Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 24



Karin dan Nadia terlihat baru keluar dari ruangan dosen. Nampaknya mereka berdua tengah berkonsultasi mengenai kegiatan ospek mereka.


" Karin, apa habis ini kamu langsung pulang? Kamu tidak makan dulu?" tanya Nadia.


" Kayaknya aku langsung pulang. Aku harus beristirahat untuk kegiatan besok." ujar Karin.


" Eum, Karin.. Makasih ya sudah membantu aku untuk berbicara dengan dosen mengenai posisiku." ujar Nadia.


" Sama-sama. Bukannya itu memang seharusnya nad. Kamu adalah ketua panitia ospek ini. Jadi bagaimana pun juga meski dilengserkan, kamu tetaplah ketua. Aku, Dea, Prince dan Bagas juga sangat setuju jika kamu kembali menjadi ketua." ujar Karin.


" Iya, makasih ya." ucap Nadia sekali lagi.


" Hmm.. kalau begitu aku pergi dulu." ucap Karin lalu pergi meninggalkan Nadia.


Ditempat lain, para mahasiswa baru sedang melakukan acara untuk mereka yang sudah menang dalam kompetisi. Terlihat Mina dan Gladis tengah duduk berdua. Mereka terlihat begitu antusias membicarakan seseorang.


" Suaranya juga indah serta wajahnya begitu manis." ujar Mina dengan tersenyum.


" Iya." ucap gladis.


" Dan saat dia menjawab pertanyaan dari juri terlihat sangat luar biasa." ujar Mina memuji.


Gladis menatap Mina, terlihat wajah Mina bahagia sambil berbicara.


" Min, apa kita masih berbicara tentang Citra, kan?" tanya Gladis.


" Iya, tentu saja. Emangnya siapa lagi yang kita bicarakan." kata Mina.


" Oh, aku pikir kamu membicarakan kontestan yang lain." kata Gladis dengan menyenggol pundak Mina berniat menggoda gadis itu.


" Apa kamu gila! Aku sedang berbicara tentang Citra." ujar Mina.


Yoga berdiri berdua dengan Bima, nampaknya dia melihat Bima terus menatap ke arah Mina yang sedang mengobrol dengan Gladis.


" Hei, sedari tadi kamu terus menatapnya. Lama-lama gadis itu bisa hamil jika kamu terus menatapnya seperti itu." ujar yoga menyenggol pundak Bima agar pria itu segera sadar.


" Apa-apaan sih! emangnya dia ikan mas, ditatap terus langsung hamil." ujar Bima tidak terima.


" Ikan mas? Emangnya ikan mas bisa hamil jika hanya ditatap?" tanya yoga merasa aneh dengan perkataan Bima.


" Sudahlah tidak usah dibahas." ucap Bima.


" Bima, pergilah. Hampir mereka, dari pada kamu menatapnya terus dari jauh." ujar yoga.


" Ah, kamu saja pergi. Biar aku disini saja." ucap Bima.


" Gimana sih! aku yang memintamu." ucap yoga.


" Tapi kalau kesana, aku tidak tahu bagaimana aku harus memulai pembicaraan." ujar Bima yang menyadari jika dia pria yang memang sangat malu jika berhadapan dengan perempuan.


" Kamu tinggal menyapa hai saja. Apa susahnya." ujar yoga.


Gladis terus menggoda Mina, hingga dia melihat Fajar berdiri sendirian. Gladis lalu mengatakan kepada Mina untuk menghampiri fajar setidaknya mengucapkan selamat kepadanya.


" Fajar lagi sendirian tuh, kamu dekati sana. Sekaligus ucapkan selamat." ujar Gladis.


Mina melihat kearah fajar, dia nampaknya malu tetapi bukannya ini kesempatan baginya untuk dekat dengan Fajar.


" Kalau begitu, kau kesana dulu ya." ucap Mina berdiri lalu pergi menghampiri fajar.


" Hay fajar, apa aku sudah terlambat meminta tanda tanganmu?" tanya Mina tersenyum.


" Ayolah.. Jangan berpikir terlalu tinggi seperti itu. Untuk pementasan di tribun bukannya kita juga menang karena bantuan mu juga." ujar fajar.


" Tentu saja. Bukankah fakultas teknik sangat keren." ucap Mina.


" Itu tidak mengherankan jika kita semua ini adalah orang pintar." ujar Fajar terkekeh.


" Bim, lebih baik kamu pergi hampiri si fajar deh." ujar yoga.


" Kamu tidak lihat jika fajar sedang bersama dengan Mina." ujar Bima meski dalam hatinya dia merasa cemburu.


" Emangnya kenapa? Bukannya kita semua ini teman? Ayolah." ajak yoga menarik Bima untuk ikut bersamanya menghampiri fajar dan Mina.


" Maaf mengganggu. Aku ingin mengucapkan selamat kepada fajar. Dia benar-benar hebat, bisa memenangkan kompetisi bintang kampus ini. Aku sampai buat status dimedia sosial dengan hastag team fajar Saputra." ujar yoga dengan menggoda Fajar yang telah memenangkan kompetisi bintang kampus.


" Kamu juga sok dibesar-besarkan." ucap fajar tertawa diikuti oleh tepuk tangan mina serta tawa dari yoga dan Bima.


" Aku dan citra bisa menang itu juga berkat dari dukungan semua orang. Dan satu lagi, kita juga memenangkan kompetisi pementasan di tribun juga berkat bantuan dari Mina. Teman aku ini bukan hanya cantik tetapi juga berbakat. Jadi aku menggunakan hastag team Mina." ujar fajar tersenyum.


Mina yang dipuji, tersenyum malu. "Asal kalian tahu juga bahwa Bima juga sangat hebat. Aku melihat dia mencetak banyak poin. Jadi aku jelas menggunakan hastag team Bima." ujar Mina memuji Bima yang kebetulan berdiri disampingnya.


" Tunggu sebentar. Kalian bertiga ini sudah memiliki hastag masing-masing. Lalu bagaimana dengan ku? Aku tidak?" ujar yoga.


" Eh, apa kalian mendengar seseorang mengatakan sesuatu?" tanya Mina kepada Bima dan Fajar seolah berpura-pura tidak melihat yoga. Pertanyaan itu akhirnya menimbulkan tawa diantara mereka.


" Eh, kamu sudah memiliki banyak teman. Menurutku itu sudah cukup baik." ujar Bima.


" O iya, kayaknya aku harus kembali deh. Soalnya aku udah meninggalkan teman-teman ku terlalu lama." ujar Mina.


" Eum, kalau tidak keberatan bolehkah aku juga ikut bergabung dengan kalian?" tanya yoga.


" Boleh, justru lebih banyak malah lebih baik." ucap Mina.


" Kalau begitu aku juga ikut gabung ya. Tapi aku harus ke toilet dulu sebentar." ujar fajar berlalu diikuti oleh Mina yang kembali duduk dengan Gladis.


" Kamu ini benar-benar ya, mencari kesempatan." ujar Bima tahu maksud dari yoga. Mereka berdua lalu ikut menyusul bersama dengan Mina.


" Ehem, kok cepat banget baliknya. Bagaimana? Udah ada kemajuan belum?" tanya Gladis menggoda Mina yang kembali duduk bersamanya.


" Berhentilah menggodaku." ucap Mina.


" Serius?" tanya Gladis menggoda.


" Diamlah." ucap Mina.


Tak berselang lama, Bima dan yoga sudah berada di dekat mereka. Mina yang menyadari meminta mereka untuk duduk.


" Eum.. Aku permisi ke kamar kecil sebentar ya." ucap Mina.


" Eh, Bima tolong temani dia ya." ucap gladis meminta Bima untuk menemani bima ke kamar kecil.


Bima yang mendengar itu, merasa senang. Bukankah ini kesempatan bagi dirinya untuk bisa berduaan dengan Mina. Walaupun Mina menolak untuk ditemani, namun Bima dengan pintarnya mengatakan jika dirinya bisa menemani Mina karena dia juga ingin berkunjung ke kamar kecil. Akhirnya mereka berdua pergi bersama.


" Oh ya Bima. Bukannya kamu teman dengan fajar sudah dari masa SMA ya?" tanya Mina.


" Oh itu, bukan masa SMA tapi kami berdua sudah berteman sejak SMP. Fajar anak yang cepat bergaul, dia memiliki banyak teman. Dia juga pandai dalam akademik dan olahraga. Menurutku dia sangat unggul dalam segala hal." ujar Bima.


" Ish! Bukannya kamu malah memuji begitu banyak seperti itu. Kamu juga hebat, kamu bahkan punya tubuh yang atletis bahkan kamu bisa memasukan bola berkali-kali dalam ring. Bukan cuma itu kamu juga bisa membantu tim basket mu." ujar Mina.


" Ah, soal badan, dulu badanku kurus kok. Karena terlalu kurus ayahku berusaha mencari susu atau obat untuk gemuk bahkan bukan cuma itu ayah juga sering mendaftarkan aku di berbagai olahraga. Makanya badanku seperti ini." ujar Bima malu-malu.


" Ah, begitu ya. Sejak kapan kalian berdua bisa sedekat itu?" tanya Mina.


" Oh itu, sejak aku ikut kompetisi ternyata aku ditipu dengan menempatkan aku dijuara dia. Beruntungnya ada fajar, dia yang memprotes di depan juri. Jadinya aku bisa di peringkat pertama." ujar Bima.


" Ah, fajar memang selalu ada untuk teman-temannya ya." ujar Mina. Dijawab anggukan oleh Bima.


" Em... Bima... Apa fajar sudah punya kekasih?"


Pertanyaan itu seolah membuat senyuman di bibir Bima memudar. Ternyata gadis dihadapannya ini menyukai sahabatnya sendiri.