal kamu saja. Apakah kamu bersedia?"
" Kenapa ayah dan bunda melakukan keputusan seperti itu tanpa diskusi denganku?"
" Ini kita sedang bicarakan dengan mu, nak. Jika kamu tidak mau, kamu bisa menolak, tapi saran bunda alangkah baiknya kamu kenali dulu calon suami mu."
" Siapa calon suami ku?"
" Fajar Saputra, kata sahabat ayah dia juga kuliah di kampus yang sama denganmu, dia baru saja masuk, mungkin sekarang sudah memasuki semester 2."
Alangkah terkejutnya Nadia saat itu mendengar nama Fajar yang yang disebut oleh bunda, jadi selama ini Fajar adalah calon yang jodohkan oleh ayahnya. Padahal malam sebelum Nadia ke rumah orang tuanya, dia menginap di kamar kos Fajar, bahkan dia memberikan pertanyaan yang seolah curiga jika Fajar suka padanya. Namun, ternyata Fajar merupakan calon suaminya.
" Apa dia tahu jika aku calon istrinya?"
" Sepertinya belum, karena masih membicarakan perjodohan dulu."
Kenapa Fajar dengan gampang mau dijodohkan padahal dirinya tidak tahu siapa calon istrinya? Jika saja malam itu Fajar mengerti dengan maksud pertanyaannya, Nadia mungkin akan malu ketika Fajar menjawab jika dirinya sudah dijodohkan. Beruntung Fajar tidak fokus akan pertanyaannya.
" Baiklah, aku akan mencoba mengenalinya. Tapi Bun, aku masih belum pasti apakah aku menerimanya atau tidak sebab agak memalukan jika aku harus menikah dengan cowok berada dibawah ku, apalagi jika kita menikah di saat aku lulus kuliah. Aku gak membayangkan jika punya suami masih kuliah sedangkan istrinya sudah bekerja. Aku butuh waktu akan itu Bun."
" Bunda dan ayah tidak memaksa, itu tergantung dengan keputusan mu."
Nadia ingin memastikan dulu akan perasaannya, apakah dirinya sudah membuka hati untuk Fajar ataukah hatinya masih terjebak dicinta pertamanya.
Semalaman Fajar tak bisa tidur, baru pertama didalam hidupnya dia merasakan namanya patah hati. Apalagi ketika Nadia dengan sengaja mematikan teleponnya, saat Fajar ingin mengungkapkan perasaannya. Malam itu menjadi malam yang kacau bagi seorang Fajar Saputra. Dia bahkan menarik dengan kasar gelang yang pernah Nadia ikat di tangannya. Seolah dirinya sudah capek, dengan semuanya, semua bentuk perhatian Nadia bahkan senyuman dari gadis itu.
Pagi ini, seperti biasa dirinya tampil dengan rapi menuju kampus. Dari matanya kelihatan jelas dia tak bisa tidur semalaman. Bahkan tubuhnya juga terasa lemas. Namun, dia sudah jauh-jauh ke Jakarta untuk menuntut ilmu, dia tak mau ketinggalan meski hanya satu mata kuliah. Fajar sudah memutuskan untuk tetap menjalani hidup seperti mahasiswa pada umumnya. Dia sudah tidak perduli akan perjodohan itu, biarkan saja itu akan menjadi keputusan Nadia, apakah Nadia menerimanya atau tidak.
Di kelas, Bima, Yoga bersama teman yang lain membicarakan tentang game yang mereka mainkan semalam. Ditengah asyik perbincangan, Bima terkejut melihat Fajar yang datang dengan wajah yang sedikit pucat, membuat Bima mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu.
" Aku cuma kurang tidur saja semalam." Jawab Fajar tersenyum, menunjukan jika dirinya baik-baik saja.
" Serius kamu gak apa-apa?" Bima masih mengkhawatirkan sahabatnya.
" Muka mu masih, lebih baik kamu istirahat saja, biar aku akan bicarakan kepada dosen." Ujar Kevin karena melihat wajah Fajar yang pucat.
" Aku baik-baik saja." Fajar terus mengatakan dirinya baik-baik saja.
Pelajaran dimulai, dosen menerangkan materi lalu di memberikan beberapa topik untuk di kerjakan oleh para mahasiswa. Topik itu akan dibagikan sesuai dengan nomor urut mereka. Setelah selesai menerangkan, tepat saat waktu mata kuliah itu berakhir. Gladis mendekati Kevin dan Bima menanyakan topik apa yang mereka dapatkan. Saat dirinya bertanya kepada Fajar, Fajar justru malah terdiam dan malah sibuk dengan pikirannya. Mina yang khawatir terus memanggil namanya, hingga Fajar tersentak dan menjawab jika dirinya tidak apa-apa. Fajar mengemasi bukunya kedalam lalu keluar kelas. Membuat teman-temannya bertanya tentang keadaan, sebenarnya apa yang telah terjadi kepada Fajar.
Nadia bersama dengan teman-temannya sedang makan siang di kantin, Nadia yang masih stres tak menghabiskan makanannya, sehingga sisa makanan itu akhirnya dihabiskan oleh Prince. Karin memberikan sebotol minuman teh kepada Nadia, karena gadis itu selesai namun tidak minum air. Saat dirinya lagi berusaha membuka botol minuman, aksinya terhenti melihat Fajar berjalan sendirian. Terlihat jelas wajah cowok itu seperti pucat, apakah dia sakit? Membuat Nadia menjadi khawatir dengan keadaan Fajar.
Fajar mengunjungi aula, yang dulu digunakan untuk kegiatan ospek. Dia duduk ditengah aula sendirian, melihat keatas panggung. Bayangan akan masa pertemuan pertamanya dengan Nadia kembali melintas. Kenangan demi kenangan saat masa ospek, seperti tayangan layar lebar dihadapan. Teriakan serta bentakan Nadia terhadapnya dulu, seolah terdengar kembali. Sakit rasanya, cintanya harus bertepuk sebelah tangan. Calon istrinya itu tidak mencintainya. Notifikasi pesan diponsel Fajar terus berbunyi, Fajar melihat notifikasi itu yang ternyata dari Bima yang menanyakan keberadaannya, namun Fajar menghiraukannya. Dirinya tengah menikmati tayangan saat masa dirinya di hukum oleh Nadia. Kembali ponselnya berdering, bukan notifikasi melainkan sebuah telfon dari orang yang sama. Fajar mengangkat telepon dari Bima, Bima meminta Fajar untuk segera menuju perpustakaan sebab dia dan teman-teman lain tengah berkumpul mengerjakan tugas, niatnya ingin menolak namun saat Bima mengatakan jika ada hal mendesak dan butuh bantuannya, Fajar segera mengiyakan. Namun, sebelum pergi dari aula dia masih ingin sebentar saja menikmati kenangan indah yang pernah membuat hatinya berbunga-bunga.
Karin yang sudah selesai makan mengajak Nadia serta teman yang lain untuk ke perpustakaan. Nadia mengiyakan permintaan itu, karena teringat tugas akhirnya belum selesai.
" Kalau aku gak deh, soalnya aku sama perpustakaan gak rukun. Aku tunggu kalian di warung, tempat biasa." Ujar Prince yang tak mau bersentuhan dengan buku-buku di perpustakaan.
" Kamu tuh ya, ingat tugas akhir. Memang ni anak gak tempat yang gak rukun sama dia." Ujar Bagas karena Prince yang paling malas berurusan dengan buku.
" Eh, siapa bilang? Aku ada tempat, tempat dimana ceweknya. Aku justru akan betah." Ujar Prince membantah omongan Bagas.
" Kalau itu sih aku pun sama." Ucap Bagas.
" Kebetulan sekali, aku dengar banyak anak semester dua yang berkunjung di perpustakaan. Katanya sih mereka ada tugas tentang cari materi dari topik yang dibagikan dosen. Pastinya banyak cewek disana." Kata Karin mencoba mengajak Prince untuk mau bergabung ke perpustakaan dengan mereka.
Nadia yang mendengar perkataan Karin, teringat akan Fajar yang kebetulan juga duduk di semester 2. Pastinya cowok itu juga berada disana. " Aku gak jadi deh, aku ikut Prince. Menunggu kalian di warung." Ujar Nadia mengurungkan niat awalnya, karena dirinya tak ingin bertemu dengan Fajar.
Kenangan tadi malam teringat lagi, sedikit lagi dia akan mendengar pengakuan cinta dari Fajar. Namun Nadia malah mematikan sambungan teleponnya, Nadia masih belum sanggup mendengar pengakuan itu, terlebih mereka berdua adalah korban perjodohan orang tua mereka.