Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 30



Nadia bersama teman-temannya selalu panitia ospek mulai berdiskusi mengenai persiapan hari perpisahan ospek yang nantinya akan dilaksanakan.


" O iya, bukannya setelah acara kita akan adakan liburan bersama." Ujar Bagas mengingat jika setiap tahun setelah selesai kegiatan ospek, panitia serta mahasiswa baru melakukan liburan bersama untuk mempererat tali persaudaraan mereka.


" Iya juga, aku hampir saja dulu. Tapi mau bagaimana lagi, kegiatan ini harus disudahi sebab tidak ada persetujuan dari dekan." Ujar Prince.


" Mau bagaimana pun juga kegiatan liburan harus diadakan. Apa kita tetap mengadakan saja meski tanpa persetujuan dari dekan?" Kata Dea memberi usul.


" Itu ide yang buruk dan sangat beresiko. Lebih baik kita ikuti saja apa yang sudah diperintahkan oleh dekan." Ujar Karin karena dirinya tidak mau mengambil dengan ide yang dituturkan oleh Dea.


" Menurutku ide ada baiknya loh. Masa kita udah capek-capek melakukan kegiatan ini tanpa ada healing. Dan para junior juga pasti senang dong." Ujar Bagas menyetujui ide dari Dea.


" Gak, gak bisa. Ide itu terlalu beresiko." Sanggah Karin tetap tidak menerima ide dari Dea.


" Aku juga berpikir yang sama. Ide itu terlalu beresiko, malah justru terkesan kita sudah melawan perintah dari dekan. Sekarang kita pikirkan acara untuk perpisahan, dan untuk liburan. Kita harus pikirkan ide agar dekan dan dosen menyetujui ide tersebut." Ujar Nadia mengakhiri pertemuan mereka.


Fajar sedang mempersiapkan dirinya untuk makan malam bersama para senior. Dia tidak perlu berpenampilan menarik, yang penting penampilan rapi itu sudah cukup baik untuknya. Fajar mengenakan baju kemeja putih dan celana hitam, terkesan seperti orang yang ingin melamar pekerjaan. Tetapi bagi Fajar penampilan seperti ini, merupakan yang sopan apalagi dihadapan para seniornya.


Fajar mengecek pesan yang dikirim Puput untuk pertemuan makam malam. Sebelum berangkat, Fajar mengintip kos Nadia. Nampaknya gadis itu belum pulang, sebab kamar kosnya masih gelap. Fajar tersenyum membayangkan dirinya yang pernah menjaga Nadia. Lalu dia segera menuju pintu untuk pergi makan malam bersama seniornya.


Tibalah Fajar disebuah restoran prasmanan, Fajar segera menghampiri Puput yang sudah lebih dahulu hadir bersama dengan para senior yang lain. Melihat kehadiran Fajar, Puput meminta Fajar untuk duduk disampingnya. Tak lupa dia memperkenalkan Fajar kepada senior yang hadir.


" Hallo kak, aku Fajar mahasiswa baru di fakultas teknik." Ucap Fajar memperkenalkan dirinya.


" Oh ya, Fajar kamu yang menang kontes kemarin, kan?" Tanya salah satu senior yang bernama Laras.


" Iya kak." Jawab Fajar tersenyum.


" Pantasan menang. Emang aslinya terlihat tampan." Ujar Laras memuji Fajar. Membuat Fajar tersenyum malu-malu.


" Berhentilah menggodanya! Ingat usiamu itu lebih tua setengah abad darinya." Ujar salah satu senior bernama Galang.


" Apaan sih Lang! Cuma beda 3 tahun doang. Dianya baru masuk, akunya udah mulai keluar." Ujar Laras.


" Ingat, skripsi belum di ACC." Celetuk Puput.


Fajar yang berada bersama hanya bisa tertawa dengan canggung.


" O ya, aku ajak junior juga. Kebetulan aku dulu pernah satu kelompok dengannya saat mata kuliah ulang." Ujar Galang.


" Boleh, lebih rame malah justru bagus." Ucap laras.


Tak berselang lama, junior yang Galang maksud sudah tiba. Fajar lumayan terkejut ternyata orang itu adalah Nadia. Nadia datang masih mengenakan jas almamaternya, sepertinya gadis itu dari kampus langsung menuju kesini.


" Hay kak.. apa kabar?" Sapa Nadia kepada Galang. Tak lupa dia juga menyapa yang lain. Melihat ada Fajar disitu, Nadia tidak menggubris dan bersikap seolah masa bodoh.


" Justru aku yang harus nanya pertanyaan itu ke kamu. Soalnya setiap ke kampus kita gak pernah ketemu. Bahkan datang ke makan malam saja, kamu masih mengenakan almamater." Ujar Galang.


" Ah, biasalah aku sibuk beberapa hari. Maklumlah sekarang aku menjabat sebagai ketua panitia ospek, jadi sibuk banget. Apalagi sekarang lagi masih sibuk untuk persiapan acara perpisahan nanti." ujar Nadia.


" Pantasan saja kamu kesini mengenakan almamater." ucap Galang.


" Iya, kebetulan habis rapat, jadi langsung kesini. Kalau begitu aku ambil makanan dulu." ujar Nadia meletakkan jas almamaternya lalu pergi mengambil makanan.


Melihat kepergian Nadia, Fajar juga pamit karena dia juga ingin mengambil beberapa daging. Sebab, makanannya sudah diambil oleh Puput.


" Kak, aku kesana sebentar ya." ucap Fajar.


Nadia tidak merespon, dia hanya melihat Fajar sekilas namun masih sibuk memilih makanan.


" Mau aku bantu?" tanya Fajar menawarkan bantuan.


Nadia memberikan piring untuk dibawakan oleh Fajar, lalu kembali memilih makanan dihadapannya.


" Kak, kaki kakak sudah membaik?" tanya Fajar.


" Iya." jawab Nadia.


" Syukurlah, setidaknya rasa khawatir ku bisa lega setelah mendengarnya." ujar Fajar membuat Nadia menoleh melihatnya.


" Apa maksudmu?" tanya Nadia menatap Fajar dengan tajam.


" Tidak apa-apa." jawab Fajar tersenyum.


Setelah selesai mereka kembali duduk bersama para senior, tiba-tiba didepan meja Fajar sudah ada cewek yang satu angkatan dengannya. Fajar menyapa cewek itu. " Hay, kamu juga disini."


" Iya, kak Gilang yang mengajak." ujar cewek bernama Sinta.


Fajar hanya mengangguk mengerti. Mereka akhirnya memulai makan makan sambil mengobrol.


" O ya, aku mau tanya kepada kalian berdua. Apa alasan kalian memilih fakultas teknik?" tanya Gilang kepada Fajar dan Sinta.


" Kalau aku karena rumahku lumayan dekat dengan fakultasnya." jawab Sinta sambil menikmati daging yang baru dipanggang.


" Kamu kamu fajar? Jangan bilang alasan juga karena rumahmu dekat." tanya Gilang kepada Fajar.


"Tidak kak. Aku sebenarnya menginginkan masuk fakultas ekonomi. Karena keinginan ayahku, makanya aku memutuskan untuk masuk fakultas teknik." ujar Fajar yang sedikit sebab dia masuk ke fakultas teknik hanya untuk melihat Nadia calon istrinya.


" Berarti tahun depan kamu akan pindah? Tenang saja Fajar, aku tetap menganggap mu sebagai junior meski nantinya kamu harus pindah jurusan." ujar Galang.


Nadia yang mendengar perkataan Fajar, hanya bisa melirik tanpa mengucapkan kalimat satu katapun.


" Fajar, alangkah lebih baiknya kamu pindah saja. Karena kalau kamu menjalani belajar sampai 4 tahun di fakultas yang kamu gak sukai itu akan membuat mu terasa sulit. Jadi lebih baik kamu pindah ke fakultas yang kamu suka." ujar Laras menasihati Fajar.


" Iya, akan aku pertimbangkan." ucap Fajar sambil tersenyum.


Ditempat lain Wawan tengah membeli obat di apotik untuk menyembuhkan luka lebam akibat perkelahian tadi pagi. Tak sengaja Dea juga mengunjungi apotik.


" Selamat malam kak." Sapa Wawan melihat Dea yang baru saja masuk kedalam apotik.


" Ah iya, selamat malam. Kamu membeli obat untuk luka lebam mu?" tanya Dea melihat Dea melihat Wawan menenteng tas plastik berisikan obat.


" Iya kak. Kalau begitu aku permisi dulu." ujar Wawan hendak keluar dari apotik.


" Eum.. tunggu sebentar.." ucap Dea menghentikan Wawan untuk pulang.


" Ada apa kak?"


" Sebentar lagi akan ada acar perpisahan, aku harap kamu juga datang." ujar Dea.


" Iya kak." ucap Wawan lalu berlalu. Dea hanya menatap kepergian Wawan dari hadapannya.