Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 6



Nadia sangat kesal dengan Fajar, sudah jelas ke 80 mahasiswa memang tidak hadir di lapangan. Namun, Fajar tetap bersikukuh dengan mengatakan jika ke 80 mahasiswa itu tidak hilang.


" Buka matamu itu! lihatlah hanya 1100 mahasiswa disini. Dan kamu terus mengatakan jika mereka tidak hilang. Matamu buka hah!" bentak Nadia di depan fajar.


Fajar dengan santainya kembali berkata, " Mereka tidak hilang kok. Mereka memang tidak bisa hadir disini secara langsung, namun mereka mengirimkan hati mereka disini."


Perkataan fajar itu membuat semua mahasiswa baru disitu ricuh. Suasana itu membuat Nadia tambah kesal dengan kelakuan fajar.


" Apa kamu bilang mengirimkan hati? Iya, mereka mengirimkan hati untuk kalian agar semangat berlari mengelilingi lapangan sebanyak 10 kali." ujar Nadia.


" Iya, mereka yang tidak hadir sudah memberikan hati mereka untukku. Jadi aku siap jika nanti aku dihukum oleh kakak." ujar Fajar.


" Kenapa mereka mengirimkan hati untukmu?" tanya Nadia.


" Untuk menggantikan hatiku yang sudah kuberikan untuk kakak." ujar Fajar.


Lagi-lagi perkataan itu membuat suasana menjadi ricuh kembali. Bukannya malu karena di gombal oleh mahasiswa baru, tetapi justru membuat Nadia bertambah marah. Menurutnya fajar sudah keterlaluan dia tidak takut sama sekali meski Nadia sebagai senior sudah memberikan hukuman yang memalukan bagi fajar.


" Fajar!" bentak Nadia kepada fajar.


" Iya." jawab fajar.


" Sekarang kamu lari keliling lapangan 10 kali. Cepat!" teriak Nadia.


Tak menunggu lama, fajar menuruti perintah dari Nadia dan segera berlari menuju lapangan. Para mahasiswa baru lain yang tengah duduk hanya bisa melihat kepergian fajar.


" Jangan lihat dia!" bentak Nadia.


Fajar berlari mengelilingi lapangan, panas matahari hampir membuat fajar ingin menyerah. Namun, dia tetap berusaha melakukan perintah dari senior sampai selesai. Baru 3 kali putaran, ada senior yang menjadi panitia kesehatan. Melihat fajar yang berlari dari kejauhan.


" Hei Fajar, istirahatlah dulu." panggil senior itu.


Fajar berhenti berlari dan berjalan mendekati seniornya itu. " Aku baru berlari 3 kali putaran." ujar fajar.


" Gak masalah. Jika kamu melakukannya terus. Bisa-bisanya kamu bisa meninggal." ujar senior itu yang mengkhawatirkan fajar. Bagi senior, kesehatan mahasiswa baru juga penting. Jika terjadi apa-apa dengan mereka, yang akan disalahkan adalah mereka para panitia ospek. Senior itu memberikan fajar air mineral.


" Istirahatlah dan duduk disini." ujar senior itu.


" Kalau boleh tahu, kakak namanya siapa?" tanya Fajar ingin tahu nama senior yang membantunya itu.


" Kamu lupa namaku, kemarin kamu juga meminta tanda tanganku, kan?" tanya senior.


"Ah, Kak Fani." ujar fajar teringat nama seniornya ini.


" Kalau begitu, kamu duduklah. Aku kesana dulu." ujar senior bernama Fani itu berlalu.


Fajar duduk, tubuhnya mengahasilkan banyak keringat. Fajar meneguk air mineral itu. Fajar merasa kelelahan, sebab matahari terik dia harus berlari berkeliling lapangan. Tak berselang lama, Nadia datang menghampiri fajar. Fajar segera berdiri saat Nadia sudah berada dihadapannya.


" Belum." jawab fajar.


" Lalu kenapa kamu berhenti?" tanya Nadia, ekspresi wajahnya tidak berubah masih datar, tidak ada rasa khawatir sama sekali terhadap fajar.


" Kak Fani meminta ku untuk berhenti dan beristirahat. Kebetulan kak Fani merupakan senior ku. Jadi apa salah jika aku mendengar perkataan orang yang lebih tua?" tanya Fajar kembali kepada Nadia.


" Jangan menjadikan itu alasan. Mendengar omongan orang yang lebih tua, omong kosong!" ujar Nadia dengan wajah datar menatap wajah fajar. Begitu pula fajar juga tidak berhenti untuk memandangi wajah Nadia. Kesempatan baginya menatap lebih lama wajah calon istrinya itu.


Semakin hari, mahasiswa baru yang hadir mengikuti kegiatan ospek makin menurun. Sebab beberapa mahasiswa baru, banyak yang menolak untuk mengikuti ospek. Karena bagi mereka kegiatan ospek itu bukannya mendidik melainkan menyiksa para mahasiswa baru. Sebab itulah banyak para mahasiswa baru yang tidak hadir mengikuti ospek. Senior yang merasa kegiatan yang mereka lakukan itu membuat banyak mahasiswa baru yang tidak mengikuti. Ditambah rumor tentang ospek mulai menyebar ke seluruh media sosial. Bahwa kegiatan itu bukannya mendidik atau mengenalkan mahasiswa baru dengan dunia kampus, justru lebih fokus menyiksa para mahasiswa baru. Senior yang menyadari itu, tidak hilang akal. Mereka mencoba mencari cara agar mahasiswa baru kembali mengikuti kegiatan ospek.


Setelah meminta semua mahasiswa baru untuk pulang. Para panitia segera berkumpul dan berdiskusi.


" Sekarang, aku dengar banyak mahasiswa baru yang gak mengikuti kegiatan ospek." ujar Karin mengawali diskusi mereka.


" Kalian juga pasti tahu, rumor tentang ospek sudah menyebar ke Facebook dan jaringan sosial lainnya." ujar salah satu senior bernama Bagas.


" Bahkan seorang mahasiswa baru juga mencoba menghindar kontak mata denganku." ucap prince terdiam sejenak. Lalu, " Aku ragu, bisa saja merek naksir padaku."


Disaat yang lain sedang serius, prince malah berkata seperti itu. Membuat suasana menjadi ramai. Bahkan Fani begitu kesal mendengar ucapan prince.


" Aku rasa kamu butu sebuah kaca." ujar Bagas kesal, ketika dia sudah serius memikirkan solusi dari masalah yang mereka hadapi.


" Kenapa kita tidak paksa mereka untuk mengikuti kegiatan?" ujar Dea yang kesal dengan mahasiswa baru yang menyepelekan kegiatan ospek.


" Santai dong dea." ujar Karin.


Prince kembali berulah, dia mendekati Bagas. " Eh, omong-omong. Junior yang tampan itu, siapa namanya?"


" Aku juga ingin membahasakan tentang junior itu. Bagaimana bisa kamu Nadia bisa membiarkan anak itu melakukan hal itu padaku?" tanya Dea kepada Nadia yang duduk dengan wajah serius. Dea memang terlihat galak, dibandingkan panitia lainnya. Dea teringat kembali dimana Fajar terus membatah perkataan dari Nadia. Seolah fajar tidak menghargai seniornya.


" Aku sudah menghukumnya sesuai dengan aturan kita. Apa yang kamu ingin aku lakukan?" kata Nadia kesal karena menurutnya dia sudah menghukum fajar sesuai dengan aturan.


" Persetan dengan aturan! Sudah jelas bahwa kita tidak bisa mengendalikan mereka. Kamu harus lebih kasar padanya." teriak Dea kepada Nadia. Karian mencoba menenangkan Dea, dea benar-benar tidak terima dengan Nadia yang terlalu lembek terhadap fajar.


" Menurutku apa yang dilakukan Nadia sudah terlalu kasar. Ingat para dosen memantau semua kegiatan kita." ujar Fani.


" Tenanglah semuanya. Kita bisa mengajarkan mereka, mungkin para mahasiswa baru masih belum tahu pasti tentang kegiatan ospek ini." ujar Karin.


" Benar, aku setuju. Kita harus terus memberikan mereka arahan tentang kegiatan ospek ini." kata Nadia menimpali.


" Buat apa lagi. Aku rasa mereka semua udah paham dengan kegiatan ospek ini. Justru yang harus kita lakukan kita lebih tegas dan mempertegas kan kepada mereka bahwa kegiatan ospek ini penting." kata dea.


Bagas menyadari Dea masih tersulut emosi. Dia mengambil air mineral dan memberikan kepada Dea. Agar gadis itu bisa tenang. Dea hanya menerima air mineral itu namun tidak meminumnya. Bagas hanya terdiam, padahal dirinya sudah menunjukan perhatian kepada Dea.


"Dengar Nadia, aku tidak mau hal seperti tadi terulang lagi. Ingat kita harus tunjukan kepada mereka siapa yang berkuasa. Ingat, kita adalah senior sedangkan mereka hanya junior." ujar Dea kepada Nadia.