Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 29



Fajar tersenyum sambil melihat isi kamar calon istrinya ini. " Kamarmu ternyata berbeda dari apa yang aku bayangkan. Aku membayangkan jika kamarmu ini akan terkesan rapi, namun nyatanya seorang ketua ospek seperti kakak masih katakan sebagai perempuan biasa." ujar Fajar.


" Kamu terlalu banyak menonton tv." ucap Nadia.


Fajar berdiri, dia mendekati koleksi buku komik Nadia yang tertata rapi di rak. "Kakak, ternyata mengoleksi banyak komik ya." ujarnya. Saat Fajar hendak menyentuh komik Nadia, Nadia segera menyeletuk, " Jangan menyentuh nya! kembali kesini. Sok sibuk banget sih!"


Fajar berjalan kembali ke tempat duduknya tadi, namun dia melihat di balkon ada pakaian Nadia masih berjemur disana.


" Pakaian kakak sudah kering tuh, Aku angkat ya!" ujarnya.


Nadia ingin mencegah, namun sayangnya Fajar sudah lebih dahulu menuju balkon. Di balkon dia melihat kearah kosnya, yang ternyata kos mereka berdua saling berhadapan. Fajar tersenyum, dia memang pintar untuk mengambil kos yang bisa berhadapan dengan balkon kamar kos Nadia. Fajar mengangkat pakaian dan mengisinya kedalam keranjang.


Nadia sudah selesai makan, dia cuman bisa melihat Fajar melakukan aktivitasnya. Fajar dengan jeli mengambil setrika, dia berencana untuk membantu menyetrika kan pakaian Nadia. Lagi-lagi Nadia mencegah Fajar, "Apa kamu lakukan?" tanya Nadia.


" Aku akan menyetrika pakaian kakak." jawab Fajar.


" Siapa yang menyuruhmu?" tanya Nadia.


" Kamu bisa menyuruhku sekarang, seperti "setrikaan pakaian sebanyak 54 kali, sekarang!" ujar Fajar meniru gaya Nadia saat menjadi ketua ospek.


Nadia merasa kesal, karena itu. " Aku cuma becanda. Biarkan aku melakukan, mumpung aku masih disini. Aku juga orang tidak tahan melihat pakaian kusut. Jadi boleh, kan?" pinta Fajar.


Nadia hanya bisa mengangguk, dan benar apa yang dikatakan Fajar. Dia tidak mungkin bisa melakukannya sebab kakinya masih belum sembuh.


Dengan telaten, Fajar menyetrika pakaian Nadia. Sambil menyetrika, dia melihat koleksi robot action figure milik Nadia yang terpajang di rak.


" Kakak suka action figure juga?" tanya Fajar.


" Iya, semacam itu." ucap Nadia.


" Aku juga menyukainya, aku dulu pernah meminta ayah ku untuk membeli action figure juga. Namun, ayah menolak sebab terlalu mahal." ujar Fajar.


" Aku juga begitu, tetapi aku mengumpulkan uang dan membelinya satu persatu makanya bisa memiliki beberapa koleksi." ujar Nadia.


" Oh gitu.. Jangan bilang ini menjadi alasan kakak juga untuk masuk fakultas teknik."


" Ah, itu... termasuk sih." ucap Nadia.


Fajar akhirnya mengetahui alasan Nadia masuk ke fakultas teknik yang kebanyakan berisikan kaum lelaki dibandingkan perempuan. Dia juga tidak menyangka gadis yang tegas dan berwibawa itu, suka komik dan action figure dan mengoleksi. Fajar berpikir jika Nadia gadis yang unik dimatanya.


Nadia melihat Fajar yang sangat telaten. Bahkan saat selesai menyetrika pakaiannya, Fajar dengan cermat mengantungi pakaiannya dengan rapi didalam lemari.


" O iya, aku lupa tadi kak Dea bilang kakak harus minum obat sebelum makan." ujar Fajar dengan menuju meja belajar Nadia untuk melihat obat.


Nadia terdiam, dia sudah mengetahui namun sengaja tidak memberitahu Fajar jika dirinya harus minum obat dulu sebelum makan.


Fajar melihat isi obat itu, dan benar saja tertera obat diminum sebelum makan. "Kak Nadia, kenapa tidak kasih sih! lihat obatnya harus diminum sebelum makan. Ini mau bagaimana, toh kamu sudah menyelesaikan. Lain kali tidak boleh begitu, kakak sudah melewatkan satu resep obat. Kalau begitu kapan sembuhnya!" gerutu Fajar karena Nadia yang ngeyel tidak memberitahu jika harus minum obat sebelum makan.


" Bacot banget sih! Aku bukan anak kecil, berhenti memerintah ku! Ingat ya, aku ini senior mu." ujar Nadia dengan kesal.


Ponsel Nadia berdering, terdapat sebuah nama Rian yang menelponnya. Fajar melihat segera bertanya," Kakak m, kenapa tidak mengangkat?"


" Biarkan saja." ucap Nadia.


Fajar yang mulai curiga siapa lelaki yang bernama Rian itu, sebab di pertemanan Nadia hanya ada Bagas dan Prince yang selalu nempel dengannya. Namun, Fajar juga tidak bisa bertanya banyak karena status merek hanya sebatas senior dan junior.


" Aku minta maaf jika sudah membuat kakak sebal dengan keberadaan ku disini. Kalau begitu aku pergi dulu." ujar Fajar keluar dari kamar kos Nadia.


Pagi ini Dea berjalan melintasi area belakang fakultasnya. Tanpa sengaja dia melihat Wawan dikerumuni oleh beberapa cowok. Dengan diam-diam Dea menguping pembicaraan mereka. Ternyata cowok-cowok yang mengelilingi Wawan merupakan dari fakultas lain yang tidak terima dengan kekalahan yang mereka dapatkan. Wawan terus bersitegang sebab sudah ditentukan jika mereka memanglah pemenang dikompetisi basket kemarin. Tidak terima dengan perkataan Wawa, salah satu mahasiswa menghajarnya. Dea segera menghampiri mereka.


" Woi! Apa yang kalian lakukan disini?" bentak Dea.


Namun, para mahasiswa itu tidak takut mereka justru meremehkan dan menantang Dea. Alhasil terjadilah pembullyan akan didapatkan oleh Wawan dan juga Dea. Beruntungnya satpam segera datang, para mahasiswa tadi berlari berhamburan.


" Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Dea membantu Wawan untuk berdiri.


" Hany luka kecil." ucap Wawan.


Tetapi yang dilihat Dea, wajah Wawan terlihat lebam karena efek pukulan yang begitu keras diwajahnya. " Lebih baik aku mengantarmu di UKS." ujar Dea.


Di aula, mahasiswa baru sudah berkumpul untuk mengikuti kegiatan ospek. Para panitia sudah berdiri dihadapan mereka. Fajar melihat Nadia berada disana, nampaknya kaki gadis itu sudah sembuh. Karena Nadia sudah terlihat bisa berdiri dan berjalan dengan baik. Fajar tersenyum, setidaknya rasa khawatir sudah menghilang setelah melihat Nadia berdiri dihadapannya.


" Semua, mohon perhatian. Aku akan mengumumkan jika hari ini pertemuan terakhir untuk kegiatan ospek kita. Tetapi sebelum itu, kita akan merayakan perpisahan. Dimana ada sebuah permainan, yang menjadi ritual untuk mengakhiri kegiatan ini. Jadi hari ini hanya cukup sampai disini. Sampai ketemu lagi di lapangan." ujar Karin yang kali ini memimpin.


Semua mahasiswa baru dibubarkan, namun ada beberapa mahasiswa harus ke kelas untuk mengikuti pembelajaran. Fajar segera mengantikan pakaian bersama dengan teman-temannya. Mereka menuju ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Karena masih lama, mereka bertiga menunggu di kelas. Mina, Gladis dan juga Citra juga baru saja masuk ke kelas.


" Kalian tidak pulang?" tanya Gladis sebab pelajaran masih lama.


" Biar tunggu di dalam kelas saja, sekaligus sambil belajar. Toh, kuliahnya sebentar lagi." ujar Bima.


Fajar mendapat telfon dari Puput. Puput mengajaknya untuk ikut makan malam bersama dengan teman-temannya. Fajar mengiyakan permintaan dari Puput.


" Siapa yang menelfon?" tanya Bima yang kebetulan berada disampingnya Fajar.


" Kak Puput, dia mengajak ku untuk makan malam bersam teman-temannya." ujar Fajar.


Mendengar jawaban itu, Bima malah justru menggoda Fajar.


Tidak berselang lama, Wawan masuk kedalam kelas. " Wan, kamu kenapa?" tanya yoga yang melihat wajah Wawan yang lebam.


" Ah, ada kecelakaan." ucap Wawan.


" Oh iya, panitia ini pertemuan terakhir. Nanti akan ada acara untuk perpisahan." ujar yoga.


" Oh.. makasih sudah memberi tahu." ucap Wawan berlalu.