Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 39



Fajar telah sampai di kostnya, namun dia menyadari didalam kantong berisi bonekanya tadi terdapat sebuah kotak surat yang memang dibeli oleh Nadia sebagai kado pernikahan senior mereka yaitu Gilang dan Laras. Menyadari jika itu barang milik Nadia, Fajar segera menghubungi gadis itu. Telfon sudah tersambung, namun dengan jelas Fajar mendengar suara gerutu dari gadis itu. Apa yang terjadi dengan gadis itu, dia terlihat kesal.


" Kak, ada apa?" Tanya Fajar yang mulai merasa khawatir.


" Gak apa-apa. Aku kayaknya gak bisa kesana untuk mengambil barangnya. Kamu kesini saja ya." Ujar Nadia mematikan telfonnya.


Fajar segera mengambil kantong berisi surat itu lalu segera menuju ke kosnya Nadia. Sesampainya disana, Fajar dikejutkan keadaan Nadia yang lumayan sudah basah di bagian celananya. Ternyata kos Nadia sedang mengalami banjir akibat bocornya air di kamar mandinya, sehingga air itu merembes masuk kedalam kamarnya. Fajar yang merasa kasihan ikut membantu Nadia dengan menyelamatkan beberapa bukunya sebelum terkena air. Karena kejadian itu membuat Fajar mencari kesempatan agar Nadia bisa menginap bersama dengannya.


" Basah kuyup seperti ini bagaimana kak Nadia akan tidur." Ujar Fajar.


" Iya nih, semuanya. Kita bersihkan saja dulu. Nanti aku coba menghubungi teman-teman ku yang lain."


Mereka berdua bekerja keras untuk menguras air yang sudah tergenang di kamar kos Nadia. Nadia yang tadinya rapi dengan gaya rambut barunya terpaksa menjadi berantakan akibat harus membersihkan kamarnya yang tergenang air. Nadia mencoba menghubungi Dea, Karin, Prince dan Bagas untuk membantunya, namun sayang karena sedang libur semester keempat temannya itu memilih pulang ke kampung halaman untuk bertemu kangen dengan orang tua mereka. Alhasil cuma tenaga Fajar yang dibutuhkan disini. Hampir dua jam bagi mereka berdua untuk menguras semua air yang tergenang. Beruntung dengan adanya Fajar pekerjaan ini bisa diselesaikan lumayan cepat, dan bahkan Fajar sejak awal sudah sigap mengaman buku Nadia.


" Makasih ya Fajar. Sudah membantu." Ujar Nadia.


" Iya kak, sama-sama. Tapi nanti Kakak nginap dimana sedangkan kasur untuk tidur diangkat tadi."


" Iya ya, aku akan coba hubungi teman yang lain siapa tahu ada yang mau tempatnya untuk aku nginap sementara." Nadia mulai menelfon beberapa teman satu angkatan siapa tahu ada yang bisa membantu untuk sementara menginap bersama mereka. Namun sayangnya, sama seperti para sahabatnya karena ini liburan semester, banyak dari mereka yang pulang ke rumah.


" Bagaimana?" Tanya Fajar melihat wajah gusar Nadia.


Nadia menatap keadaan kamarnya yang berantakan, belum lagi lantainya yang belum juga kering. Alhasil Nadia bingung harus menginap dimana, tidak mungkin dia pulang ke rumah malam-malam begini. Dia memandang Fajar, tidak mungkin Nadia harus menginap ke kamar kosnya Fajar juga. Tapi, bagaimana ini? Tidak mungkin Nadia tidur dengan lantai yang masih basah seperti ini.


" Eum.. kakak Nadia bisa menginap di kamarku kalau mau." Ujar Fajar menawarkan.


" Tapi.." Nadia masih ragu-ragu.


" Gak apa-apa kak. Kamar kos ku luas, aku bisa tidur dilantai. Tenang saja." Ucap Fajar meyakinkan jika dirinya tidak akan berbuat macam-macam kepada Nadia.


Nadia berpikir sejenak dengan melihat keadaan kamarnya, yang tidak mungkin baginya untuk tidur. Dengan menghela napasnya, dia memutuskan untuk menginap sementara di kamar kos Fajar. Dia yakin jika Fajar pria yang baik dan tidak akan melakukan hal aneh kepadanya. Akhirnya mereka berdua menuju kamar kos Fajar yang berada tepat disamping kos Nadia. Nadia melihat kamar kos Fajar, benar kata Fajar jika kamar kosnya begitu luas jadi mereka bisa berbagi tempat.


" Kak Nadia duduklah, aku akan mencari makan malam dulu." Ujar Fajar mengingat mereka berdua belum sempat makan malam karena saking sibuk menguras air yang tergenang di kamar Nadia tadi.


Nadia mengangguk dengan duduk dimeja yang sudah ditata oleh Fajar barusan untuk dijadikan tempat makan buat mereka berdua. Sambil menunggu Nadia melihat kesekitar kamar Fajar, tidak ada spesial di kamar itu. Hanya berisikan buku-buku kuliah seperti biasa, tidak ada stiker atau foto yang terpajang disana.


" Kosong sekali, gak ada hiasan sama sekali." Begitulah komentar Nadia tentang kamar kos Fajar.


Tak berselang lama Fajar datang dengan membawa makan malam untuk mereka berdua. Nadia lalu tersenyum saat Fajar menyiapkan makan malam itu dimeja.


" Ini pesanan kak Nadia." Ujar Fajar yang sudah hafal makanan favorit gadis itu.


Fajar menerima ejekan itu, dan emang itu kenyataan bagi dirinya yang tidak bisa memakan makanan pedas. " Tapi kakak pasti suka yang ini." Ujar Fajar lalu meletakkan minuman susu strawberry kesukaan Nadia. Nadia tersenyum melihat Fajar yang mengerti dengan apa yang di mau.


" Makasih ya." Ucap Nadia.


Mereka berdua mulai makan malam bersama, dalam hati Fajar berasa ingin loncat keluar dari tubuhnya karena saking deg-degan karena dia bisa makan bersama dengan Nadia sedekat ini. Belum lagi malam ini dia akan melihat wajah Nadia terus karena Nadia akan menginap dengannya. Sambil makan Fajar sesekali memandang wajah Nadia, senyuman di wajahnya tidak pudar. Setelah selesai makan, Nadia berencana untuk membantu Fajar, kebetulan dimeja makan mereka nampak kotor akibat ada beberapa siswa makanan yang tumpah serta bekas minuman dingin yang basah.


" Fajar, kamu ada kain gak, biar aku membersihkan mejanya." Ujar Nadia.


" Ada kak, itu di balkon." Ucap Fajar.


Nadia menuju balkon, dia begitu terkejut saat melihat arah balkon kamar kos Fajar yang mengarah ke arah balkon kamarnya. Nadia segera masuk ke kamar, untuk meminta penjelasan dari ini semua. Berarti selama ini Fajar tahu jika kos Nadia berada di hadapannya dan lebih parahnya Fajar pasti melihatnya yang beraktivitas di kamar serta balkonnya karena arah jendela kamar Fajar juga menghadap kearah kamar kosnya.


" Fajar, jadi selama kamu tahu kamar kosku?" Tanya Nadia.


" Iya, aku tahu barusan aku dari kamar kos kakak." Jawab Fajar.


" Bukan begitu, maksud ku kamu sudah tentang kamar kos ku, karena balkon kita berhadapan."


" Ah iya kak, aku pernah lihat kakak menjemur pakaian."


" Sejak kapan kamu tahu hal itu?" Tanya Nadia.


" Sejak awal semester." Jawab Fajar tanpa merasa bersalah.


" Kenapa kamu gak memberitahuku?" Tanya Nadia lagi.


" Karena menurut ku untuk apa aku harus memberitahunya." Jawab Fajar.


" Kamu sengaja ya, supaya kamu bisa memberitahu semua orang tentang tingkah lakuku di kos. Begitu?" Tuduh Nadia sebab dia tahu Fajar pasti ingin mengolok-oloknya karena balas dendam akibat dirinya yang kejam saat menjadi ketua ospek.


" Gak, aku gak seperti itu." Sanggah Fajar.


" Lalu apa?"


" Aku gak mungkin memberitahu semua orang, aku hanya ingin aku saja yang tahu."


Mendengar jawaban Fajar, membuat Nadia menduga jika Fajar memiliki perasaan padanya. " Fajar, kamu belom jujur padaku. Dengan semua kebaikan serta apa kamu lakukan selama ini. Apa kamu punya perasaan pada ku?"