Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 61



Nadia pamit pulang, setelah membantu Prince membersihkan meja. Sedangkan teman yang lain sudah pulang duluan bahkan teman Fajar pun juga sudah karena mereka harus menginap di kampus karena akan ada kegiatan pagi untuk para mahasiswa baru. Fajar belum pulang, saat Nadia hendak pergi karena tahu jika Fajar tak akan tidur dengannya malam ini. Fajar menahannya, fajar memberikan sebuah kado untuknya. Nadia membuka kado itu, yang ternyata hanyalah sebuah pulpen, namun bukanlah pulpen biasa melainkan pulpen yang bermerek.


" Kenapa kamu memberikan ini? Hari bukan ulang tahun ku, bahkan juga bukan hari anniversary kita." Tanya Nadia kepada Fajar, dengan tiba-tiba Fajar memberinya hadiah padahal tidak perayaan yang mereka rayakan hari ini.


" Itu sebagai hadiah di hari pertama kakak bekerja. Maaf ya aku cuma kasihnya sebuah pulpen. Tapi pulpen ini berarti kok, setiap kakak mengenakannya kakak pastinya mengingat ku. Karena pulpen akan menemani hari-hari kakak dalam bekerja." Kata Fajar.


" Ew.. jangan lebay deh." Ucap Nadia tak suka gombalan Fajar seperti itu.


" Kalau gak suka, mendingan di kembalikan saja pulpennya." Fajar meminta pulpennya kembalikan.


" Gak, gak bisa. Apaan sih! Udah dikasih malah diminta balik." Nadia meski tak romantis, tetapi hatinya tak bisa berkata bohong. Dia selalu bahagia ketika Fajar memberikan perhatian kecil seperti itu. Meski kado yang diberikan mungkin tak berharga, tapi setidaknya Fajar masih memberikan dukungan untuknya.


" Hm.. ternyata istri ku ini pelita ya." Ucap Fajar, bagaimana tidak selama menikah pengeluaran selalu Nadia yang kelola, Nadia melakukan itu karena dia ingin mereka bisa menabung dan tinggal di rumah yang layak.


" Iya, aku memang pelit. Kamu baru tahu ya." Ucap Nadia.


Fajar mendekati wajah lebih dengan lalu berbisik, " Jelas aku tahu. Aku ini suamimu."


Merasa malu, Nadia segera pamit pulang. Namun, Fajar meminta dirinya untuk mengantarkan Nadia sampai ke kos. Nadia awalnya menolak karena Fajar harus pergi lagi ke kampus, apalagi besok dia harus bangun pagi-pagi untuk persiapan ospek. Fajar tetap bersikeras ingin mengantarkan Nadia pulang, karena dirinya ingin memastikan apakah Nadia sampai dengan aman atau tidak. Dan tak ingin Nadia tidur tengah, sebab Nadia juga harus berangkat kerja. Karena Nadia sudah bekerja, Fajar sangat memperhatikan istrinya agar bisa beristirahat dengan cukup.


Selama perjalanan pulang, mereka berdua berbicara mengenai hari pembukaan ospek di kampus. Nadia menanyakan tentang keadaan ospek saat hari pertama tadi pagi. Fajar menjawab jika kegiatan berjalan dengan dan aman.


" Apakah ada mahasiswa yang membuat mu sakit kepala seperti aku saat menjadi ketua ospek?" Tanya Nadia kepada Fajar.


" Pasti yang kak Nadia maksud adalah aku, kan?" Fajar menyadari hal itu.


" Ya, salah satunya." Jawab Nadia.


" Jikalau adapun aku tak akan takut, karena aku sudah melewati test ekstrim dari kakak." Ujar Fajar.


Jadi, sebelum menjadi ketua ospek. Mahasiswa yang ingin mendaftarkan diri menjadi anggota ospek, harus melewati sebuah test. Bukan test wawancara ataupun test tertulis melainkan sebuah test yang dimana para calon anggota akan berakting layak panitia ospek didepan para mahasiswa baru. Fajar memulai testnya yang dimana semua senior yang tergabung anggota akan berpura-pura menjadi mahasiswa baru sekaligus yang akan memberikan penilaian.


Mengingat kembali masa itu, Fajar sudah mulai memasang wajah seriusnya. Dia mulai berteriak, dia lalu memanggil nomor mahasiswa Nadia. Nadia lalu maju, lalu Fajar menunjukan gelang yang menjadi ciri khas Fakultas teknik. Dia menjelaskan tentang gelang tersebut, lalu dia bertanya, " Jika kamu ingin menjadi mahasiswa disini, maka kamu harus mengikuti aturan. Jika tidak maka aku tak akan memberikan gelang ini padamu. Jika aku tak memberikan gelang ini, apa mesti kamu lakukan?"


Nadia terkekeh, lalu mulai berakting layaknya mahasiswa baru. " Aku tinggal mengambilnya."


" Apa kamu pikir bisa semudah itu?" Tanya Fajar layaknya seorang senior. Wajah begitu tegas.


" Tinggal pakai akal." Ucap Nadia tersenyum.


" Aku tinggal... Menjadikan kamu suamiku." Ucap Nadia, jawaban yang hampir sama dikatakan oleh Fajar saat dirinya menjadi mahasiswa baru saat itu. Yang membuat Nadia emosi karena jawaban itu. Tak disangka jawaban yang seperti itu menjadi kenyataan bagi mereka berdua.


" Orang bilang apa yang menjadi kepunyaan suamimu, itu akan menjadi kepunyaanmu juga. Dan jika aku menjadikan kamu suamiku maka gelang itu akan menjadi milikku juga." Jawab Nadia tersenyum dihadapannya Fajar. Fajar tetap berakting, wajahnya masih serius meski dibelakang ada beberapa yang sudah terkekeh. Karena kejadian itu menjadi memori yang tak terlupakan bagi orang yang melihatnya dulu.


" Oh! Apa kamu ingin melakukannya sekarang? Apa kamu mau, hah!" Ucap Fajar terus berjalan mendekati Nadia. Nadia yang tadinya ingin menggoda Fajar namun kini dia malah di goda meski wajah Fajar tak menunjukkan tatapan menggoda sekalipun. Membuat yang lain yang berada disitu kembali dibuat tertawa.


" Tu...tunggu dulu dong! Kalian kenapa tertawa sih!" Ucap Nadia.


" Siapa yang menyuruhmu untuk berbicara dengan orang lain, hah!" Lagi-lagi dirinya dibentak oleh Fajar.


" Nadia, kamu mulai membantah. Maka kamu harus dihukum. Hukumannya kamu harus mencium pipiku sebanyak 200 kali." Teriak Fajar dihadapan Nadia.


Nadia bingung dengan hukuman yang baru dia dapatkan barusan, bukannya ini hanyalah akting belaka. Dia memandangi teman-temannya.


" Apa perintahku kurang jelas! Kamu harus mencium pipiku 200 kali, sekarang!" Bentak Fajar lagi sambil menunjukan pipinya.


" Tu.. tunggu dulu. Bukannya hukumannya itu push up atau squad jump ya? Kenapa sekarang jadi cium-cium?" Tanya Nadia yang merasa bingung tangannya terus menahan Fajar untuk tidak lebih dekat dengannya.


" Kenapa? Bukannya tadi kamu bilang, kamu ingin menjadikanku suamimu dan untuk sekarang seorang suami meminta di cium pipinya. Apa ada yang salah?" Tanya Fajar yang membuat Nadia semakin takut jika Fajar semakin menyerangnya.


" Cukup, cukup. Fajar kamu lulus. Siapa yang setuju?" Tanya Nadia kepada anggota yang lain sambil menahan tubuh Fajar.


Dengan lucunya, anggota yang lain setuju. Bahkan Dea dan Prince malah menggoda Nadia. Fajar pergi tanpa rasa bersalah. Sedangkan merasa ditambah Dea dan Prince terus menggodanya.


Mengingat kejadian itu membuat Fajar tak berhenti tertawa. Nadia ingin mengujinya, namun sayang justru Nadia yang malah merasa malu. Nadia merasa kesal karena tak berhenti tertawa mengingat kejadian itu.


" Berhentilah tertawa! Kamu selalu menghancurkan image ku."ucap Nadia kesal jika mengingat momen itu.


" Ayolah kak Nadia, aku hanya berakting. Oh iya, kakak masih berutang ciuman 200 kali di pipiku loh." Kata Fajar sambil menunjukan pipinya.


" Apa? Gak! Cukup kamu ya!"


" Ya udah, kalo gak bisa 200 kali, cukup sekali deh." Fajar terus mendekati pipinya kepada Nadia.


" Gak! Kamu pikir aku akan memberikannya. Gak akan!" Ucap Nadia lalu berjalan duluan sambil tersenyum.


" Kak Nadia.. yaaa... Ayolah... Sekali saja.." Fajar merengek sambil mengejar Nadia yang berjalan mendahuluinya.