
Setelah menerima telepon dari Denis. Nadia merasa lapar, dia meminta Dea untuk membelikannya makanan.
" Dea, tolong belikan aku makanan dong. Jangan lupa susu strawberrynya, ya." pinta Nadia.
"Ah malas, kerjaan mu nyuruh-nyuruh terus." ujar Dea kesal padahal baru saja dia duduk membaca kembali komiknya.
" Tolonglah, kamu tidak lihat kakiku masih belum bisa bergerak." pinta Nadia memelas.
" Salah sendiri mau menyiksa diri. Mana uangnya?" ujar Dea menengadahkan tangannya untuk meminta uang.
" Pake uangmu saja dulu. Nanti aku bayar deh." ujar Nadia.
" Ya udah, setelah sembuh bayar ya."
" Iya-iya.. Aku bayar... Jangan lupa susu strawberry ya." ujar Nadia.
" Aku keluar, aku tidak mengunci pintu kamarnya." ujar Dea keluar dari kamar meninggalkan Nadia sendirian.
Di warung dekat kos, Dea membelikan makanan untuk Nadia. Tidak lupa dia memesan minuman susu strawberry kesukaan Nadia. Fajar yang kebetulan juga ingin beli minum, melihat Dea membayar minuman susu strawberry kesukaan Nadia itu.
" Wow, kakak punya selera yang bagus ya." ujar Fajar melihat minuman Dea, dia teringat akan Nadia. Gadis itu sangat menyukai minuman susu strawberry. Fajar yakin, pasti Dea membelikannya untuk Nadia.
" Kak dea beli minuman ini untuk diri kakak sendiri ya?" tanya Fajar takutnya dia salah menebak.
" Pengen tau aja sih!" ujar Dea kesal.
" Oh, tidak apa-apa kok kak."
Tiba-tiba ponsel disaku jaket Dea berdering. Sang pemilik segera mengangkatnya. Fajar hanya bisa melihat sambil menunggu minuman siap. Dari pembicaraannya, nampak Dea ada urusan yang mengharuskan dirinya untuk segera pergi menemui orang yang menelponnya. Dea melihat makan serta minuman yang dibelinya, sesekali dia memandang Fajar. Fajar menyadari hal itu, dia bisa menebak jika Dea akan memerlukan bantuannya.
Di kamar, karena kaki Nadia belum sembuh total. Nadia hanya bisa berbaring sambil membacakan komik. Tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar. Merasa kesal Nadia berkata, " Ngapain sih pake ketuk pintu segala udah tahu kaki ku ini tidak bisa bergerak. Masih saja mengetuk pintu. Kalau mau masuk, ya masuk aja."
Pintu terbuka, Fajar masuk kedalam kamar. Karena urusan mendadak, Dea terpaksa meminta bantuan Fajar untuk mengantarkan makanan kepada Nadia. Nadia tidak menyadari kehadiran Fajar di kamarnya.
" Kamu lama banget sih! Beli makanan saja kayak pergi ke pasar. Aku udah nunggu dari tadi!" gerutu Nadia, namun matanya sibuk melihat komik bacaannya tanpa menyadari siapa yang mengantarkan makanan untuknya.
"Permisi kak." ucap Fajar.
Ternyata yang menelfon Dea ialah Bagas. Mereka berempat akan bertemu dengan dosen. Karena kos yang tidak jauh dari kampus, Dea tiab dengan cepat kesana. " Bagaimana hasilnya?" tanya Dea.
" Seperti apa yang aku sampaikan ditelfon. Ayo!" ajak Bagas untuk bergabung bersama Prince dan Karin yang sudah duduk berhadapan dengan dosen.
" Sudah aku jelaskan berkali- kali kepada kalian. Jika aku tidak bisa mengizinkan kalian untuk melakukan studi lapangan ini." ujar dosen.
" Tetapi pak, kami sudah melakukan studi lapangan ini setiap tahun. Namun tidak ada masalah sebelumnya." ujar Karin.
" Tetapi tidak untuk tahun ini. Karena banyak orang tua dari mahasiswa menekan dekan universitas untuk tidak mengizinkan adanya studi lapangan ini. Menurut para orang tua, mahasiswa senior selalu meminta mahasiswa baru untuk melakukan kegiatan yang melelahkan." ujar dosen.
" Aku tahu. Tetapi kalian berempat juga perlu tahu tren anti perpeloncoan tahun sangat kuat. Bahkan banyak orang tua yang mengikuti halaman web universitas. Untuk itu dekan meminta kami untuk tidak mengizinkan adanya inisiatif untuk ide studi lapangan ini, agar segera mengatasinya sebelum bertambah parah." ujar dosen menjelaskan agar keempat mahasiswa itu mengerti.
" Aku merasa ini tidak masuk akal, mengapa orang tua tidak manfaat yang didapatkan oleh anak mereka setelah mengikuti studi lapangan ini." ujar Dea.
" Iya pak. Padahal kegiatan ini mengeratkan tali persaudaraan antar senior dan junior." ujar Karin.
" Bagi kalian seperti itu, tetapi tidak untuk para orang tua. Bapak tidak bisa berbuat apa-apa. Ini juga demi kebaikan kampus ini. Jadi bapak berharap, kalian lebih kreatif dalam mencetus ide untuk sebuah kegiatan yang dapat lebih bermanfaat bagi mahasiswa baru. Jika ide kalian mendapatkan lampu hijau dari dekan maka aku akan menandatanganinya. Kalau begitu bapak permisi dulu, karena bapak ada jadwal mengajar kali ini." ujar dosen.
" Terima kasih pak." ujar Dea, Bagas, Karin dan Prince berbarengan.
Nadia terkejut melihat kedatangan Fajar di kamarnya. Dia meletakkan komik yang dibaca sedari tadi. Mencoba untuk duduk dengan duduk saat Fajar berjalan mendekatinya.
" Kenapa kamu ada disini?" tanya Nadia.
" Oh, tadi aku tidak sengaja bertemu dengan kak dea. Dia sepertinya ada urusan mendadak, jadi dia memintaku untuk mengantar ini kepada kakak." ujar Fajar.
" Bajingan si Dea!" gumam Nadia kesal kepada Dea.
" Kak Nadia, bagaimana keadaan kakak?" tanya Fajar.
" Aku baik-baik saja." jawab Nadia, padahal kakinya masih belum sembuh total.
" Ahh.. begitu, terus kenapa kaki Kaka diletakkan diatas bantal seperti itu?" tanya Fajar lagi.
" Aku pengen aja." jawab Nadia.
Tangan Fajar memegangi kaki Nadia dengan sedikit memijitnya membuat Nadia berteriak kesakitan.
" Cedera mu parah sekali. Kakak pasti belum bisa jalan dulu, kan?" kata Fajar setelah memijit kaki Nadia.
" Bukan urusanmu. Kamu bisa pergi sekarang." ujar Nadia cuek Tania melihat kearah Fajar.
" Bagaimana aku bisa pergi, keadaanmu saja masih seperti itu. Biarkan aku mengisi buburmu di mangkok." ujar Fajar.
Layaknya seorang perawat, sebelum mengisi bubur didalam mangkok. Fajar mengambil meja kecil untuk diletakkan didepan Nadia. " Awas kakimu." ucap fajar berhati-hati takut mengenai kaki Nadia.
Fajar lalu menuangkan bubur didalam mangkok, dan mengantarkan bubur dan susu strawberry untuk diletakkan diatas meja. Fajar mengambil kursi belajar Nadia dan duduk sambil memandangi Nadia makan. Nadia yang menyadari keberadaan Fajar menatap pria itu.
" Kenapa kamu masih disini?" tanya Nadia karena fajar tidak kunjung pergi, malah duduk di kursi.
" Aku tidak bisa pergi. Siapa yang akan membersihkan mangkoknya, dan memindahkan meja ke lantai. Kak Nadia tidak mungkin melakukannya, kaki mu belum sembuh total." ujar Fajar sebagai alasan untuk bisa lebih dekat dengan Nadia. Dia juga tidak mungkin meninggalkan gadis itu sendirian di kamar. Mungkin dengan keberadaannya, Nadia bisa meminta bantuannya untuk mengambil sesuatu yang dia butuhkan.
Mendengar perkataan Fajar, membuat Nadia tidak bisa membatah bahkan mengusir pria itu untuk segera pergi dari kamarnya. Dan apa yang dikatakan Fajar memang benar tidak mungkin baginya untuk memindahkan meja dan mangkok ini dari hadapannya.