Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 96



Saat pulang kerja, Nadia mencari Fajar di depertemen produksi. Siapa tahu Fajar masih belum pulang. Namun saat bertemu dengan Toni, Nadia menanyakan keberadaan Fajar. Toni malah justru berkata jika Fajar sudah pulang sedari tadi. Nadia menghubungi Fajar, namun sambungan telepon tidak pernah diangkat. Nadia mencari Fajar, di kos teman-temannya. Namun Bima yang kebetulan sahabat Fajar juga mengatakan jika Fajar sedari tadi belum pulang dari kerjanya. Nadia pulang ke kos, dengan harapan jika Fajar berada disana. Namun lagi-lagi harapannya pupus, Fajar tidak pulang ke kos.


Nadia berbaring, dia lelah harus kemana untuk mencari keberadaan suaminya itu. Masalah yang ingin Nadia selesaikan, seolah semakin rumit saja. Nadia memandangi langit-langit kamar kosnya. Masalah pernikahan kenapa serumit ini, pikir Nadia.


Nadia mulai membayangkan pertemuan awalnya dengan Fajar, saat dia mulai jatuh cinta bahkan memutuskan menerima Fajar sebagai suaminya. Semua sudah menjadi keputusan Nadia, namun kenapa Nadia masih saja malu untuk mengungkapkan kebenaran jika dirinya sudah menikah meski suaminya berstatus seorang anak mahasiswa. Pandangan orang-orang luar, membuat Nadia begitu takut. Pandangan orang jika anak mahasiswa masih belum bisa bertanggung jawab, bahkan sangat malu jika istrinya sudah bekerja sedangkan suaminya masih menempuh pendidikan. Seharusnya itu bukanlah sebuah masalah jika tidak dipikirkan namun Nadia selalu takut dan terus memikirkan hal-hal tersebut membuat hubungannya kini semakin begitu renggang, bahkan Fajar tidak tahu kemana.


Nadia menghadap tembok, melihat jas almamater milik sang suami bergantung di tembok. Nadia tahu kemana Fajar pergi, Nadia yakin jika Fajar berada disana. Nadia terbangun mengambil tasnya dan segera menuju ke kampus. Dan benar saja saat nadia masuk ke dalam aula, Fajar duduk diatas panggung. Raut wajah terlihat begitu murung. Selangkah demi selangkah nadia menghampiri suaminya. Dari setiap langka terbayang akan momen indah pertemuan pertamanya dengan Fajar. Momen yang membuatnya jatuh cinta dengan lelaki yang duduk terdiam dipinggir panggung sendirian. Nadia menghampiri lelaki itu, dan duduk disampingnya.


" Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Nadia.


" Itu seharusnya yang aku tanyakan. Apa yang kakak lakukan disini?" Tanya Fajar balik kepada Nadia namun tidak melihat wajah Nadia sama sekali.


Nadia menghela nafasnya, memandangi aula yang begitu sepi, hanya dirinya dan Fajar saja yang berada di ruangan itu. " Aku merindukan tempat ini, merindukan masa lalu yang indah yang pernah terjadi ditempat ini. Bagaimana denganmu? Mengapa kamu disini?"


" Aku rindu tempat ini,"


" Waktu berlalu dengan cepat, ya."


" Iya, terlalu cepat untuk aku ikuti. Dan kita juga bersama sejauh ini."


" Iya." Jawab Nadia mengangguk.


" Kak Nadia.... Apa kamu masih ingin berjalan di sisiku?" Tanya Fajar memandangi Nadia, begitu pula dengan Nadia. Tatapan mata mereka bertemu, mengingat akan momen pertama kali Nadia bertanya kepada Fajar mengapa Fajar tidak lelah mengejar Nadia. Jawaban Fajar saat itu yang membuat Nadia yakin, dan menerima Fajar disisinya.


Nadia lalu mengahlikan pandangannya, Nadia seolah kaku untuk berkata-kata lagi. Nadia seolah tidak bisa menjawab pertanyaan itu, padahal hatinya ingin mengatakan " masih".


" Jika kakak seperti ini dan tidak bisa menjawab pertanyaan ku. Biarkan aku mengembalikan gelang ini kepada kakak untuk saat ini." Kata Fajar mengembalikan gelang milik Nadia yang sudah di jaga selama ini. Dia meletakkan gelang tersebut disamping Nadia.


" Kita bicara lagi nanti." Ucap Fajar loncat dari atas panggung dari terus berjalan menuju pintu.


Sedangkan berjalan tanpa menoleh, airmatanya terus menerus menetes. Menangisi kisah cintanya yang dia perjuangkan. Dia berhenti, mencoba Manahan pedih. Namun dia tidak menoleh, bahkan kaki melangkah selangkah demi selangkah meninggal kenangan indah yang pernah ada.


Suasana pagi, membuat Sari ingin menikmati pancake manis untuk sarapan paginya. Tiba-tiba datanglah Cantika dan beberapa karyawan duduk bersamanya. Cantika memulai obrolan dengan mengatakan akan ada gosip baru untuk teman-teman karyawan. Sari begitu penasaran akan gosip tersebut, karena sebelumnya sudah dihebohkan akan gosip Nadia yang berpacaran dengan anak magang.


" Gosip kali ini begitu hot, lebih hot dari orang yang pacaran." Ucap Cantika membuat yang mendengar semakin penasaran.


" Apa gosipnya?" Tanya Sari yang ingin segera tahu.


" Gosip itu dari depertemen mu sari. Kamu ini tidak tahu apa! Kalau John akan dipecat oleh perusahaan. Karena dia yang memalsukan dokumen untuk mendapatkan keuntungan dalam pembelian properti." Ujar Cantika.


Sari tidak terkejut namun raut wajahnya sudah berubah, yang tadinya cerah kini menjadi takut. Karena dia juga termasuk orang yang membantu John dalam memalsukan dokumen tersebut. Dan benar saja, seseorang memanggil Sari untuk bertemu dengan direktur. Semua karyawan yang duduk bersama melihat kearah sari, namun Cantika tidak terkejut karena dirinya sudah tahu sejak awal.


" Tanang saja, dia itu tidak dipecat cuma gajinya saja yang dipotong." Ucap Cantika saat sari sudah pergi.


Toni sepertinya ingin menghindari Celina, karena tinggal sehari lagi gadis itu akan meninggalkan perusahaan. Masa magang Celina dan Fajar sudah berakhir mereka akan kembali sebagai mahasiswa seperti biasanya. Toni yang sudah menaruh hati kepada Celina, dia bertanya kepada kepala depertemen QC, apakah perusahaan bisa mempertahankan anak magang untuk bekerja lebih lama. Namun, peraturan seperti itu belum pernah ada. Kecuali anak magang tersebut kembali untuk melamar di perusahaan tempat dia magang. Merasa akan cepat berpisah dia seperti ingin menghindari Celina. Seolah hati akan terasa berat berpisah dengan Celina.


Celina juga menyadari hal itu, dia bahkan bertanya kepada Fajar. Bahkan dia bertanya sikap Toni selama bekerja hari ini. Karena Toni sejak tadi pagi terus menghindar darinya. Namun fajar hanya berkata jika Toni mungkin saja sedang lelah apalagi mereka baru saja lembur untuk mengerjakan produk yang gagal kemarin.


Nadia tetap bekerja namun tidak seperti biasanya, raut wajahnya terus murung. Bahkan dia juga terlihat melamun. Edgar yang duduk disampingnya juga menyadari hal itu. Namun sebagai rekan kerja dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Karena itu adalah masalah pribadi Nadia, Edgar tidak mau ikut campur dalam hal tersebut.


Bahkan Nadia saat didalam kos, dia hanya berbaring, memandangi setiap sudut serta barang yang berada dalam kos tersebut. Seolah ruangan tersebut nampak begitu sesak dan hampa. Banyak kenangan dengan Fajar di dalam kos itu. Membuatnya tidak bisa menutup matanya untuk istirahat dalam lelahnya.


Nadia keluar dari kos itu, membawa gelang miliknya. Dia pergi ke kos Bima, namun kos itu terkunci sepertinya Bima belum pulang kerja. Nadia yakin jika Fajar pasti menginap di kos Bima. Saat keluar dari gedung kost, dia melihat Fajar yang baru saja pulang. Saling memandangi satu sama lain. Namun Nadia lagi-lagi menjadi kaku, dia tidak mengatakan apapun, bahkan untuk bilang rindu pun Nadia seperti susah untuk mengatakannya. Fajar menyudahi tatapan itu dan berjalan tanpa memperdulikan Nadia.


Nadia seperti orang tidak tahu arah, dia berjalan sendirian di malam hari. Namun dia jadi ingat akan gelang miliknya yang dibawa. Dia melihat isi tasnya namun gelang tidak berada disana, Nadia mulai mencari. Dia bahkan menyusuri jalan pulang untuk mencari gelang tersebut. Beruntungnya gelang itu jatuh didepan pintu kos. Dia memandang gelang tersebut dan menangis.