Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 40



" Apa maksud kak Nadia?" Tanya Fajar seolah dia tidak mengerti dengan apa yang Nadia tanyakan padanya. Fajar tidak mau mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu, karena dia tidak mau jika Nadia akan menjauh darinya. Apalagi gadis itu nampaknya tidak memiliki perasaan yang sama dengan Fajar.


Melihat Fajar yang tidak mengerti dengan pertanyaannya, membuat Nadia tak lagi bertanya. Sebab akan canggung bagi mereka berdua jika berada dalam satu atap ketika tahu orang yang bersamanya juga punya perasaan padanya. Alangkah baiknya Nadia mengurung niat untuk bertanya mengenai perasaan Fajar terhadapnya. " Gak jadi. Aku mandi dulu." Ucap Nadia mengambil handuk dan juga pakaian ganti.


Fajar terdiam sejenak, dia berpikir jika apa yang dia lakukan mungkin terkesan jika dirinya mempunyai perasaan kepada Nadia. Fajar yang awalnya hanya ingin mengetahui calon istrinya, kini menyadari semakin hari perasaan semakin berubah. Dia mulai bisa merasakan cemburu saat Nadia bersama dengan pria lain, bahkan dia tidak ingin jika ada orang yang mengetahui kesukaan Nadia selain dirinya. Apakah perasaan yang hanya ingin mengenal dekat Nadia sebagai calon istrinya kini berujung menjadi cinta? Apakah perhatian Fajar yang selama ini dia tunjukan pada Nadia merupakan perasaan sayangnya? Tapi kenapa pernikahan masih ditunda, padahal Fajar sudah mulai membuka hatinya untuk Nadia.


Nadia keluar dari kamar mandi, saat Fajar tengah berdiri di balkon kamarnya sambil menghisap rokok. Pikiran Fajar terusa berkecamuk, makanya dia butuh satu batang rokok untuk menenangkan dirinya. Nadia yang tengah mengeringkan rambut, melihat Fajar yang asyik menghisap rokoknya. Nadia menghampiri Fajar, dan menegurnya, " Hey! Buang putung rokokmu itu. Kamu ini masih kuliah, kamu gak kasihan sama orang tuamu. Udah ngeluarin uang untuk kamu kuliah, kamu malah gak jaga kesehatan begini. Bau juga gak enak." Nadia menutup mulut dan hidungnya dengan tangannya karena dia tidak menyukai bau asap rokok.


Nadia lalu masuk kedalam kamar, dia berbaring lalu mengambil ponselnya. Dia melihat akun media sosial Vino. Vino bukan hanya sahabat, namun juga cinta pertamanya. Dia melihat semua postingan Vino, bahkan ada beberapa postingan Vino saat bersama dengan kekasihnya Chika. Nadia menghela napasnya, berpikir apakah cintanya pada Vino sudah mulai pudar. Awalnya dulu saat masuk kuliah, Nadia begitu terkagum dengan Denis kakak senior mereka yang juga termasuk ketua ospek sebelumnya. Nadia mengira jika perasaan kagum itu merupakan perasaan cinta. Dia saking begitu kagum dengan Denis, Nadia bahkan ingin ikut jejak Denis menjadi ketua ospek. Tetapi saat bertemu dengan Vino, dia menyadari perasaannya memang belum sepenuhnya menghilang. Bahkan rasa kagum terhadap Denis yang dikiranya cinta sudah menghilang, bahkan saat bersama Denis dirinya tidak merasakan apapun. Tapi berbeda dengan Vino, hatinya masih tertuju pada pria itu. Sahabat dekatnya yang sangat dia sukai, meski berunjung menjadi milik Chika sahabatnya. Saking asik dengan ponselnya, Nadia tidak menyadari jika Fajar yang tadi di balkon sudah selesai mandi, melihat Fajar yang sudah rapi dengan pakaian biasa. Nadia meletakkan ponselnya, dan pura-pura untuk segera tidur. Dia masih merasa canggung karena pertanyaanyang dia ajukan barusan.


Fajar memandang Nadia, " Kak Nadia, udah tidur?" Tanya Fajar pelan. Namun tidak ada sahutan dari Nadia. Sepertinya Nadia memang sudah tertidur. Karena tidak mau menganggu Nadia yang sudah tertidur, Fajar dengan pelan megelarkan tikar kecil lalu dengan pelan dia mengambil bantal untuk tidur. Malam yang dingin ditambah hujan yang turun dengan derasnya malam itu. Karena Fajar tidur tanpa selimut, dia yang tidur hanya bermodal tikar saja pastinya akan merasakan dinginnya lantai karena suasana yang dingin. Fajar merengkuh memeluk tubuhnya yang kedinginan. Dia mencari kain atau apapun untuk bisa menyelimuti tubuhnya agar tidak merasakan dingin angin serta lantai yang mulai menusuk kulitnya.


Nadia sedikit membuka matanya melihat pergerakan dari Fajar, terlihat Fajar tengah mengambil jaket dan beberapa lapis yang dijadikan selimut untuk menyelimuti tubuhnya. Nadia merasa dan tak tega, padahal dirinya cuma menumpang sementara di kos Fajar, namun sang pemilik kos ini malah merasakan dinginnya lantai akibatnya. Karena merasa bersalah, Nadia bangun tidurnya dan menghampiri Fajar yang tertidur merengkuh di lantai tepat di kaki dia berdiri. " Fajar, bangunlah." Ucap Nadia pelan mengundang tubuh pria itu yang tertidur sambil menahan dingin udara malam itu. Hujan masih belum berhenti, suasana rasanya begitu dingin saat Nadia membangunkan Fajar.


" Ada apa kak?" Tanya Fajar dengan mata mengantuk.


" Bangunlah, tidurlah di atas kasur." Ucap Nadia.


" Gak, kakak tidur saja diatas biar aku tidur disini." Ujar Fajar menolak karena dia tidak mau Nadia merasakan dinginnya udara malam tidur jika tidur diatas lantai.


" Kakak gak usah khawatir sama aku. Lebih baik kakak tidurlah diatas kasur." Fajar juga bersikeras.


" Gak! Kamu yang harusnya tidur diatas kasur." Ucap Nadia menarik tangan Fajar untuk bangun dan pindah keatas kasur.


" Alangkah baiknya kita berdua tidur diatas kasur." Ucap Fajar karena dia juga tidak mau Nadia merasakan dinginnya udara malam ini. Dia tidak mau gadis itu kedinginan dilantai, apalagi tadi dirinya juga setengah basah karena membersihkan air yang tergenang dilantai kamarnya sendiri. Dia takut jika besok Nadia bisa terkena demam karena dirinya yang membiarkan Nadia tidur dilantai dengan bermodal tikar saja.


" Mana bisa!" Seru Nadia sebab diotaknya sudah berpikir yang macam-macam.


" Aku gak akan menyentuh kakak. Kita pake pembatas dengan batal peluk ini. Daripada kakak harus tidur dibawa lantai dengan tikar ini, aku saja merasakan dinginnya apalagi seorang gadis pasti juga gak bisa menahannya." Ujar Fajar raut wajah terlihat serius seakan ingin membuktikan jika dirinya tidak akan macam-macam kepada Nadia.


Mendengar ujaran Fajar, membuat Andia berpikir dirinya mungkin tidak bisa menahan rasa dingin ini. Bahkan saat dia tengah duduk begini, kulitnya sudah merasakan sensasi dingin udara malam itu. " Baiklah, aku setuju. Kita pake bantal peluk ini sebagai pembatas ya, awas kalau kamu macam-macam!" Ujar Nadia mengancam dengan menggepal telapak tangannya.


" Aku janji, aku gak akan macam-macam kepada kakak." Ucap Fajar mengancungkan dua jarinya sebagai tanpa janjinya.


Mereka berdua naik keatas kasur, Nadia mengatur batal guling ditengah-tengah mereka sebagai pembatas agar dirinya bahkan Fajar tidak melewati batasan itu. " Awas ya kalau kamu sampe macam-macam!" Ujar Nadia sekali lagi sebagai peringatan kepada Fajar.


Fajar hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu membaringkan tubuhnya dengan membelakangi tubuh Nadia yang masih duduk dengan mengatur selimut agar tubuhnya dan Fajar bisa tertutup selimut. Nadia tertidur dengan membelakangi tubuh Fajar.