Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 17



Pelayan datang memberikan pesanan makanan Nadia dan Fajar. Saat fajar hendak memakan, Nadia menahannya.


" Tahan dulu. Karena aku senior mu. Biarkan aku memberikanmu pelajaran lain. Kamu tahu sulitnya mendapatkan sebutir beras, bukan?" tanya Nadia.


" Aku tahu." jawab fajar.


" Kalau begitu... aku ingin kamu menunjukkan perhargaan mu untuk beras kepada aku. Kamu tahu doa sebelum makan, kan?" tanya Nadia.


Fajar terdiam memandang Nadia dengan datar. Seoalah dia tahu jika Nadia sedang mengerjainya.


" Ya, aku tahu." jawab fajar.


Nadia tersenyum senang, dia akan mengerjai fajar kali ini. " Sekarang tunjukan padaku. Ucapkan dengan keras. Buatlah sekeras mungkin seperti kamu mengungkapkan rasa terima kasihmu kepada beras." ujar nadia.


Fajar terdiam, dia malu melakukan hal tersebut. Sebab banyak pengunjung yang makan disitu. Lagi-lagi Nadia ingin mempermalukannya.


" Cepat lakukan!" pinta Nadia.


Fajar mulai mengucapkan doa makan dengan nada yang keras. Hingga membuat para pengunjung yang datang memandang ke arahnya sambil tertawa. Setelah selesai membacakan doa, fajar menyentuh sendok untuk makan. Namun lagi-lagi dirinya ditahan oleh Nadia.


Dengan tersenyum Nadia mengangkat piring makannya. Dan menukar makanannya dengan makanannya fajar. Alhasil fajar menatapnya dengan tatapan tidak suka. Namun, Nadia tidak perduli, dia tetap menukar makanannya itu.


" Kenapa kamu menukar makanan mu untuk ku?" tanya fajar heran dengan tingkah Nadia.


" Aku melihat kamu sudah tahu rasa bersyukur terhadap makanan. Makanya aku memberikan makanan ku untukmu. Lihatlah, makanan ini berisi ayam yang nutrisinya lebih banyak dari makananmu. Jadi ini juga bagus untuk dirimu juga. Bagaimana? Kamu mau menolak kebaikan ku?" kata Nadia memberikan alasan dibalik dia menukarkan makanan mereka berdua.


Fajar menghela nafasnya, tidak mengerti dengan alasan Nadia. Apa bedanya ayam dan telur ayam? Bukankah juga punya nutrisi yang sama.


" Iya, makasih kak." ujar Fajar lalu menyuap sesendok makanan ke mulutnya. Nadia belum juga makan, dia hanya memperhatikan fajar.


" Bagaimana? Enak gak?" tanya Nadia.


" Iya, enak." jawab fajar.


Nadia tersenyum mendengar jawaban fajar. " Tapi secara pribadi, aku merasa makanan disini terlihat agak hambar. Jadi aku ingin memberikan bumbu untuk menyedapkan makanannya. Aku jamin ini bakalan enak, ketika kamu memakannya." ujar Nadia menambah sambal pedas kedalam makanan fajar.


Fajar terdiam, melihat sambal pedas yang sudah tercampur kedalam makanan. Fajar yakin Nadia ingin mengerjainya, dan fajar tidak bisa menghindari sekarang.


" Kenapa bibirmu bergetar?" tanya Nadia terkekeh pelan melihat fajar belum menyentuh makanannya.


Fajar dengan terpaksa mengambil sedikit demi sedikit makanan untuk bisa masuk kedalam mulutnya. Sedangkan Nadia hanya memperhatikan fajar dengan tersenyum. Tiba-tiba ponsel Nadia berdering, Nadia segera mengangkat telfonnya.


" Hallo," ucap Nadia.


" Ya, Aku akan segera kesana." ucap Nadia mematikan telfonnya.


Nadia melihat fajar, " Aku harus pergi, kamu harus habisi makanannya Samapi selesai. Jangan ada yang tersisa." ujar Nadia berdiri dengan membawa minuman.


Namun, fajar mengehentikan Nadia. "Kak Nadia, tolong tunggu sebentar." ucap fajar.


" Apa!" tanya Nadia ketus.


" Tolong jaga dirimu baik-baik." ucap fajar.


Nadia memandang fajar dengan tajam, lalu pergi begitu saja.


Fajar mencoba menghabiskan makanannya. Sambal pedas yang tidak tercampur dia sisihkan, sebab dia tidak sanggup memakan makanan yang tercampur sambil pedas. Fajar bisa menghabiskan sepiring meski sambal pedasnya dipisahkan. Fajar memanggil pelayan untuk menanyakan tagihan semua makanannya.


" Tagihan mu sudah dibayar oleh cewek tadi." ujar pelayan makanan.


" Ah, baiklah." ucap fajar.


Fajar lalu memanggil pelayan minuman. Menanyakan juga harga minumannya. Namun, si pelayan bilang jika minumannya sudah dibayar oleh Nadia. Dengan kepedesan fajar memesan minuman lagi, yaitu susu strawberry seperti pesanan Nadia.


Hari ini kampus ricuh, sebab di setiap Mading di semua jurusan sudah ditempelkan selembaran pengumuman tentang berbagai lomba yang diadakan antar fakulitas. Bima yang baru saja memasuki fasilitasnya melihat banyak mahasiswa berkerumun di depan Mading. Karena penasaran Bima juga ikut bergabung, dan dia melihat selembar kertas tempel diatas kasur berisikan tentang perlombaan antar fakulitas. Bima yang sangat gemar dengan permainan bola basket melihat ada pertandingan bola basket juga. Dia mengambil selembar kertas yang ditempel itu dan dibawanya ke kelas.


Fajar sudah duduk didalam kelas. Disampingnya ada yoga yang duduk, mereka berdua ngobrol bersama. Bima melihat mereka segera menghampiri meletakkan tasnya dan memberikan lembaran kertas itu kepada Fajar.


" Lihatlah." ucap Bima tersenyum meminta fajar membaca isi lembaran itu.


" Kenapa kalian berdua terlihat sangat bersemangat mengenai acara ini?" tanya yoga melihat isi lembaran itu.


" Kami suka mengikutinya. Kamu ingat gak fajar, dulu kita sering bermain basket saat masih SMA." ujar Bima bersemangat.


" Iya." jawab fajar.


Bima mulai menceritakan pertandingan yang dia ikuti bersama fajar saat masih sekolah. Hingga fajar tertawa, dan karena Bima begitu bersemangat menceritakannya.


" Apa kamu ingat?" tanya Bima kepada yoga.


" Hah? Aku.. Tapi aku gak satu sekolah dengan kalian berdua." ujar yoga bingung tiba-tiba Bima bertanya padanya.


" Ah iya, itu sebabnya aku meminta kamu untuk ikut bergabung." ujar Bima semangat.


" Iya, aku akan bergabung." kata fajar.


" Kamu yog, mau gak?" tanya Bima.


" Kalian lanjutkan saja." jawab yoga. Bagaimana mungkin dia ikut bermain, badannya saja kurus seperti itu tidak bisa melawan musuh dengan badan yang bisa saja lebih besar darinya.


" Tapi bim, katanya tahun depan yang memenangkan pertandingan itu dari fakulitas olahraga. Kebetulan mahasiswa disana badannya besar-besar. Emangnya kita sanggup melawan mereka." ujar yoga.


" Tenang saja. Aku akan mencari teman yang lain untuk ikut bersama dengan kita." ujar Bima bersemangat.


Bima mengambil lembaran itu dan melihat ke sekitar kelas. Melihat apakah ada yang bisa dia ajak untuk ikut masuk tim basket bersamanya. Bima melihat Wawa, dia lalu menghampiri Wawan. Untuk mengajak Wawan gabung ke tim basket.


" Wawan, kamu mau bergabung dengan tim basket gak?" tanya Bima. Namun Wawan malah sibuk dengan ponselnya. Telinga ditutupi oleh headset, hingga saat Bima mengajaknya bicara. Wawan tidak mendengar sama sekali. Merasa sangat kesal dicuekin, Bima akhirnya berteriak memanggil Wawan. Hingga cowok itu tersentak kaget, dan melepaskan headsetnya.


" Ada apa? Kamu berbicara padaku?" tanya Wawan heran melihat Bima sudah berada disampingnya sambil menyuguhkan lembaran kertas.


" Kamu mau bergabung tim basket denganku?" tanya Bima.


" Gak, terima kasih." ucap Wawan memakai kembali headsetnya.


Bima yang mendengar jawaban itu, dengan loyo berjalan menuju fajar dan yoga.


" Bagaimana? Aku tadi melihat Wawan seperti tersenyum padamu?" tanya yoga.


" Gak, kamu salah lihat." jawab Bima dengan lesu dan memberikan kertas itu kepada fajar. Membuat fajar dan yoga hanya bisa tertawa.


" Gak apa-apa. Kita bisa mengajak anak yang lain." ujar fajar tersenyum untuk menenangkan Bima.