Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 19



Nadia bersama dengan Karin, Dea, prince dan Bagas berjalan mengelilingi fakulitas mengecek setiap staf lomba apakah mahasiswa dari fakulitas teknik banyak yang ikut atau tidak.


" Nad, Seharusnya kamu tidak usah menghentikan dea. Aku ingin melihatnya berkelahi dengan cowok." ujar Prince.


" Pikirkan baik-baik sebelum melakukan sesuatu. Jangan mudah kalah dengan emosi mu sendiri. Dosen mengawasi kita, asal kamu tahu itu! Jika kamu menunjukan sikap yang seperti itu, para adik kelas tidak akan menghormati kita." nasihat Nadia kepada Dea.


" Iya, dan tadi adik kelas bernama fajar itu. Dia sangat bermulut besar." ujar prince mengingat fajar yang berjanji akan memenangkan kompetisi.


" Itu sudah sifat alaminya. Aku sudah lelah untuk menghukumnya." ujar Nadia.


" Dia berlagak seolah bisa melakukan semuanya. Emangnya dia bisa melakukannya?" ujar Karin yang tidak suka dengan sikap fajar.


" Jangan remehkan dia." ucap Nadia pelan.


" Huh! Apa yang barusan kamu katakan?" tanya Karin.


Nadia langsung terkejut dengan apa yang barusan dia katakan, segera dia meluruskan. " Tidak, tidak ada apa-apa. Ayo kita pergi." ujar Nadia berlalu diikuti oleh teman-temannya.


Acara yang sebentar lagi akan mulai, banyak mahasiswa-mahasiswi yang sibuk berlalu lalang. Yoga dan Kevin bersama dengan para gadis yang kebetulan membantu menjadi staf ditim pemandu sorak. Mereka mulai membantu menghias serta berlatih yel-yel untuk mendukung fakulitas teknik yang nantinya akan bertanding.


Sedangkan fajar, Bima dan Wawan tengah berlatih, sebab mereka akan mengikuti kompetisi basket. Hiruk pikuk mulai terasa di fakultas teknik. Banyak mahasiswa yang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.


Latihan diberhentikan oleh pelatih. Bima merangkul Wawan dengan memujinya, "Wan, kamu benar-benar hebat! Bagaimana caranya kamu bisa bermain dengan baik seperti itu?"


" Itu disebut dengan latihan. Kamu hanya perlu berlatih yang banyak, kan." ujar Wawan.


" Apa aku kurang berlatih ya?" tanya Bima pada dirinya sendiri sebab saat latihan dirinya nampak tidak berani dengan baik.


" Makanya latihan lebih keras." ujar Wawan.


" Baiklah, aku akan mengumumkan pemain inti untuk pertandingan nanti. Akan ada 5 orang. Yang pertama ialah Wawan. " ujar pelatih.


Semua pemain bertepuk tangan, Wawan mengangkat tangannya.


" Orang kedua adalah Tian." ujar pelatih.


Sampai ke orang yang ke empat, namun nama Bima dan Fajar belum disebutkan oleh pelatih. Hingga Bima mendekat kepada Bima dan berbisik, " Tinggal satu orang dan itu hanya kita berdua yang nantinya akan menjadi pemain utama. Aku harap ini tidak akan mempengaruhi persahabatan kita."


" Dan orang yang terakhir..... Bima." ujar pelatih.


Alhasil Bima yang mendengar sangat antusias saat namanya disebut. Dia begitu senang, terlihat dia melompat kegirangan. Fajar tidak lupa mengucapkan selamat untuk sahabatnya itu.


" Maaf bro. Aku terlalu bersemangat. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bima takutnya fajar kecewa karena tidak terpilih sebagai pemain inti.


" Untuk apa?" tanya Fajar.


" Itu karena kamu terpilih sebagai pemain cadangan." ujar Bima.


" Oh itu, aku sendiri yang memintanya. Apa kamu udah lupa?" kata fajar.


Bima menggaruk tengkuknya, dia lupa jika awal pendaftaran fajar sudah meminta kepada staf untuk menjadi pemain cadangan.


" Sudah cukup hari ini. Siapkan diri kalian untuk pertandingan besak." ujar pelatih mengakhiri latihan.


" Ah, habis ini kita harus segera ketribun untuk membantu Mina dan Gladis disana. Ada yang mau ikut?" tanya Bima bersemangat sekali.


" Aku tidak bisa. Soalnya mau istirahat untuk persiapan besok." ujar Wawan menolak.


" Baiklah, yuk fajar kita jalan." ajak Bima merangkul sahabatnya fajar.


Bima, fajar serta Tian menghampiri Gladis dan yoga yang sedang menghias alat untuk pementasan mereka saat ditribun nanti.


" Hay Gladis." sapa Bima.


" Hey, bagaimana? Apakah sudah ditentukan pemain inti untuk besok?" tanya Gladis.


" Sudah." jawab Bima dengan mulai meraba alat untuk membantu Gladis dan yoga.


" Lalu siapa diantara kalian yang menjadi pemain utama?" tanya Gladis.


" Tian dan aku." jawab Bima tersenyum malu.


" Fajar, apa kamu sudah melihat wajahmu dimedia sosial?" tanya Gladis menunjukan ponselnya kepada fajar.


" Oh ini." fajar melihat fotonya yang dipajang dimedia soal kampus.


" Tapi sayang foto fajar dan citra yang like masih sedikit." ujar Gladis.


" Gak apa-apa. Setidaknya aku sudah membantu." ujar fajar.


Sistem penilaiannya juga termasuk dengan like foto yang terbanyak. Itulah alasan Gladis ingin agar foto fajar dan citra mendapatkan banyak like.


" Oh ya Gladis, selain ini apa lagi yang bisa kami bantu?" tanya fajar.


" Oh itu sudah selesai kok. kami sudah melakukannya sendiri." ujar Gladis, namun dirinya terdiam sejenak seolah berfikir apalagi yang belum teratasi. Lalu Gladis melihat Mina yang sendirian. Dia langsung meminta fajar untuk menanyakan lagi kepada Mina. Bima yang duduk mendengar hal itu hanya bisa menatap kepergian fajar.


Fajar menghampiri Mina, nampaknya gadis itu begitu serius melukis. Sehingga dia tidak menyadari kedatangan fajar. Fajar lalu mengagetkan Mina, sehingga gadis itu berteriak.


" Ah, maaf.. maaf." ucap fajar membantu Mina membesihkam cat yang berantakan.


" Gak apa-apa, aku bisa mengatasinya sendiri." ujar Mina.


" Min, saat kamu kaget, kamu terlihat sangat lucu." ujar fajar membuat Mina tersipu malu.


" Aku akan membantumu melukis ini. Sini berikan kuasnya." ujar fajar.


" Apa kamu yakin? Tapi... aku bisa melakukanmya sendiri." ujar Mina.


" Sudah! berikan saja kuas dan catnya." ucap fajar.


Mina memberikan kuas dan catnya kepada fajar. Fajar mulai membantu Mina melukis. Sesekali Mina melirik kearah fajar yang sedang serius melukis.


" Eum, fajar." panggil Mina.


" Iya, kenapa?"


" Besok kamu mulai pertandingan basket, kan?"


" Iya."


" Kalau begitu semangat ya. Besok aku bakal datang untuk mendukungmu." ujar Mina dengan malu-malu.


Mereka berdua kembali melukis bersama. Tanpa mereka berdua sadari Bima melihat kearah mereka berdua dengan tatapan sedih.


Semua mahasiswa yang membantu tim pemandu sorak sudah pada pulang. Hanya mina yang masih menyelesaikan tugasnya dengan mengecat gambar. Bima yang awalnya mau pulang, berniat kembali. Dia melihat Mina yang sendirian. Mina menyadari kedatangan seseorang dan melihat.


" Eh, Bima. Kamu belum pulang? Ngapain kamu disini? Bukannya besok kamu ada pertandingan ya?" tanya Mina.


Bima menghampiri Mina dengan tersenyum, " Aku ingin tetap disini sampai semuanya selesai." ujar Bima.


" Kamu becanda ya? Aku baik-baik saja kok. Lagi pula ini sebentar lagi selesai." ujar Mina sambil melanjutkan melukis.


Bima hanya terdiam menatap Mina yang sedang melukis. Mina menyadari lalu bertanya, " Kamu orang yang pendiam, ya?"


" Eum.. Mina.."


" Iya?"


" Hm... Ada cat diwajahmu." ucap Bima.


" Cat?"


" Di pipi.. pipi kananmu." ucap menunjukan pipinya sebagai contoh.


Mina mengikuti arah tangan Bima. "Pindahkan sedikit jarimu keatas." ujar Bima sambil memberi contoh pada wajahnya.


Mina mencoba menghapus dengan tangannya. Namun, cat itu tidak menghilang. Hingga akhirnya dia menyerah dan meminta Bima membantunya. Bima dengan gugup sedikit pelan mendekati tangannya ke pipi Mina.


" Cepatlah biar aku bisa menyelesaikan pekerjaan ku." ujar Mina melihat Bima masih belum juga menghapus cat diwajahnya.


Akhirnya tangan Bima menyentuh pipi gadis yang disukainya itu. Dengan pelan jarinha menghapus cat diwajah Mina.