Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 68



Nadia sudah berada di tempat kerjanya, begitu dengan Fajar yang kembali sibuk dengan kegiatan ospek di kampus. Begitulah kehidupan mereka berdua sebagai sepasang suami istri. Suaminya sibuk dengan kegiatan di kampus sedangkan istri sibuk bekerja. Mereka berdua akan bertemu ketika menjelang malam, namun hanya sekedar berbicara bahkan makan malam bersama, tak bisa bagi mereka untuk mencurahkan rasa sayang dan cinta mereka karena setelah itu mereka akan melakukan tugas mereka kembali masing-masing, Seperti Fajar yang sibuk dengan laporan atau mungkin Nadia juga sibuk mengejar deadline yang belum selesai. Mungkin menurut pasangan lain, kehidupan rumah tangga yang seperti itu sangatlah membosankan. Tapi mau bagaimana lagi mereka menikah di usia muda, mereka ingin juga menikmati kehidupan mereka masing-masing dan tugas mereka imbangi, baik Fajar dia juga harus tetap meneruskan kuliahnya meski statusnya sekarang sudah menjadi seorang suami.


" Kak John, ini dia dokumen pesanan pembelian. Mungkin kakak bisa cek dulu." Ucap Nadia setelah dia selesai mengerjakannya dan memberikan itu kepada John rekan kerjanya.


John mulai mengecek dokumen yang di kerjakan oleh Nadia, dia memuji karena dokumen yang kerjakan Nadia begitu bagus menurutnya. " Padahal kamu baru bekerja disini. Tapi perkembangan mu cepat juga ya." Puji John lagi untuk Nadia.


Nadia tersenyum malu, tak menyangka jika dirinya bisa mendapatkan pujian seperti itu. Tak sia-sia bagi dirinya untuk baca buku dan mempelajari ilmu tentang pekerjaan. " Makasih ya kak." Ucap Nadia.


" Begini saja. Siang ini kamu ikut kakak. Kakak akan mengajak mu bertemu dengan sales executive." Kata John, setidaknya dengan perkembangan Nadia yang baik seperti ini tak salahnya dia mencoba untuk mengekspor lebih jauh pekerjaan Nadia, agar gadis itu lebih memahami lagi tentang pekerjaannya di bidang pembelian.


Nadia begitu terkejut, dia beberapa hari bekerja namun John sudah meminta untuk bertemu dengan sales executive, takutnya dia salah dalam melakukan pekerjaan itu. Dan juga sang manajer, Danang memerintahkan pekerjaan itu kepada John saja. Jangan sampai Danang tidak terima dengan keputusan yang diberikan oleh John. Namun John menyadari ekspresi wajah Nadia itu, dia yakin jika Nadia takut dengan manajer mereka.


" Gak apa-apa, kamu gak perlu takut. Biar aku yang membicarakan itu kepada pak Danang. Aku akan bilang jika aku akan mengajak mu bertemu sales executive, apalagi jika bertemu dengan bagian penjualan itu akan lebih bagus untuk mu. Biar kamu kamu lebih banyak belajar." Kata John. Setidaknya sebagaimana rekan kerja, dia juga harus membantu rekan kerja yang lain.


Nadia begitu senang mendengarnya, beruntung bagi Nadia memiliki rekan kerja yang saling mendukung seperti John. " Makasih ya kak." Ucap Nadia setidaknya dia sangat berterima kasih kepada John, karena telah mendukungnya untuk lebih belajar dan berkembang untuk pekerjaan meski pekerjaan ini adalah bagian baru dalam hidupnya.


" Santuy aja. Kerja bersama ku menyenangkan, bukan?" Ucap John kepada Nadia.


Berbanding kebalik dengan sang istri yang mendapatkan pujian atas kerjanya. Justru Fajar yang sudah menjabat sebagai ketua ospek harus menyelesaikan masalah yang terjadi akibat salah satu mahasiswi yang tak mau mengikuti kegiatan ospek. Fajar melihat mahasiswi bernama Diva itu tengah membaca sebuah buku, terlihat dia duduk sendirian. Fajar menghampiri gadis itu, mungkin dengan melakukan pendekatan gadis itu bisa luluh dan mengerti kegiatan ospek ini untuk dirinya sebagai seorang mahasiswa.


" Boleh aku duduk disini?" Tanya Fajar meminta izin takutnya Diva tak suka jika Fajar duduk begitu saja dihadapannya.


Diva melihat, dan menutup bukunya yang sedang dia baca, " silakan." Ucapnya.


Setelah di persilahkan, Fajar lalu duduk dihadapan Diva. Dia melihat diva sepertinya membaca sebuah buku yang pernah dia baca sebelumnya. Bagus untuk dirinya, agar bisa basa-basi dengan mahasiswi baru itu.


" Aku membaca buku ini karena aku ingin menambah ilmu saja. Namun, jikalau kamu tertarik dengan ekonomi, kenapa kamu harus mengambil jurusan teknik?" Tanya Diva karena terlihat Fajar sangat mengetahui isi buku dia baca, sepertinya seniornya itu begitu tertarik dengan ekonomi.Tetapi kenapa dia memilih jurusan teknik.


" Aku juga suka dengan teknik. Tapi untuk ekonomi aku sudah memikirkan jika aku akan belajar saat aku S2 nanti." Jawab Fajar, meski perencanaan itu masih belum dia bicarakan dengan Nadia.


" Lalu, apakah ada yang ingin kamu katakan kepadaku?" Tanya Diva, karena dia tahu Fajar duduk dihadapannya bukan hanya sekedar menanyakan buku yang dia baca melainkan pastinya membicarakan hal lain.


" Ini tentang kegiatan ospek." Ucap Fajar.


" Jika ini tentang ospek, bolehkah aku bertanya melalui sudut pandang ku?" Tanya Diva. Dia ingin tahu lebih jelas tentang kegiatan yang menurutnya tak masuk diakal dan dia ingin tahu kenapa senior baik fajar maupun Kevin terus memaksanya untuk mengikuti kegiatan itu. Fajar lalu mengangguk, dia ingin dengar apa yang ditanyakan oleh juniornya ini.


" Kegiatan yang kalian lakukan, sebenarnya aku gak memandang semua kegiatan itu dengan buruk.aku melihat ada beberapa poin yang bagus menurut ku, yang kamu dan teman-temanmu sampaikan kepadaku dan juga mahasiswa baru yang lain. Namun, perihal yang membuat ku gak berpartisipasi di kegiatan itu adalah hak ku. Dan aku hanya menggunakan hak ku untuk memilih antara mengikuti sistem yang berlaku atau gak mengikutinya." Kata Diva menjelaskan tentang apa yang membuatnya tak ingin berpartisipasi dalam kegiatan ospek yang seniornya adakan.


" Aku mengerti apa yang kamu maksud. Aku mengerti meski kita memiliki pemikiran yang berbeda. Tapi, walaupun pemikiran kita berbeda. Kita masih bisa sejalan." Kata Fajar.


" Bagaimana caranya?" Agak membingungkan, mereka berdua berbeda pemikiran namun bisa sejalan. Lalu bagaimana caranya dia orang beda pemikiran bisa sejalan dengan pemikiran yang berbeda itu.


" Dengan rasa saling menghargai, aku menghargai pemikiran mu. Dan kamu sudah tahu apa tujuan ku untuk para mahasiswa baru. Kami melakukan itu bukan untuk memenuhi keinginan kami. Namun, kami melakukannya untuk membuat kalian belajar, bagaimana hidup di lingkungan kampus. Yang dimana latar belakang serta pemikiran yang berbeda. Aku ingin kalian beradaptasi secepat mungkin di dalam lingkungan kampus, makanya itu dibuat melalui kegiatan yang disebut dengan ospek." Kata Fajar setidaknya agar di a memahami seperti apa kegiatan ospek itu sebenarnya.


" Aku mengerti. Tapi, itu semua gak bisa diterapkan untuk semua orang seperti yang kamu inginkan." Ucap Diva, karena baginya hal itu tak bisa diterapkan untuk dirinya.


" Seperti yang aku katakan sebelumnya, rasa untuk saling menghargai. Aku menghargai setiap pemikiran baik itu pemikiran mu. Namun, aku berharap kamu juga dapat menghargai pemikiran ku juga. Coba pikirkan lagi ya. Aku ingin kamu berada di acara penutupan tepatnya saat perebutan bendera bersama teman-teman mu nanti." " Kata Fajar lalu beranjak pergi. Dia yakin Diva dapat menghargainya, dan berubah pikiran untuk kembali mengikuti kegiatan meski di kegiatan penutup. Tapi, setidaknya masalah ini sudah berakhir. Dan dirinya bisa kembali melakukan aktivitasnya lagi sebagai kegiatan ospek.