
Hari dinanti pun sudah datang, Fajar dengan pemain yang lain sedang latihan sebelum pertandingan dimulai. Fajar sedari tadi hanya bengong, memandang diatas tribun. Membuat Bima yang sedari tadi memanggilnya, menghampiri fajar.
" Fajar, kamu kenapa sih! Sedari tadi aku memanggilmu kamu malah sibuk melihat di tribun. Emang apa sih yang kamu lihat?" kata Bima yang juga ikut melihat diatas tribun.
" Tidak, tidak ada apa-apa." ucap fajar.
" Kalau begitu fokuslah, sebentar lagi kita akan bertanding." ujar Bima.
Pertandingan pun dimulai, Kevin, yoga, Mina dan Gladis juga ikut menonton. Pertandingan diawali dengan fakulitas teknik melawan fakulitas bisnis. Fakulitas teknik mencetak angka yang banyak sehingga mereka masuk ke babak selanjutnya. Penonton bersorak dengan gembira. Pertandingan kedua, dimana fakulitas teknik akan berhadapan dengan fakulitas ilmu olahraga. Yang dimana lawan mereka ini yang pernah menang di tahun sebelumnya. Sehingga pertandingan sangat sengit, dimana cetak angka sering naik dan turun. Hingga dimenit untuk istirahat fakulitas ilmu olahraga memimpin.
Para pemain kembali dan beristirahat, mereka terlihat begitu lelah. Pelatih memberi semangat, dengan mengatakan selisih hanya 5 angka, bagi pelatih mereka akan bisa mengejar dan memenangkan pertandingan.
" Kita bisa memenangkan pertandingan ini. Tapi setiap kita menyerang kita harus mencetak angka. Cukup halangi lawan mu satu persatu. Bim, kamu ikuti terus pemain nomor 8, dia terlihat sangat cepat. Dan kamu Wawan, tidak perlu kebelakang untuk rebound. Mengerti?" ujar pelatih memberi arahan.
Wawan mengangguk, dia terlihat cukup lelah. Sehingga pelatih menanyakan keadaannya. " Kamu baik-baik saja, Wan?" tanya pelatih.
" Baik pak". jawab Wawan.
Seorang pemain ingin mundur, sebab dia merasa sangat lelah karena melakukan dua kali pertandingan.
" Kalau begitu fajar, kamu yang ambil posisinya. Jika kamu tidak shoot dari dalam, lemparkan saja bolanya ke fajar. Biarkan dia yang melakukan shoot 3 poin." ujar pelatih.
Setelah mendengar semua arahan dari pelatih, mereka mulai kembali berdiri. Tak lupa memberikan semangat masing-masing untuk segera kembali melanjutkan pertandingan. Saat para pemain kembali ke lapangan. Para penonton bersorak, Mina yang juga menonton tersenyum saat melihat fajar memasuki lapangan.
Pertandingan cukup sengit, dimana mereka saling berebut poin. Fajar terus mencetak poin untuk mengejar ketinggalan tim mereka. Saat Wawan hendak shoot, seorang pemain sengaja mendorongnya. Alhasil terjadi keributan antara Wawan dan pemain dari tim fakultas ilmu olahraga. Membuat pemain lain berusaha melerai mereka berdua. Hingga keputusan dari wasit yang mengatakan jika tim fakultas teknik melakukan shoot yang dilakukan oleh Wawan. Dan akhirnya Wawan berhasil mencetak poin untuk tim mereka. Alhasil tim fakultas teknik menang melawan fakulitas ilmu olahraga. Penonton yang mendukung fakulitas teknik begitu gembira karena mereka dapat memenangkan pertandingan.
" Tembakan mu tadi hebat sekali, bro." puji Bima kepada Wawan karena berhasil mencetak poin terakhir untuk tim mereka.
Begitu pula pelatih memuji para pemain karena berhasil memenangkan pertandingan. Tiba-tiba Wawan merasa kaki begitu sakit. Sehingga dia melepaskan sepatu yang pakainya. Bima merasa khawatir, namun Wawa mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
Disatu sisi, fajar bukannya merasa senang justru dirinya malah menunjukan ekspresi yang berbeda. Bima yang menyadari itu bertanya, " Kamu kenapa? Kamu terlihat gak senang jika kita menang?"
" Bukan begitu. Sedari tadi aku tidak melihat Nadia bersama dengan senior lain berdiri diantara para penonton." ujar fajar melihat kearah penonton.
" Terus kenapa?" tanya Bima bingung, kenapa fajar ingin mereka melihat pertandingan.
" Mereka takut menanggung malu, sebab mereka terlalu melihat kita lemah. Lihatlah, kita bisa buktikan jika pandangan mereka itu salah. Mereka pasti tidak akan berani memperlihatkan wajah mereka. Lihat saja, aku akan menonjok mata mereka dengan trofi." ujar Wawan yang masih menaruh dendam kepada para seniornya.
" Tidak apa-apa guys. Kita semua kelelahan sekarang. Besok adalah final, lebih baik kita pulang ke rumah. tidak masalah jika para senior itu tidak ada disini. Kita menang, kan? Mereka pasti akan mengetahuinya." ujar Bima.
" Mas, bakso bakarnya 5 ribu ya." kata Nadia.
" Tunggu sebentar ya, baksonya masih dibakar." ujar si penjual.
Nadia menunggu sambil meminum susu strawberrynya. Fajar yang sudah membeli berjalan menuju tukang bakso bakar untuk mengambil pesenannya. Namun, dirinya mengurung niatnya saat melihat Nadia juga berdiri disana sambil meminum susu strawberrynya. Fajar tersenyum, karena Nadia terlihat jauh berbeda dari imejnya sebagai senior galak di kampusnya.
Fajar berjalan menghampiri, Nadia yang melihat kedatangan fajar segera menyembunyikan minumannya di belakang punggungnya.
" Hay kak Nadia." Sapa fajar.
" Ada apa?" tanya Nadia seolah tahu jika fajar akan membicarakan sesuatu padanya.
" Tim basket ku sudah ada dibabak final sekarang. Dan aku juga mendengar tim olahraga lain dari fakulitas kita juga masuk ke babak final." Kata fajar.
" Lalu kenapa kamu memberitahu ku?" Tanya Nadia yang bingung.
" Aku tidak melihat kak Nadia berada di arena untuk menonton pertandingan. Jadi mungkin kak Nadia tidak tahu soal ini." ujar fajar alasan dia memberitahu hal itu kepada Nadia.
" Kamu tidak perlu memberitahu ku, kalau kamu baru saja masuk babak final. Karena aku tidak perduli, aku hanya perduli kamu menang atau tidak." ujar Nadia.
" Kak Nadia tidak perlu khawatir tentang itu. Bagaimana pun aku akan menang." ujar fajar dengan bangga sambil tersenyum.
" Kamu yakin? Aku dengar kamu juga ikut kontes bintang kampus juga. Apa kamu ingat apa yang aku katakan? Kita, mahasiswa teknik tidak akan pernah kalah dari siapapun. Jika kamu ingin aku mengakui mu, kamu harus memenangkan semua kompetisi yang kamu ikuti." kata Nadia.
Fajar terdiam, tak sadar air penjual sudah menyelesaikan masakannya untuk fajar, Fajar mengambil uang untuk membayar. Sebelum pergi dia ingin mengatakan sesuatu untuk Nadia.
" Bagaimana jika aku menang, apa yang akan kak Nadia berikan padaku?" kata fajar.
" Fajar! Beraninya kamu membuat kesepakatan denganku?" ujar Nadia tidak terima.
" Aku tidak membuat kesepakatan. Aku hanya membuat penawaran. Kak Nadia bisa setuju atau menolak. Faktanya, semua kesulitan ada padaku. Kecuali kak Nadia takut melihat ku menang." kata fajar.
Nadia tersenyum miring setelah mendengar penawaran dari fajar. " Baik, aku akan menerima tawaran mu. Karena aku berpikir orang seperti kamu akan kalah dari setiap pertandingan." ujar Nadia nada meremehkan.
" Jadi, jangan lupa datang dan saksikan sendiri. Apakah aku akan kalah atau tidak." ujar fajar.
Nadia tersenyum miring mendengar ujaran fajar. Pesanan bakso bakarnya sudah jadi, Nadia segera membayarnya. Lalu mereka berdua berpisah.