Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 87



Fajar bangun lebih awal, namun dirinya terkejut melihat Nadia sudah tidak berada disampingnya. Gadis itu tengah mandi, terdengar percikan air di kamar mandi. Sambil menunggu istrinya selesai mandi, Fajar menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Sejak semalam mereka berdua tidak saling berbicara satu sama lain. Fajar hanya bisa diam, mengikuti Nadia yang tidak mau berbicara padanya. Meski begitu, sebagai suami yang baik dia tidak melupakan untuk menyiapkan sarapan pagi sebelum mereka berdua berangkat kerja.


Melihat Nadia sudah keluar dari kamar mandi, segera Fajar masuk ke kamar mandi. Nadia memakai pakaian kerjanya, dia melihat dua piring sudah tersedia di meja. Karena masih marah dengan Fajar, dia tidak menyentuh sama sekali sarapan itu dan memilih berangkat kerja duluan tanpa menunggu suaminya.


Fajar keluar dari kamar mandi, dia sudah tidak melihat Nadia berada di kamar. Bahkan dia piring makanan yang sudah dia siapkan tidak disentuh sama sekali oleh nadia. Fajar hanya bisa menghela nafasnya, Nadia ternyata begitu marah padanya.


" Seharusnya dari awal aku bicara padanya." Ucap Fajar menyesali perbuatannya.


Fajar menuju kantor, sebelum itu dia pergi ke cafe untuk memesan dua minuman es susu strawberry. Dia segera menuju ke tempat Nadia bekerja untuk memberikan minuman kesukaan istrinya itu. Namun Nadia belum sampai ditempat kerjanya. Fajar meletakkan dua minuman itu untuk Nadia dan juga untuk Edgar. Meski begitu Edgar sudah mengantarkan Nadia pulang semalam. Setelah itu dia menuju ke depertemen produksi tempat dia ditetapkan.


Kevin menunggu bus untuk berangkat kerja, sama seperti Fajar, dia juga magang di perusahaan yang berbeda dengan Fajar. Saat menaiki bus, dia terkejut melihat Diva juga berada disana. Dia tidak mengenakan tas bahkan pakaian yang dia kenakan pakaian biasa.


" Kamu mau kemana? Kamu tidak kuliah?" Tanya Kevin.


Semenjak makan malam semalam, diva mulai terbuka dengan Kevin. Tidak seperti sebelumnya, diva selalu menghindar dan tidak suka melihat Kevin yang selalu mengganggunya.


" Aku mau ke rumah sakit. Kamu sendiri mau kemana?" Diva melihat Kevin mengenakan pakaian kemeja putih serta celana hitam panjang. Pakaian yang begitu rapi, tidak terlihat seperti orang sedang berkuliah.


" Aku mau berangkat kerja. Kebetulan sedang magang. Kamu ke rumah sakit, emang kamu sakit apa?"


" Bukan aku. Tapi nenekku aku ingin menjenguknya."


" Oh, apa nenekmu sakit serius? Atau mau aku temani kamu?"


" Tidak apa-apa. Nenek ku hanya terpeleset dan jatuh. Jadi keluarga ingin dia menginap di rumah sakit agar diperiksa."


" Apa nenekmu terjatuh sebelum acara kegiatan di pantai?"


" Iya, jika nenek ku tidak masuk rumah sakit mungkin aku juga akan ikut ke pantai bersama dengan yang lain." Kata Diva menyesalinya, dia sangat ke pantai dan berkumpul bersama teman-temannya, namun karena keadaan neneknya membuatnya harus merelakan keinginannya itu.


" Itu sangat penting, tetapi kenapa kamu tidak memberitahu aku?"


" Dengan aku datang atau tidaknya, aku rasa aku tidak penting."


" Bukan masalah kamu tidak ikut kegiatan itu, tetapi karena hal itu, aku menjadi salah paham padamu." Kevin berpikir jika Diva tidak mau ikut kegiatan karena prinsip saat tidak mau ikut kegiatan ospek, namun ternyata salah. Sikap diva yang cuek, membuat Kevin salah paham padanya. Ternyata Diva juga ingin berkumpul bersama teman-teman seangkatan di pantai, namun apa daya neneknya masuk rumah sakit. Membuat diva mengurungkan niatnya.


Nadia baru saja tiba di kantor, dia membawa sarapan karena tadi pagi dia tidak mau sarapan bersama Fajar karena sedang marah pada suaminya itu. Dia melihat minuman kesukaannya sudah berada di meja kerjanya. Dia meminum minuman itu, dia mengira minuman itu dari Edgar. Segera Nadia mengucapkan terima kasih kepada rekan kerjanya itu.


" Kak Edgar, makasih ya."


" Untuk apa?"


" Untuk minuman itu."


" Itu bukan dariku. Minuman ini sudah ada diatas meja ku juga. Aku mengira itu darimu, tapi kamu belum juga datang. Entah siapa yang mengirimkan minuman ini."


" Benarkah?" Nadia begitu terkejut dengan kejutan itu. Siapa yang mengirimkan minuman itu pada dan juga kepada Edgar.


Fian yang mendengar percakapan mereka berdua ikut menimpali, " tadi pagi aku tidak sengaja bertemu dengan si anak magang. Saat dia pergi, aku melihat kedua minuman itu berada di meja kalian."


" Itu pasti si Fajar." Tebak Edgar karena Fajar tahu apa minuman yang mereka berdua suka.


Fajar bekerja di depertemen produksi, dimana dirinya akan menjadi anak bawahan dari Toni. Kebetulan sudah jam makan siang. Toni dengan baiknya mengajak Cheri dan fajar untuk makan siang bersama di kantin. Saat tengah makan, Celina lewat dengan membawa mapan berisikan makanannya.


" Hei Celina, mari gabung." Ajak chery kepada Celina untuk bergabung bersama mereka, ada kursi yang masih kosong.


" Wah, banyak sekali makanan disini. Kalian sedang merayakan apa?" Tanya Celina melihat banyak sekali makan diatas meja makan mereka.


Edgar bersama dengan Fian dan Nadia juga membawa mapan makanan mereka masing-masing. Dilihat Toni bersama cheri dan kedua anak magang tengah menikmati makan siang mereka. Kebetulan pula ada kursi yang juga masih kosong didekat mereka.


" Kita gabung sama mereka yuk." Ajak Edgar.


Mereka bertiga mulai duduk dan bergabung bersama Toni, cheri, fajar dan Celina. Nadia melihat ada Fajar disitu, begitulah Fajar yang terus memandangi Nadia istrinya. Nadia menghindar dengan menawarkan untuk membeli minuman. Saat Fajar ingin menitip untuk membeli minumannya juga. Dia mengurungkan niat untuk berkata. Fajar berpikir jika Nadia pasti akan menghindarinya dengan berpura-pura untuk tidak mendengar.


Saat Nadia sudah pergi, Fajar juga ikut pergi dengan alasan untuk membeli minumannya juga. Kebetulan dia sedari tadi belum membeli minumannya. Dia bertemu dengan Nadia yang sedang menunggu pesanannya.


" Kak Nadia, biar aku bantu bawain ya." Kata Fajar ingin membantu Nadia.


" Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kamu beli saja punyamu." Ujar Nadia dengan cuek tanpa melihat kearah Fajar.


" Aku pesan minuman yang sama seperti dia ya." Ucap Fajar memesan minumannya.


Sesekali Fajar melihat Nadia, namun Nadia sering membuang muka dan tidak mau menatap Fajar.


" Ini minumannya." Si penjual memberikan dua minuman rasa susu strawberry kepada Nadia.


" Satunya buat dia saja, aku pesan milk tea saja."


Fajar menerima minuman itu, dia memandangi wajah Nadia dengan tatapan bersalah. Namun Nadia tidak perduli setelah milk tea selesai dia langsung membayar dan pergi dari hadapan Fajar. Fajar bingung harus bagaimana, Nadia terus menghindar dan bahkan tidak menatapnya sama sekali.


Edgar teringat akan pulpen milik Nadia yang pernah Nadia pinjamkan. Dia mengembalikan pulpen itu kepada Nadia tidak lupa mengucapkan terima kasih. Mereka berdua duduk di ruang kerja sambil berbincang dan becanda. Kedekatan Nadia dan Edgar semakin dekat. Membuat Edgar menyadari kesempatan untuknya sudah terbuka.


Hari sudah sore, sudah jam 5 waktu untuk pulang kerja. Toni membawa mobilnya, dia melihat Celina berdiri sendirian.


" Celina, kamu belum pulang?"


" Aku masih menunggu, Fajar."


Fajar datang menghampiri Celina. Tidak lupa dia menyapa Toni yang berada dalam mobil.


" Kamu darimana? Bukannya tadi aku sudah memintamu pulang?" tanya Toni kepada Fajar karena melihat Celina yang masih menunggunya sendirian.


" Aku tidak dipanggil oleh kak Cantika." jawab Fajar.


Toni menawarkan tumpangan kepada mereka berdua. Fajar menolak karena dia membawa motor. Akhirnya Celina yang diantar pulang oleh Toni.


Rumah Celina yang begitu jauh, namun Toni tetap mengantarkannya sampai ke rumah. Di dalam perjalanan mereka berdua saling berbincang. Toni menyalahkan radio di mobilnya untuk mendengar berita bola. Celina menebak jika Toni adalah penggemar Liverpool terlihat raut wajahnya begitu senang mendengar berita baik tentang Liverpool.


" iya, aku sangat menyukai klub Liverpool."


" Aku juga penggemar bola, tapi aku lebih menyukai Chelsea."


" Kalau begitu, kamu turun saja dari mobil ini."


" Jadi, kakak menurunkan ku karena aku penggemar Chelsea."


" Iya, aku akan turunkan kamu di jalan."


" Astaga, kak Toni! Rumahku sudah lewat!" seru Celina menyadari rumah sudah lewat karena mereka berdua asyik mengobrol.


" Kenapa kamu tidak bicara sejak tadi!"