Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 50



Fajar di jemput oleh Puput untuk pergi bersama ke pernikahan Laras dan Gilang. Selama perjalanan mereka terus berbincang. " Kak, ada yang ingin aku tanyakan?"


" Apa?"


" Apa kakak punya pacar?"


" Sekarang sudah gak, dulu pernah."


" Siapa?"


"Kamu juga tahu, orangnya juga gak asing."


"Apa dia dari fakultas yang sama?"


" Iya, Prince senior kalian saat di ospek." Ujar Puput.


" Kenapa kalian berdua bisa putus?" Fajar seolah mewawancarai Puput sebab dirinya ingin tahu kisah asmara seniornya ini, maklum Fajar belum pernah berpacaran, bahkan ini saja saat sudah dirinya malah patah hati.


" Kita putus, karena aku mengikuti program kampus yang ke luar negeri." Jawab Puput.


Fajar makin ingin tahu, bagaimana Puput bisa melupakan perasaannya kepada Prince, padahal mereka satu fakultas.


"Banyak orang yang gak tahu ya."


"Iya, kita pacaran secara diam-diam gitu."


" Bagaimana kakak bisa move on? Apalagi kalian satu fakultas pastinya ketemu setiap hari. Apa kakak mencoba untuk menghindarinya?" Fajar terus bertanya siapa tahu dia bisa mendapatkan tips move on dengan cepat dari Nadia.


"Meski bertemu setiap hari, pada akhirnya aku juga bisa melupakannya. Dan kita hidup memang harus bisa belajar untuk move on, dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu kita berada di satu perguruan tinggi bukan hanya untuk pacaran, kan." Ujar Puput.


Hal itu membuat Fajar menyadari, jika tujuan dirinya untuk masuk perguruan tinggi bukan hanya untuk tahu tentang Nadia, melainkan juga untuk menempuh pendidikan. Fajar terlalu mengikuti perasaan yang patah, hingga dia lupa dengan tujuannya yang lain. " Kamu benar kak." Ucap Fajar.


" Cinta itu selalu indah. Meski pada akhirnya akan selalu menyakiti." Ujar Puput kepada Fajar.


" Di pernikahan kak Gilang, kakak pasti akan bertemu dengan Kak Prince disana. Apa yang kakak akan lakukan?" Tanya Fajar karena ingin tahu, sebab nanti dia juga akan bertemu dengan Nadia.


"Aku akan menghindarinya sebisa mungkin. Kalaupun bertemu aku hanya akan tersenyum padanya. Dan itu juga yang aku lakukan ketika tak sengaja bertemu dengannya di kampus. Ah! Kita sebentar lagi akan sampai." Jawab Puput.


Jawaban membuat Fajar memahami, meski menghindar namun tak sepenuhnya harus membenci orang tersebut. Namun, mencoba untuk tetap seperti biasa dengan menyapa melalui sebuah senyuman.


Pernikahan tengah berlangsung, acaranya begitu meriah. Banyak tamu undangan yang hadir, dan saat sesi foto bersama, Dea sudah bersedia dengan kamera yang sudah dibawanya. Sesi foto pertama tentu saja kalangan keluarga dari masing-masing mempelai. Lalu sesi kedua barulah untuk teman serta junior dari pengantin yang selama berada di universitas. Nadia dan teman-temannya datang duluan untuk foto bersama tak lupa mereka mengucapkan selamat. Nadia tak menyadari dibelakang mereka sudah ada Fajar bersama dengan Puput teman satu angkatannya. Setelah selesai, giliran Fajar dan Puput untuk foto bersama dengan pengantin. Nadia melihat Fajar bersama dengan Puput, ada perasaan cemburu didalam hatinya. Apalagi Puput sekarang berstatus jomblo, dengan dia dekat dengan Fajar membuat Nadia merasa cemburu. Gilang melihat Nadia yang terus menatap kearah mereka, Gilang merasa jika Nadia mungkin belum puas untuk berfoto. Gilang lalu memanggil untuk bergabung bersama, Nadia menyanggupi dia berdiri tepat disampingnya Fajar. Rasa canggung tercipta diantara mereka. Fajar tak mau melihat bahkan memberikan senyum saat Nadia berada disampingnya.


Sesi foto mereka telah selesai, Fajar hendak pergi bergabung dengan Puput. Nadia dengan cepat menarik tangan Fajar, seolah tak ingin Fajar bersama dengan Puput. " Fajar." Ucap Nadia saat Fajar melihatnya dengan tatapan datar tak seperti dulu, pria itu biasa tersenyum melihatnya.


" Ada apa?"


"Em.. anu...ah! Kamu apa kabar?" Tanya Nadia seolah bingung apa mesti dia katakan kepada Fajar.


"Dekorasinya cantik ya?" Nadia masih bingung apa yang dia bicarakan, yang penting dia bisa mencegah Fajar agar tak bersama dengan Puput.


" Iya."


" Dekorasinya malah mirip sama warna dress ku. Jadi saat foto malah terlihat serba pink, hehe." Ujar Nadia.


" Kak Nadia." Ucap Fajar yang sudah capek melihat Nadia berbicara tak jelas menurutnya.


" Aku tahu ini akan membuat kakak merasa gak nyaman. Tapi jangan membohongi perasaan kakak dengan berpura-pura melakukan hal seperti ini. Jika kakak tetap melakukan ini, itu seperti kakak memberi harapan kepada ku." Ujar Fajar karena dia tahu Nadia hanya berpura-pura memanggilnya, dan Fajar tak mau jika perasaannya tersakiti, sehingga dia ingin mengatakan yang sejujurnya jika dia tak ingin Nadia seolah memberikan dia harapan. Padahal Nadia tak memiliki perasaan yang sama dengannya.


Fajar lalu pergi, Nadia mencoba untuk mencegahnya kembali. Namun Nadia tak bisa, dia malah merasa kesal dengan dirinya sendiri, seolah susah baginya untuk mengungkapkan apa yang selama ini dia rasakan ketika Fajar menghindarinya. Nadia hanya berdiri terpaku sendirian, hingga Karin mengajaknya untuk bersama dengannya menikmati hidangan yang disediakan oleh para tamu undangan. Nadia berdiri bersama dengan teman-temannya menikmati hidangan yang telah disediakan sambil sesekali melirik Fajar yang berdiri bersama dengan Puput.


" Eh! Makanan disini enak-enak ya, ingin rasanya aku bawa pulang untuk ayah sama ibu di kampung. Jangan di kampung deh, ke kos aja sekaligus menghemat biaya pengeluaran makan." Ujar Prince kepada teman-temannya.


"Ih! Apaan sih! Jangan bikin malu-malu deh! Mau aku fotoin lalu aku sebarkan ke orang-orang, hah!" Ucap Dea yang kesal dengan kelakuan Prince.


"Jangan gitu dong, kamu ini dikit-dikit ngancam." Ucap Prince sambil menikmati hidangan.


Nadia teringat akan surat yang dia bawa sebagai hadiah kepada Laras dan Gilang. Segera dia menemui Laras yang kebetulan sendirian. " Ini kak, hadiah dari aku." Ucap Nadia memberikan surat yang sudah ditulisnya.


Laras membuka surat itu, dan membacanya. Laras tersenyum karena setiap kata yang ditulis oleh Nadia begitu indah. " Manis sekali! Makasih ya." Ucap Laras.


" Maaf kak, cuma ini saja yang aku kasih untuk kakak sama kak Gilang. Habisnya aku juga gak tahu kado apa yang akan aku kasih. Kebetulan ada seseorang yang merekomendasikan ku untuk menulis surat untuk kalian. Sekali lagi selamat ya, semoga hubungan pernikahan kalian langgeng sampai tua." Kata Nadia sedikit karena memberikan surat yang dituliskannya sendiri untuk pernikahan seniornya ini.


"Amin. Barusan kamu bilang seseorang. Emangnya siapa yang merekomendasikan?" Tanya Laras penasaran siapa tahu junior yang terkenal galak ini sudah memiliki kekasih.


" Teman kak."


" Cuma teman ternyata?"


" Iya kak, tapi apa aku boleh bertanya sama kakak?"


" Boleh."


" Apa kakak bahagia bersama dengan kak Gilang?"


"Tentu saja dong aku bahagia, jika gak bahagia gak mungkin aku menerima dia menjadi suamiku.


" Seseorang berkata padaku, jika kamu bersama dengan orang tepat maka kamu akan menjadi dirimu sendiri dan kamu akan bahagia. Tetapi jika kamu bersama dengan seseorang yang membuat mu merasa tidak nyaman. Itu berarti orang itu tidak bisa bersama denganmu, itu benar ya?"


" Kamu dengarkan aku baik-baik. Ketika aku bersama dengan gilang, aku tidak selalu merasa bahagia, kita juga sering bertengkar. Dan kamu tahu? Tadi pagi saja kita sempat berantem hanya karena masalah kue pernikahan kita. Tetapi aku dan Gilang, telah melalui banyak hal bersama. Kami sering marah-marahan, lalu bahagia dan sedih bersama. Ada banyak hal yang aku ingin lakukan serta pikirkan bersamanya, itulah kenapa aku memilih tetap bersamanya. Kamu tahu kenapa? Karena Gilang mengubah menjadi orang yang berbeda."


Nadia mulai memahami apa yang dikatakan oleh Laras, namun dia masih bertanya didalam hatinya apakah perasaan ini benarkah perasaan cinta?