Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 8



Gara-gara nongkrong semalam, fajar hampir saja bangun terlambat. Beruntungnya sebelum tidur dia menyetel alarm dengan suara yang keras. Sebelum mandi, dia mengecek keadaan Bima sebab semalam Bima dibuat mabuk oleh para senior mereka. Karena fajar yang mengantar Bima semalam, jadi kamar kos Bima tidak terkunci. Sehingga Fajar bisa masuk ke kamar kos Bima.


Bima masih ngorok di kasurnya, segera fajar menghampiri dan membangunkan sahabatnya itu. " Bangun Bima! Kita bakalan telat," ujar fajar menggoyangkan tubuh Bima.


Bima terkejut, dia melihat sekitar kamar kosnya. Dia melihat fajar yang duduk disampingnya. " Bangunlah, kamu bisa telat ke kampus. Mau dihukum sama panitia, hah?" ujar fajar dan berlalu meninggalkan Bima dengan mata yang masih mengantuk.


Fajar segera mandi dan bersiap-siap. Dia tidak mau telat untuk mengikuti kegiatan ospek. Sebab dia tidak mau menjadi bulan-bulanan para panitia seniornya. Sebelum berangkat dia menatap foto Nadia yang ada di laci kamarnya. Dilihat foto itu begitu lama, sebagai bentuk kecewa terhadap calon istrinya itu. Dia tidak menyangka jika Nadia sudah mulai mengikuti pergaulan bebas anak-anak Jakarta meski gadis itu tidak ikut-ikutan mabuk.


" Tunggu saja kalau sudah jadi istri ku!" ujar Fajar menatap foto Nadia.


Para panitia ospek sudah berkumpul di aula sebelum para mahasiswa baru memasuki aula. Dea dengan ekspresi wajah seperti orang marah datang menghampiri Nadia.


" Nadia, untuk hari ini biarkan aku yang berbicara dengan mahasiswa baru." ujar Dea, sebab dia teringat kejadian dimana Nadia dan Fajar. Dea merasa jika fajar tidak menghormati Nadia sebagai senior.


Nadia hanya mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan Dea. Biarkan Dea yang menghadapi sendiri mahasiswa baru yang membangkang itu. Para panitia sudah berdiri siap, dimana Dea berada di depan. Wajah mereka seperti awal pertemuan, tegas tanpa senyuman di wajah mereka menandakan mereka tidak main-main dengan kegiatan ospek ini.


Para mahasiswa baru memasuki aula, satu persatu. Dea menatap tajam satu persatu mahasiswa baru yang masuk ke aula. Karena Nadia sebagai ketua, mau tidak mau dia duluan yang harus berbicara untuk menyambut mahasiswa baru yang hadir.


" Hari ini aku akan berbicara tentang rasa hormat terhadap para senior kalian. Namun, hari ini bukan aku yang akan berbicara melainkan kak Dea akan mengajarkan itu kepada kalian." ujar Nadia dengan wajah yang masih sama.


Dea berdiri dengan tatapan tajam, menatap semua mahasiswa baru hadir.


" Aku tidak perlu mengucapkan kata sambutan kepada kalian. Aku akan berbicara langsung pada intinya. Kenapa hari ini kita membahas tentang rasa hormat terhadap senior. Karena aku ingin kalian semua bahwa sebelum kalian datang ke kampus ini, kami para senior yang terlebih dahulu datang kesini. Jadi kami ini sudah memiliki pengetahuan, pengalam bahkan cara pandang yang lebih dari kalian semua. Kenapa ada ospek ini? karena kami yang sudah berpengalaman ini, ingin mengenali kalian semua tentang dunia kampus. Maka kalian sebagai junior, yang kalian berikan kepada kami ialah rasa hormat." jelas Dea masih dengan tatapan yang sama.


"Dan pagi ini! seorang junior baru saja berjalan melewati ku dan tidak menunjukkan rasa hormatnya sama sekali." ujar Dea lagi menimbulkan tanda tanya bagi para mahasiswa baru. Bahkan Bima menyenggol yoga, siapa tahu jika orang itu adalah yoga. Namun, yoga menggeleng, bukan dia orangnya.


" Jika kamu merasa bahwa baru saja aku membicarakan mu. Maka aku pinta kamu untuk segera berdiri." ujar Dea tetapi tidak ada mahasiswa yang mau mengakui itu.


" Aku sudah berbicara baik, namun belum ada yang mengaku. Maka kalian semua berdiri!" teriak Dea. Namun, mahasiswa baru masih sibuk mencari siapa dari mereka yang tidak menyapa Dea pagi ini. Dea yang merasa diabaikan kembali membentak, " Aku bilang berdiri!"


Alhasil suara bentakan Dea, membuat semua mahasiswa baru segera berdiri dari tempat duduknya.


" Kalian semua lakukan push up sampai ada yang mau mengaku!" Bentak Dea.


Flashback tadi pagi Dea baru saja sampai di kampus, di halaman kampus dengan kameranya dia membidik objek yang menurutnya bagus untuk di jadikan potret. Dea tersenyum menatap objek yang baru saja diambilnya dengan kamera. Dea berjalan mencari objek yang lain, namun didepannya ada seorang mahasiswa baru yang berjalan melewatinya dengan menggunakan headset tanpa menengok ke arah Dea yang tersenyum kepadanya. Mahasiswa baru itu ada Wawan, karena tidak respon dari Wawan. Dea yang berjalan berlawan darinya itu menatap tajam kearah Wawan. Mood Dea yang tadinya bagus, lalu berubah ketika perlakuan wawan yang menurutnya tidak menghormatinya sebagai seorang senior.


Mahasiswa baru mulai melakukan push up, namun tidak bagi Wawan. Dia mulai menyadari jika dirinyalah yang dibicarakan oleh Dea. Wawan segera berdiri dan bertanya, " Apa yang kakak bicarakan itu aku?"


Para mahasiswa baru yang melakukan push up tiba-tiba berhenti. Sebagian mahasiswa baru yang berada di dekat Wawan mulai menjauh, sebab Dea berjalan mendekati Wawan. Tatapan matanya masih sama. Nadia yang takut jika Dea akan mengamuk mengikutinya dari belakang. Dea berdiri tepat dihadapannya tatapannya tajam menatap wajah Wawan.


" Semuanya boleh duduk." ujar Dea dengan wajahnya masih menatap tajam Wawan.


" Kenapa kamu tidak beri hormat padaku?" tanya Dea kepada Wawan. Namun, Wawan tetap diam dan tidak bergeming sama sekali.


Dea kembali bertanya dengan nada yang penuh penekanan. " Aku tanya padamu. Kenapa kamu tidak hormat padaku?"


Tetap saja, Wawan tidak menjawab dia justru menatap tajam kearah Wawan.


" Apa kamu bodoh hah!" bentak Dea.


" Kenapa aku mesti hormat padamu, hah!" teriak Wawan balik kepada Dea.


" Aku seniormu. Kamu seharusnya menunjukan rasa hormat kepadaku." bentak Dea.


" Hormat? Emangnya aku berhutang padamu? Kenapa aku harus memberi hormat kepadamu?" ujar Wawan tanpa rasa takut kepada Dea.


Para mahasiswa baru serta panitia lain hanya bisa menonton. Mereka tidak bisa melerai, baik panitia sendiri, Dea merupakan orang keras kepala. Jadi mereka hanya bisa menonton melihat Dea yang mengajarkan kepada mahasiswa baru itu tentang rasa hormat yang sebenarnya.


Dea sangat marah, karena Wawan terus melawannya. " Aku lebih tua darimu! Maka kamu harus menghormati ku!" teriak Dea menunjukan jari telunjuk di wajah Wawan.


Wawan hanya menyinggung senyum, benar apa dipikirannya. Percuma dia hadir disini, para senior itu menginginkan hormat dari para mahasiswa baru. Jika bukan karena fajar yang memaksa tadi pagi untuk ikut kegiatan ospek mungkin dia tidak akan berhadapan dengan senior yang gila rasa senioritas ini.


" Jika kamu hanya menginginkan aku hormat padamu. Baiklah aku akan hormat kepada mu. Untuk mengakhiri semuanya." ujar Wawan, meski dalam hatinya dia begitu tak Sudi melakukannya. Namun, dia juga tidak mau jika teman-temannya bakalan menanggung beban akibat dirinya yang membangkang.


Wawan segera menunduk kepalanya sebagai bentuk hormat kepada senior. Namun, Dea masih belum menerima bentuk hormat itu. Karena baginya Wawan tidak melakukan dengan hati. Alhasil Dea malah justru marah dan mengusir Wawan keluar dari aula. Melihat Dea yang begitu marah, Nadia segera menarik tangan Dea. Untuk segera menjauh dari situ.