
Fajar segera berlari menuju ke kampus, ditengah perjalanan hujan turun dengan deras. Fajar tidak lupa singgah di pertokoan dekat kampus untuk membeli sebuah payung. Fajar segera menuju ke lapangan. Disana Nadia masih berlari meski larinya sudah gontai karena kelelahan. Fajar segera menghampiri Nadia, dia memayungi gadis itu dengan payung.
" Kak Nadia, tolong berhentilah." pinta fajar agar Nadia berhenti berlari.
" Kenapa kamu disini? Pergilah!" ujar Nadia mengusir fajar untuk tidak mengganggunya.
" Kak, berhentilah. Kenapa kamu masih terus saja berlari? Ini sudah malam kak." pinta fajar.
" Ini bukan urusan mu. Pergi! jangan menggangguku!" bentak Nadia.
Fajar tidak menyerah dia tetap memaksa Nadia untuk berhenti. Merasa terus dipaksa Nadia dengan kasar menepis tangan Satria yang memayunginya.
" Sudah ku bilang jangan menggangguku. Pergi!" teriak Nadia dibawah hujan yang turun dengan derasnya.
" Tidak bisa. Kakak harus istirahat. Sudah sedari tadi kakak terus berlari." ujar Fajar tetap memaksa.
Karin tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua. " Ada apa ini?" tanya Karin.
" Kamu tolong bawa dia pergi dari sini. Dia terus saja mengganggu ku." ujar Nadia kesal kepada Fajar.
" Aku tidak akan pergi, aku akan disini sampai kak Nadia berhenti." ujar fajar yang tetap kukuh berada disisi Nadia, agar gadis itu berhenti berlari.
" Fajar!" bentak Nadia kesal karena Fajar yang tidak ikut perintahnya.
" Eh kamu anak mahasiswa baru. Seharusnya kamu tidak disini." ujar Karin.
" Tetapi kak, aku..."
" Ini bukan urusan mu, seharusnya kamu pergi dan menunggu di tribun. Tidak ada kata tapi.. ini perintah dari senior." ujar Karin sebelum Fajar kembali memotong pembicaraan.
Nadia kembali berlari meski pelan dan gontai. Fajar yang dapat perintah dari Karin tidak bisa menolak. Dia segera mengambil payungnya pergi ke tribun.
Di tribun banyak mahasiswa baik senior maupun junior. Mereka duduk menonton Nadia menyelesaikan perintah dari senior mereka. Saat Fajar mencari tempat duduk, Mina memanggilnya. Ternyata Mina, Gladis dan Citra tidak pulang. Mereka malah duduk di tribun untuk menyaksikan Nadia berlari.
" Fajar, kamu kok berada disini. Kami bertiga karena tidak sengaja melihat Kak Nadia makanya kami kesini untuk menonton." ujar Mina.
" Aku tadi membagikan fotonya di media sosial, mungkin fajar melihatnya, ya." ujar Gladis.
" Aku mendapatkan telfon dari Bima. Bima yang mengatakannya padaku dan aku juga dengar orang yang membicarakan itu mungkin mereka melihat dari foto yang kamu bagikan." ujar fajar, terlihat sekali wajah kekhawatirannya. Fajar tidak ingin Nadia kenapa-kenapa. Dia sangat mengkhawatirkan calon istrinya itu.
" Kak Nadia memang perempuan yang keren. Aku sebagai perempuan mungkin tidak sanggup berlari sebanyak itu. Jika kak Nadia sebagai cowok, mungkin dia akan menjadi cowok yang populer dan banyak cewek yang akan suka padanya. Aku pun juga akan mengejarnya. hehe.." ujar Gladis memuji Nadia.
Nadia terus berlari meski pelan dan gontai, namun dibawah turun Nadia tidak menyerah dan terus berlari mengelilingi lapangan. Fajar hanya menatap dengan rasa khawatir, dia tidak berbuat apa-apa. Karena Nadia selalu menolak meski dia sudah memaksa Nadia untuk berhenti. Tak berselang lama, Bagas berdiri berteriak jika satu kali lagi putaran terakhir. Teman satu geng Nadia berdiri menyemangati, bahkan para senior dan junior yang menonton juga ikut berdiri menyemangati Nadia. Fajar akhirnya menyadari satu hal, Nadia si gadis yang tidak pantang menyerah itu ternyata dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya, karena disini bukan hanya Fajar yang khawatir namun para penonton disini juga mengkhawatirkan Nadia.
Teman-teman Nadia mulai turun dari tribun, mereka semua menuju garis finis. Namun, tak henti-henti mereka berteriak menyemangati Nadia. Fajar pun tak ingin ketinggalan, dia juga turun dan berdiri bersama dengan seniornya.
Nadia berlari, sedikit lagi dia sampai garis finis. Namun sayangkan dia terjatuh. Membuat teman-temannya dan Fajar terkejut, namun Dea terus menyemangatinya. " Nad, Ayo bangun... Kamu pasti bisa menyelesaikannya. Ayo Nad, bangun.. semangat Nad.." teriak Dea.
Teman-teman yang lain mengikuti untuk terus menyemangati Nadia. Nadia merasa sangat lelah, dia sudah tidak sanggup untuk berlari lagi. Namun, karena ini hukuman untuknya, dan sebentar lagi akan selesai. Nadia berusaha untuk bangun, dengan keadaan melelahkan dia mencoba untuk berlari meski harus dengan pelan.
" Nad, jangan dulu bicara. Kami akan segera mengantarkan mu di rumah sakit." ujar Karin.
" Apa kak Nadia baik-baik saja?" tanya Fajar.
" Kamu masih belum pulang. Pulanglah ke rumah. Ini bukan urusan mu." ujar Nadia dengan ngos-ngosan.
" Apa aku juga ikut mengantarkan kakak ke rumah sakit?"
" Apa kamu tidak mendengar apa yang barusan aku katakan? Sudah ku bilang jika ini bukan urusanmu." ujar Nadia.
" Emangnya tidak boleh seorang mahasiswa baru mengkhawatirkan mahasiswa senior?" ujar Fajar karena merasa jika dia juga berhak khawatir dengan keadaan Nadia.
Mereka semua terdiam, Nadia menatap Fajar. " Kamu! Aku peringatkan untuk tidak ikut campur urusan senior. Jika tidak maka aku akan menghukum semua mahasiswa baru. Paham itu! Ayo kita berangkat." ujar Nadia mengancam Fajar. Dengan dibopong oleh kedua temannya mereka pergi berlalu meninggalkan Fajar yang hanya menatap kepergian mereka.
Mina, Gladis dan Citra menghampiri Fajar. " Fajar, Sudahlah.. tidak usah pedulikan mereka." ucap Citra. Mereka bertiga juga sama meninggalkan Fajar.
Nadia terbaring di kasur, dia dijaga oleh Dea yang sibuk membaca komik. Tiba-tiba ponsel Nadia berdering, membuat Nadia yang tertidur akhirnya terbangun. Karena badannya masih sakit, Nadia meminta Dea untuk mengambil ponselnya yang diletakkan di meja samping kasurnya.
" Dea.. tolong ambilkan ponselku." pinta Nadia.
" Ya, diambil sana." ucap Dea yang masih asyik membaca komik.
Dengan geram Nadia berkata, "Bagaimana aku bisa mengambilnya. Kamu tidak lihat aku hanya bisa berbaring. Yang bergerak hanya bibir dan tangan ku saja. Bantuin dong."
Dea segera berhenti membaca dan mengambil ponsel Nadia yang berdering dan memberikan itu kepadanya. Nadia melihat siapa yang menelfon, ternyata itu adalah Denis.
" Hallo, kak." Nadia mengangkat telefonnya.
" Nad, bagaimana kabarmu?" tanya Denis dari nadanya sepertinya dia mengkhawatirkan keadaan Nadia.
" Aku baik-baik saja, kak." jawab Nadia.
" Sudah ku bilang jangan terlalu memaksa, cukup lari dengan 10 putaran saja." ujar denis.
" Tidak apa-apa.. Setidaknya aku masih hidup. Hampir saja tadi malam aku mati."
" Kamu sih ngeyelnya minta ampun."
" Haha.. setidaknya aku bisa membuktikan kepada mahasiswa baru jika aku kuat dan berani menerima perintah." ujar Nadia.
" Kamu ini! asal kamu tahu banyak junior menandai foto mu sambil mengataiku di media sosial." ujar denis.
" Benarkah... itulah salah satu tips untuk bersinar." ujar Nadia sambil tertawa.
" Dasar bodoh! kalau begitu istirahatlah." ujar denis mematikan telfonnya.