
Setelah menempuh pendidikan selama 4 tahun di bangku kuliah. Akhirnya Nadia mendapatkan gelar sarjana teknik, karena sudah menghabiskan waktunya selama 4 tahun. Nadia dengan mengenakan kebaya yang ditutupi dengan pakaian wisuda tengah duduk diantara teman-teman satu angkatan. Dari ke lima temannya, hanya dirinya dan Karin yang berhasil menyelesaikan skripsi dengan baik, sedangkan ketiga temannya menunggu 5 bulan lagi untuk diwisuda. Rasa bahagia dan terharu bercampur, rasanya tak percaya padahal selama ini dia tengah sibuk dengan tugas dan belajar kini dia telah duduk menunggu namanya di panggil untuk maju ke depan panggung.
Meski selama perkuliahan dia disibukkan dengan kegiatan ospek, namun itu tidak mengurangi kerja keras dalam belajar. Dia memperoleh peringkat terbaik di fakultasnya, dengan IPK tertinggi. Tak berselang lama dipanggil, bukan hanya nama namun terdapat gelar dibelakangnya. Untuk mencapai sebuah gelar butuh waktu 4 tahun dan harus menguras otak. Nadia berdiri berjalan naik ke tas panggung untuk dipindahkan toganya. Sungguh momen yang terjadi sekali seumur hidup.
Acara wisuda telah berakhir, namun kebahagiaan masih terus berlanjut ketika Nadia keluar dari aula, Fajar bersama kedua orang tua Nadia sudah menanti dengan buket bunga serta ucapan selamat kepadanya. Nadia menangis bahagia dia memeluk ayah dan ibunya, meminta maaf serta berterima kasih atas dukungan mereka selama ini untuknya.
Nadia memandangi Fajar yang tersenyum kepada sambil memegangi buket bunga. Nadia tersenyum lalu memeluk sang kekasih. " Makasih, udah mendukungku." Ucapnya dalam pelukan.
" Justru aku juga berterima kasih karena sudah berada bersama ku." Ucap Fajar.
Nadia melepaskan pelukannya, diterima buket bunga dari sang calon suaminya. Tiba-tiba ketiga temannya datang, mereka juga membawa buket namun bukan bunga melainkan berisikan foto serta snack untuk Nadia. Nadia lagi-lagi terharu, ternyata banyak orang yang merasakan kebahagiaan yang dia rasakan.
" Ini untukmu, selamat ya." Ucap Dea.
" Sama-sama, kalian bertiga harus segera nyusul ya." Ucap Nadia.
" Siap! Gak akan lama." Ucap Prince.
Sebelum mereka bertiga menemui Nadia, mereka sudah bertemu dengan Karin. Kini Karin tangah berfoto bersama orang tuanya. Begitu pula Nadia, dia juga berfoto bersama kedua orang tuanya. Dan juga dia tak lupa berfoto bersama Fajar dan teman-temannya. Sebuah momen indah yang tak akan Nadia lupakan, bukan hanya bahagia namun Nadia juga merasakan rasa cinta yang dia dapatkan. Tak lupa Nadia berterima kasih kepada dosen-dosennya yang sudah mengajar dan membimbingnya. Nadia memandangi kampus serta fakultasnya, mungkin ada rasa rindu untuk kembali atau mungkin hanya sekedar singgah.
" Jangan terlalu di kenang, kakak bisa singgah jika ingin menemui. Masih ada kesempatan meski sudah tak sama." Kata Fajar seolah mengerti isi hati Nadia yang mungkin saja dia merindukan kampus tempat dirinya belajar.
" Hahaha, iya juga. Calon suami ku ini masih kuliah ya. Masih ada kesempatan untuk itu." Ujar Nadia tertawa.
" Ayah dan ibu menitipkan ucapan selamat, mereka ingin mengobrol denganmu, tapi kayaknya kamu tengah sibuk menjadi seleb hari ini. Jadi aku meminta mereka untuk menitipkan ucapan selamat saja." Kata Fajar.
" Makasih bilang pada ayah dan ibumu. Apaan sih! Dikatain seleb." Ucap Nadia malu.
" Emang iya, sedari tadi kamu foto kesana kesini." Ucap Fajar.
" Iya, momen.. kini aku tengah menatap lekat momen itu." Ucap Fajar memandangi Nadia.
" Maksud kamu?"
" Momen dimana aku melihat gadis cantik yang kini berdiri bersama ku. Ini harus direkam oleh mataku."
" Cih! Awas matamu kelilipan."
" Kak Nadia, ini serius. Kakak terlihat cantik hari ini."
" Lalu selama ini aku gak cantik." Protes Nadia.
" Cantik kok. Tapi ini lebih...lebih... Cantik. Karena melihat kamu dengan make up itu akan susah, jadi harus direkam baik oleh mataku." Kata Fajar.
" Apaan sih gombal!" Ucap Nadia memukul lengan Fajar. Karena merasa malu di puji cantik oleh sang kekasih.
Seperti yang telah disepakati, setelah Nadia lulus kuliah. Maka pernikahan mereka akan segera berlangsung. Tidak perlu acara yang cukup meriah, Nadia meminta pernikahan itu dilaksanakan dengan sederhana, meski kedua orang tua mereka ingin anak mereka merasakan sebuah pernikahan yang mewah. Namun Nadia dan Fajar menolak, karena bagi mereka momen sakral itu diadakan secara sederhana saja tak perlu harus mengeluarkan uang yang banyak.
Pernikahan digelar di kediaman Nadia, orangtua Fajar sudah datang bersama Fajar. Fajar mengenakan tuxedo putih. Wajah terlihat tampan menurut para tamu yang hadir, tamu yang hadir hanyalah tetangga serta kerabat dan teman dekat saja. Saat memasuki rumah, sebelum memulai izab kobulnya, Fajar menengok diantar kerumunan kerabat yang hadir. Nampaknya Nadia belum keluar, mereka minta Fajar untuk duduk dihadapan ayah Nadia. Ijab Kabul dilaksanakan, meski dalam keadaan gerogi, Fajar bisa mengucapkan ijab kabul dengan baik meski harus mendapatkan pengulangan. Karena kegugupannya, saat pertama mengucapkan Fajar malah salah menyebut nama ayah Nadia. Dan setelah ijab kabul maka Nadia resmi menjadi istrinya.
Nadia berada di kamarnya, wajahnya cantik apalagi setelah dipolesi dengan make up. Rasa gerogi juga dia alami, karena ini merupakan momen pertama bagi dirinya melepaskan masa lajangnya dengan memilih menikah dengan Fajar. Selama berada di kamar, dia mendengar Fajar mengucapkan ijab kabul meski salah diawal, Nadia hampir saja menangis. Beruntung saat kedua kalinya, Fajar bisa mengucapkan dengan lancar. Nadia begitu bersyukur, air matanya mengalir. Kini masa lajangnya hilang, dan kini statusnya telah menjadi seorang istri.
Nadia diminta untuk keluar dari kamarnya, dengan di jemput oleh saudarinya. Nadia keluar dengan rasa gugup meski Ijal kabul sudah selesai namun dia merasa gugup ketika bertemu dengan Fajar. Entah karena kurang percaya diri, atau mungkin dia malu karena berdandan ala feminim di depan fajar, yang kini menjadi suaminya. Karena selama kuliah Nadia, tidak memperdulikan penampilan seperti gadis pada umumnya. Dia selalu tampil natural dengan celana jeans-nya terkadang juga mengenakan rok, namun kesan tombaoi selalu melekat bagi orang yang mengenal Nadia saat masih kuliah dulu.
Sambil berjalan melewati tamu yang hadir, Fajar sudah menunggunya didepan altar pernikahan sambil tersenyum. Begitu Nadia kikuk disetiap tamu yang hadir. Didepan altar tangan Nadia diarahkan untuk memegangi tangan Fajar. Nadia lalu mencium tangan Fajar yang kini sah menjadi suaminya. Hiruk pikuk tepuk tangan serta sorakan dari teman-temannya membuat Nadia merasa sangat malu. Setelah bertemu, para tamu yang hadir diminta untuk berfoto bersama.
Senyuman bahagia terpancar dari pasangan pengantin, tak disangka kisah mereka berbuah manis. Dulu mereka bertemu, tak saling mengenal. Berawal dari benci, berstatuskan senior dan junior. Lalu mereka juga harus menjadi korban perjodohan. Namun, takdir tidak bisa diduga. Perjodohan itu merupakan takdir bagi mereka berdua. Takdir yang mempertemukan dua insan untuk saling mengenal cinta satu sama lain.