Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 14



Kamar kos fajar nampak rapi, di dinding meja belajarnya ditempelkan jadwalnya. Bahkan kasurnya tertata rapi. Fajar memasuki kamar kosnya itu, dia baru saja membeli makanan untuk sarapan.


Hari ini kebetulan jadwal ke kampus tidak terlalu pagi. Jadi ada sedikit waktu bagi fajar, untuk menyiapkan sarapannya. Fajar mendekati jadwal yang ditempeli di dinding. Dia mengambil satu kertas jadwal yang menurutnya waktu pengerjaan sudah lewat.


Saat sedang menyiapkan sarapannya, fajar melihat kearah jendela. Tepat di depan kamar kosnya, ada kamar kos Nadia. Dia melihat Nadia keluar berdiri di balkon sedang menelfon. Terlihat dari penampilannya, gadis itu baru saja bangun tidur. Setelah telfon itu berakhir, Nadia menyandarkan diri di dinding dengan lemas. Hal itu membuat fajar tertawa melihatnya.


Mina, Gladis dan salah satu mahasiswa baru bernama Nita tengah duduk di taman kampus. Gladis baru saja datang dengan membawa tiga botol minuman untuk mereka. Gladis dan Nita berbincang membahas tentang kompetisi yang akan diadakan kampus. Mina sedari tadi masih merengkuh di meja. Gladis yang membangunkan Mina untuk meminum minuman yang dibelinya.


" Tadi kalian berdua membicarakan apa terlihat heboh sekali?" tanya Mina sambil meminum minumannya.


" Kepo ya?" ucap gladis menggoda Mina.


" Apaan sih! jadi kalian berdua membicarakan apa?" tanya Mina lagi.


" Itu si citra, dia dipilih untuk ikut kontes bintang kampus mewakili fakulitas teknik." ujar Gladis.


" Wah, bagus dong. Lalu siapa perwakilan cowoknya?" tanya Gladis.


" Katanya fajar yang dipilih." jawab Nita.


" Seriusan? Emang sih fajar terlihat lumayan tampan, iya kan min?" ujar Gladis.


Sedangkan Mina tidak menjawab dia malah tersenyum saat Nita menyebutkan nama fajar. Dia teringat kembali saat fajar membantunya dengan memberikan name tag nya kepada Mina. Hingga senyuman memudar ketika Gladis terus memanggil namanya.


" Kamu kenapa min?" tanya Gladis khawatir.


" Gak apa-apa. Eum tadi kamu nanya apa?"


" Itu, menurutmu fajar tampan gak?" tanya Gladis lagi.


" Eum, lumayan." jawab Mina.


" Dengar-dengar katanya dia masih jomblo loh." ujar Nita.


" Seriusan?" tanya Gladis tidak percaya, cowok tampan seperti fajar masa berstatus jomblo.


Namun, respon Mina malah justru senang, setidaknya itu menjadi kesempatan baginya untuk lebih dekat dengan Fajar.


Tidak berselang lama, citra datang menghampiri mereka bertiga. " Kalian ngapain lagi? ayok kita kelas udah telat ini!" perintah citra.


Alhasil ketiga orang itu kaget, mereka melihat jam di ponsel dan benar jam sudah menunjukan pukul 9:59 bentar lagi jam 10. Dan kebetulan mereka masuk kelas jam 10. Mereka berempat pun berlari menuju ke kelas. Di kelas, semua mahasiswa sudah duduk di bangku masing-masing. Dan ternyata hari ini mereka sedang mengadakan ulangan. Dosen meminta mereka untuk mengambil kertas ujian. Saat memilih bangu, tak sengaja Mina duduk disamping fajar. Mina melihat fajar, fajar memberikan senyuman sebagai tanda menyapanya.


Mina mengambil dompet pensil, ternyata di dalam dompet tidak terdapat penghapus. Alhasil Mina membuka kembali tasnya. Fajar yang duduk disampingnya memperhatikan gerak-gerik Mina.


" Apa yang kamu cari?" tanya fajar.


" Aku lupa membawakan penghapus." jawab Mina.


Fajar mengambil penghapus yang kebetulan dia memiliki dua. " Ini, kebetulan aku punya dua." ujar fajar memberikan penghapusnya kepada Mina.


Mina mengambil penghapus itu dan tersenyum senang. " Makasih ya." ucap Mina.


Ulangan dimulai, semua mahasiswa sibuk mengerjakan soal-soal ulangan. Hingga jam berakhir, dan kertas ulangan dikumpulkan di depan kelas. Dosen pun keluar dari kelas.


" Eum, fajar makasih atas name tag nya." ucap Mina mengingat kembali tentang fajar membantunya. Saat itu dia lupa mengucapkan terima kasih.


" Oh, sama-sama." ucap fajar tersenyum.


" Aku menemukan itu lokerku. Aku gak tahu siapa yang meletakkannya." ujar fajar.


Mina terdiam sejenak, memikirkan kalimat apa lagi yang akan dia keluarkan, mumpung fajar ada disampingnya. Kesempatan bagi Mina untuk mengobrol banyak dengan fajar.


" Hari itu, saat kamu memberikan name tag ku kepadaku. Apa kamu gak takut dihukum?" tanya Mina.


Tanpa mereka berdua sadari Bima, mendengar obrolan mereka berdua. Kebetulan Bima duduk di depan mereka.


" Lebih baik aku dihukum daripada kamu." ujar fajar.


Reflek Bima yang mendengar langsung menyahut, " Hey, apa yang kamu lakuin? Yok, ganti baju." Bima memotong pembicaraan mereka dengan mengajak fajar menggantikan baju untuk mengikuti kegiatan ospek lagi.


" Aku pergi dulu ya, sampai jumpa di aula." ujar fajar berlalu.


Mina tersenyum senang, dia menyadari penghapus fajar yang belum ia kembalikan. Mina menatap penghapus itu dengan tersenyum.


" Hari ini aku yang akan bertugas melatih kalian semua." ujar Karin.


Terlihat Nadia tidak menghadiri kegiatan ospek kali ini. Fajar mencoba melihat sekitar mencari keberadaan Nadia. Namun, nampak memang Nadia tidak hadir. Mahasiswa baru yang lain mulai berbisik, menanyakan keberadaan Nadia.


" Kayaknya kak Karin terlihat gak segalak Kak Nadia deh!" ujar yoga yang tiba-tiba terkejut mendengar bentakan Karin. Yoga ternyata salah menilai.


" Aku berharap kalian tidak lupa dengan tugas pengumpulan tanda tangan." ujar Prince.


" Sudahkah kalian semua mengumpulkan semua tanda tangan panitia di buku kalian?" tanya Karin sebab sehari pengumpulan mereka belum mengambil buku tanda tangan dari mahasiswa baru.


Para mahasiswa baru mulai membuka buku tanda tangan mereka. Yoga melihat Bima dan menanyakan berapa tanda tangan yang Bima dapatkan.


" Aku.. hanya mendapat 7 tanda tangan." ujar Bima.


" Seriusan kamu? aku malah justru udah dapat lebih dari itu." ujar yoga sambil menunjukan bukunya.


Bima tidak percaya yoga si kurus bisa mendapatkan tanda tangan sebanyak. Sedangkan dirinya hanya bisa mendapatkan 7, maklumlah karena Bima merupakan anak yang sangat pemalu. Dia tidak berani melakukan itu.


" Diam! Aku sedang berbicara kepada kalian, kalian juga sibuk berbicara satu sama lain. Kalian benar-benar tidak memiliki sikap sopan santun sama sekali." ujar Prince geram.


Karin maju kedepan berdiri dihadapan kevin. " Berikan buku tanda tanganmu! aku ingin melihat berapa tanda tangan yang kamu dapatkan." ujar Karian.


Kevin memberikan buku tanda tangannya kepada Karin. Karin membuka setiap lembaran buku tanda tangan. Setelah melihat semua, Karin mengembalikan buku itu kepada Kevin tanpa berbicara sedikit pun.


Yoga yang berada disamping Kevin berbisik kepada Bima. " Bim, kenapa Kevin gak dihukum ya?" tanya yoga kepada Bima.


" Mungkin dia sudah memenuhi semua tanda tangan para panitia." jawab Bima menerka.


" Selama seminggu ini, apa yang kalian lakukan sampai-sampai kalian belum menyelesaikan tugas itu. Padahal kami para panitia sengaja tidak menanyakan buku tanda tangan itu agar kalian semua memanfaatkan waktu untuk menyelesaikannya." ujar prince.


" Biarkan aku yang menanyakan ini. Apa kalian masih ingin menjadi mahasiswa?" tanya Karin kepada para mahasiswa baru.


" Iya." jawab seluruh mahasiswa baru.


" Jika kalian ingin menjadi mahasiswa, aku berharap kalian dapat menunjukkan komitmen yang serius dalam menyelesaikan tugas ini." ujar prince.


Seketika Nadia muncul dari pintu aula. Nadia berdiri melihat ke sekitar. Fajar menyadari kedatangan Nadia, dan memandang gadis itu.