
Fajar dan beberapa teman sekelas tengah mengerjakan tugas yang kemarin belum sempat diselesaikan, Bima yang sedang bermain ponselnya, dia melihat pemberitahuan di grub kelas mereka jika hasil ujian tengah semester untuk mata kuliah kemarin telah diumumkan melalui papan pengumuman.
" Pemberitahuan di grub katanya nilai ujian tengah semester untukata kuliah kemarin lalu sudah keluar, dan diumumkan melalui papan pengumuman." Kata Bima memberitahukan kepada teman-temannya.
" Kalau begitu, kita pergi sekarang." Ucap yoga.
" Kemana?" Tanya Kevin yang sedari tadi sibuk dengan tugasnya.
" Melihat nilai dong!"
Bima lalu menelfon Mina, dan mengatakan jika dia akan melihat nilai Mina di papan pengumuman. Alhasil teman-temannya yang mendengar mulai menggodanya, Bima yang aslinya pemalu, pipinya mulai memerah saat di goda oleh fajar dan teman yang lain.
Para mahasiswa berkumpul, desak-desakan untuk melihat nilai ujian tengah semester mereka. Nadia bersama dengan Bagas dan Prince yang kebetulan lewat melihat hal itu, Nadia menjadi penasaran, apa yang dilakukan adik semesternyabitu sampai harus berkumpul seperti itu di papan pengumuman.
" Apa yang kalian semua lakukan disini?" Tanya Nadia membuat Fajar dan Yoga menengok karena Nadia berdiri tepat dibelakang Fajar dan Yoga.
" Kita hanya ingin melihat hasil ujian tengah semester kak." Ucap yoga kepada Nadia meski rada takut karena Nadia memasang mimik wajah yang galak.
" Setidaknya kalian semua berbaris, kenapa kalian berdesak-desakan seperti ini. Kalian semua berbaris! Apa kalian lupa dengan apa yang aku sampaikan selama di ospek, hah!" Bentak Nadia kepada semua mahasiswa semester 2 itu. Sedangkan Fajar yang berada dihadapannya hanya bisa senyum, segalak apapun Nadia dimatanya gadis itu terlihat imut.
" Nad, apa kamu kerasukan hantu saat ospek kematian, hah! Kamu sudah membuat mereka takut." Ujar Prince menenangkan Nadia, karena cuma masalah seperti itu saja sahabatnya itu mesti nunjukan raut wajah yang menakutkan.
" Aku begini agar mereka tertib, soalnya aku harus bagaimana lagi." Ucap Nadia yang merasa malu, karena ospek sudah selesai namun dia masih belagak layaknya sedang menjadi panitia ospek.
" Kak Nadia, kamu membuat kami semua takut, jantung kami hampir copot gara-gara bentakan dari kak Nadia." Ujar yoga kepada Nadia. Nadia begitu malu, efek melihat mereka yang tak tertib atau karena dihadapannya ini ada Fajar, dia harus berlagak seperti itu.
" Lalu, bagaimana dengan nilai kalian semua?" Tanya Nadia.
" Lumayan bagus, meski ada beberapa yang gak lulus. Tapi lumayanlah, kata dosennya sih nilai kami dibandingkan yang lain termasuk tinggi." Jawab Kevin.
" Wah! Luar biasa! Kalian memanglah junior yang terbaik, setidak bisa mengalahkan yang lain." Ujar Prince memuji adik semesternya itu.
" Ini berkat kamu yang menjadi ketua panitia ospek saat itu, jika bukan materi yang kamu sampaikan bahkan amarahmu pula, tak mungkin mereka bisa berhasil mencapai nilai yang baik. Bukan hanya itu, jika mereka menyebrangi lautan dan api sekalipun itu gak akan menjadi penghalang bagi mereka. Itulah kenapa ospek dibutuhkan, bukan hanya melatih mental tapi otak pula." Ujar Prince lagi memuji Nadia bahkan dirinya merasa karena pernah menjadi panitia ospek.
" Sebenarnya aku ingin menjadi panitia ospek juga nantinya." Ucap Fajar.
" Apa kamu yakin tentang itu?" Tanya Nadia kepada Fajar.
" Aku.."
" Eh, aku barusan ngelihat pak Jaka barusan berada di kelas. Kita satu pembimbing, kan? Ayo cepat sebelum dia pulang." Ujar Dea yang baru saja datang entah dari mana.
Karena ingin segera konsultasi mengenai skripsi mereka, Bagas dan Prince segera berlari. Saat Nadia yang juga ikutan mengejar, tangannya di tahan oleh Fajar. Fajar dengan perlahan mendekatkan wajah ke Nadia, membuat gadis itu mundur perlahan. Lalu Fajar berbisik, " belajar yang rajin ya kak."
Mendengar itu, Nadia tersenyum tipis, dia merasa salah tingkah saat Fajar melakukan hal itu padanya. Namun mereka tak bisa terang-terangan karena Nadia ingin Fajar membuat perjanjian agar hubungan mereka berdua disembunyikan saja, dia takut jika teman-temannya jika dirinya pacaran dengan juniornya sendiri. Nadia lalu berlalu menuju kelas, Fajar tersenyum senang mungkin ini rasanya pacaran, hatinya Fajar seperti sedang dipenuhi oleh bunga yang bermekaran.
Di warung dekat kos, baru saja pulang dari kampus belum sempat singgah di kosnya. Nadia segera memesan makan malam. Namun dirinya mengubah menu makan malamnya kali ini. Yang biasanya suka minum susu strawberry, kini dia mencoba memesan es kopi yang merupakan minuman yang sering dipesan oleh Fajar, bukan hanya menu makanannya pun dia buat sama olehnya. Saat Nadia bertanya akan pesanan minumannya, ternyata Fajar sudah berdiri didekatnya dengan memesan minuman untuk dirinya sendiri.
"Fajar." Ucap Nadia menyapa pacarnya itu.
" Kakak makan malam disini?" Tanya Fajar kepada Nadia, terkadang Fajar memesan makan malam jarang melihat Nadia makan di warung yang sering ia kunjungi.
Nadia mengangguk, rasanya begitu canggung baginya. " Bagaimana dengan nilai ujian mu?" Tanya Nadia mencari topik pembicaraan, karena rasanya begitu kaku saat berdua dengan Fajar seperti ini.
" Lumayanlah." Jawab Fajar.
" Jika kamu merasa jurusan ini sulit bagimu, alangkah baiknya kamu ambil ekonomi saja. Bukannya itu memang impian kamu, kan? Dan bagiku itu gak salah, jika kamu harus transfer pindah ke jurusan ekonomi." Ujar Nadia memberikan saran sebab jurusan ekonomi adalah jurusan yang Fajar inginkan sebelumnya.
" Aku belajar ekonomi tunggu Pascasarjana saja kak. Untuk saat ini aku gak mau kemana-mana. Karena yang aku suka...itu di sini." Ujar Fajar menatap Nadia Sabil tersenyum.
Lagi-lagi Nadia dibuat salah tingkah oleh Fajar. Dia tersenyum tipis saat Fajar berkata seperti itu padanya. Rasa bahagia itu buyar, ketika sang penjual minuman langganan Nadia tak sengaja membuat minuman susu strawberry kesukaannya. Karena selama ini Nadia selalu pesan minuman yang sama. Meski dia sudah pesan minuman yang berbeda, namun itu tetap membuat si penjual tetap membuat minuman susu strawberry untuknya.
" Aku gak pesan ini." Ucap Nadia kepada si penjual minuman.
" Lalu siapa yang memesan jika bukan kamu." Tanya si penjual karena cuma Nadia sang pecinta susu strawberry dan selalu memesannya setiap hari.
" Aku yang memesan." Ucap Fajar. Fajar memesan minuman itu, karena seperti diawal mereka ingin saling mengenal satu sama lain. Makanya Fajar ingin mencoba apa yang disukai oleh Nadia begitu pula sebaliknya.