
Vino yang meminta bertemu dengan Nadia mencurahkan isi hatinya mengenai hubungannya dengan Chika, untuk beberapa bulan kemarin hubungan Vino dan Chika tidak baik-baik saja. Chika selalu sibuk dengan kegiatan kampus sampai lupa memperhatikan pacarnya. Vino yang bucin ini merasa jika hubungan mereka sudah mulai renggang. Nadia memahami permasalahan itu, meski dirinya tak tahu harus memberikan saran seperti apa untuk hubungan sahabatnya itu. Nadia hanya ingin Vino lebih sedikit bersabar, jika bisa Vino diminta untuk lebih terbuka mengenai hubungan mereka. Karena asyik berbincang, Nadia lupa memesan minumannya. Nadia segera memanggil pelayan memesan segelas susu strawberry kesukaannya. Vino sudah paham betul kesukaannya Nadia, karena dia tahu jika Nadia terkenal di jurusannya sebagai kakak kelas yang kejam, bagi Vino minuman susu strawberry terkesan tidak cocok lagi untuknya. Nadia tidak perduli, meski kata-katanya Vino itu mengingat lagi dirinya kepada Fajar yang dulu pernah mengatakan hal yang sama.
Saat mereka berdua tengah asyik mengobrol, Nadia tak sadar jika Fajar melintas di cafe itu dan melihat Nadia tertawa bersama cowok yang pernah dirinya bertemu saat sedang membelikan kado untuk ponakannya. Fajar merasa cemburu, Nadia menghindarinya namun dirinya malah melihat Nadia bertemu dengan Vino yang merupakan cinta pertama Nadia. Melihat Nadia tertawa tanpa beban seperti membuat hati Fajar terluka, Fajar merasa dia sudah kalah, dan tak akan bisa membuat Nadia menyukainya. Fajar pergi dari situ, dia tak mau melihat lagi senyuman Nadia saat bersama dengan Vino.
Chika datang menemui Vino dan Nadia yang tengah mengobrol. " Maaf ya, aku telat lagi." Ucap Chika merasa bersalah karena terlambat saat pacar dan sahabatnya sudah duluan ketempat pertemuan mereka.
" Gak masalah kok." Ucap Nadia agar Chika tak merasa karena dia memaklumi kesibukan sahabatnya itu.
Mereka kembali mengobrol dan bernostalgia lagi kisah persahabatan mereka sahabat mereka saat menginjak SMA, banyak kenangan yang membuat mereka tertawa bersama. Hingga Chika sesuatu yang harus ia sampaikan kepada Nadia. " Nad, kamu tahu gak teman satu jurusan ku yang bernama Laura."
" Oh iya, tahu. Ada apa?"
" Dia naksir salah satu junior di jurusan mu." Ujar Chika.
" Benarkah! Siapa?" Nadia begitu penasaran siapa juniornya yang di naksir oleh teman dekat sahabatnya itu.
" Kamu pasti tahu, dia dulu pernah menjuarai kontes bintang kampus." Kata Chika.
" Oh! Fajar?"
" Iya, Laura menyukai sejak dia melihat Fajar di kontes itu. Dia meminta ku untuk meminta bantuanmu dengan bertanya apa yang Fajar sukai, kalau perlu kenalin dia kepada Fajar." Ujar Chika.
" Aduh jangan deh! Fajar itu orangnya gak asyik banget. Dia itu orang selalu rapi dari atas sampai bawah, dia bangun tidur terlalu pagi bahkan kebiasaannya sarapan cuma minum susu sama makan donat, bukan hanya itu selera makan hambar banget. Masa makan bakso aja yang gak diracik, bukan hanya itu dia selalu makan nasi goreng dengan telur ceplok. Kadang juga cuma nasi biasa dan telor, hambar banget selera makannya." Kata Nadia panjang lebar mengenai Fajar.
" Kamu sepertinya tahu banget tentang junior mu." Goda Vino.
" Kebetulan si Fajar tetanggaan sama aku." Ujar Nadia mengelas.
" Benarkah! Pas banget dong kamu bisa bantu Laura." Ujar Chika.
Vino sangat tahu sahabatnya itu, setelah bercerita banyak tentang Fajar, raut wajah Nadia terlihat berbeda. Vino merasa jika Nadia seperti menyembunyikan sesuatu tentang dirinya dan Fajar. " Kamu kenapa?" Tanya vino kepada Nadia.
" Aku gak apa-apa." Jawab Nadia.
" Kamu seperti menyembunyikan sesuatu, ada sesuatu ya antar kamu dan junior mu itu." Tanya Vino kepada Nadia.
" Gak ada. Kita cuma senior dan junior gak ada hubungan apa-apa." Nadia mengelak.
Vino hanya percaya saja dengan perkataan Nadia, meski dia tahu betul dari raut wajah gadis itu seperti menyembunyikan sesuatu.
Fajar masuk ke kamar kosnya dengan keadaan patah hati, sekarang dirinya menyadari perasaannya sendiri. Berawal dari rasa ingin tahu dan mengenal calon istrinya, dia menyadari jika dirinya sudah terlampau jauh mencintai calon istrinya itu. Meski dia sadar, gadis itu tidak memiliki perasaan padanya. Dengan keadaan patah hati, Fajar duduk lesu di kursi tempat di dekat belajarnya, di dalam laci dia mengambil sebuah foto. Foto Nadia, sang calon istrinya yang membuat Fajar mulai jatuh cinta. Ditatap foto itu dengan raut wajah sedih, seolah harapan pupus begitu saja. Fajar yakin jika Nadia tahu jika orang tua mereka menjodohkan mereka berdua, pasti Nadia dengan bersikeras akan menolak perjodohan itu. Fajar meletakkan foto itu, mengambil sebatang rokok, dan ingin mengisapnya. Namun, dia mengurungkan niatnya itu karena mengingat kembali kata-kata Nadia kepadanya.
Disisi lain, Nadia masuk ke kamar kosnya dengan keadaan yang sama, tetapi bukan patah hati melainkan perasaan galau. Karena dia sudah mengetahui perjodohan yang direncanakan oleh orangtuanya. Saat liburan semester dirinya pulang ke rumah orang tuanya, saat itulah orang tuanya mulai membicarakan hal penting itu kepadanya. Awalnya Nadia ingin menolak perjodohan itu, namun saat orang tuanya meminta agar Nadia mencoba untuk mengenali calon suaminya, Nadia akhirnya menyetujui permintaan itu. Namun, dia terkejut jika yang menjadi calon suaminya ialah Fajar, junior yang selama ini membuatnya curiga karena memiliki perasaan padanya. Nadia memilih menghindar karena meragukan perasaannya apakah dia sudah melupakan Vino dan membuka hati untuk Fajar. Namun, satu sisi dia tak bisa menerima kenyataan jika calon suaminya itu hanyalah seorang juniornya di kampus. Nadia begitu dilema dengan pilihan ini. Dia melihat ponselnya, dikontak banyak sekali nama Fajar yang menelfonnya. Nadia begitu gundah, apakah dia tetap menjalani perjodohan ini meski calon suaminya adalah juniornya sendiri. Nadia lalu mencoba menghubungi Fajar, karena teringat akan beberapa buku pinjamannya di perpustakaan belum dia kembalikan.
" Hallo, kak Nadia.." sapa dari sebrang terdengar suara yang begitu serak namun pelan.
" Fajar, aku cuma ingin menyampaikan ada beberapa buku yang disana itu merupakan buku pinjaman dari perpustakaan. Kamu tolong kembalikan saja ya." Nadia ingin mematikan telfonnya namun Fajar kembali memanggil namanya.
" Ada apa?" Tanya Nadia.
" Apa kakak marah padaku?"
" Aku gak marah." Jawab Nadia.
" Kenapa kak Nadia menghindari ku? Jika karena pertanyaan kakak saat itu. Aku akan menjawabnya. Aku gak tahu sejak kapan perasaan ini muncul, aku tahu kakak adalah senior ku di kampus. Tetapi perasaan ini muncul begitu saja. Aku akan menjawab pertanyaan kak Nadia, jika aku..."
Nadia segera mematikan ponselnya, dan tak mau mendengar lebih lanjut jawaban akan perasaan Fajar padanya. Nadia masih belum sanggup, karena dirinya masih belum bisa menerima dengan baik jika Fajar yang akan menjadi calon suaminya nanti. Nadia yang tegas menjadi begitu lunak, ketika perasaan mulai tersentuh oleh pria yang ternyata adalah calon suaminya yang telah dijodohkan oleh orang tuanya.