
Kevin dan Fajar mendekati diva yang tengah duduk sendirian sambil membaca buku. Kevin disampingnya diva sedangkan Fajar duduk dihadapan Diva. Melihat kedua seniornya itu, diva menghentikan aktivitasnya.
" Diva, kami ingin memintamu bergabung pada kegiatan di pantai. Kegiatan ini kami buat untuk sebagai penutup kedua dari kegiatan ospek, dan untuk menambah keakraban antar kami para senior dan junior. Kegiatan itu jatuh pada hari Sabtu akhir bulan nanti. Kamu bisa gabung bersama kami?" Pinta Kevin sekaligus menjelas tujuan mereka untuk mengajak Diva agar ikut bersama mereka di kegiatan itu.
" Dalam kegiatan ini aku berharap untuk semua mahasiswa fakultas teknik datang dan menikmati acaranya termasuk kamu." Fajar menambah perkataan Kevin agar Diva berkenan untuk ikut dalam kegiatan yang mereka adakan.
" Makasih ya kak. Tapi maaf." Ucap Diva menolak untuk ikut bergabung dalam kegiatan itu.
" Kenapa?" Tanya Kevin, dia ingin tahu alasan kenapa diva tidak mau ikut bergabung. Padahal kegiatan ini tidak seperti ospek, melainkan kegiatan hiburan dari penatnya belajar.
" Baik, mahasiswa lain memiliki hak untuk ikut bergabung, namun aku juga sama memiliki hak untuk tidak ikut bergabung."
Lagi-lagi menolak, namun Kevin tidak akan menyerah. Dia ingin diva merasakan rasanya bercengkrama antar mahasiswa baru dengan para senior. " Tapi kebanyakan dari mereka mau untuk bergabung."
" Kebanyakan dari mereka? Bagaimana bisa kamu mengukurnya?"
Kevin dan Fajar saling memandang, perkiraan Kevin salah besar. Lagi-lagi sangat susah membujuk diva untuk bergabung dalam kegiatan. Padahal di malam penutupan kemarin, Kevin sudah memperlihatkan kepada Diva, suasana harmonis yang terjalin antara para senior dan junior. Namun, itu semua tidak mempan bagi seorang diva. Dia seolah memiliki prinsip jika dia kuliah hanya untuk belajar tidak untuk bersenang-senang.
Nadia pulang ke rumah, rumah begitu bersih dan rapi. Dia merasa sangat lelah karena bekerja seharian. Dia membuka kulkas terlihat dua piring makanan berisikan sayur dan ikan yang sudah disiapkan oleh Fajar. Disana terdapat kertas kecil yang menempel, dengan tulisan, " jangan lupa untuk dimicrowife ya." Nadia tersenyum saat membaca. Dia lalu memasukan makanan secara bergantian dimicrowife. Sambil menunggu, Nadia menulis kegiatan yang akan dia lakukan, dia tempelkan didinding sesuai dengan tanggal, supaya dia bisa melihat dan ingat ada kegiatan yang akan dia lakukan saat ditanggal itu. Ponselnya berdering, Nadia menjawabnya.
" Hallo."
" Apa kakak Nadia lakukan? Apa kak Nadia sudah makan?" Tanya dari telepon yang merupakan suara Fajar.
" Aku sedang memanaskan lauk yang kamu masak tadi."
" Selamat makan. Maaf aku tidak bisa pulang malam ini."
" Tidak apa-apa. Aku mengerti, karena dulu aku juga berada diposisi mu." Nadia sudah memahami itu, meski rasanya begitu sepi karena malam ini dia harus tidur sendirian tanpa pelukan hangat dari Fajar.
" Pada hari Sabtu nanti, kami akan adakan kegiatan penutupan semacam liburan. Kakak bisa ikut juga, nanti kita bisa menikmati waktu bersama."
"Fajar, aku minta maaf tapi aku harus pergi ke kantor hari itu. Maklum aku masih junior di kantor, jadi ada rekan kerja yang meminta bantuan ku." Katanya sambil menatap kertas yang baru saja ditempelkan pada hari Sabtu mendatang dengan tatapan kecewa. Dalam hati dia juga ingin pergi bersama Fajar, dia takut jika pria itu digoda oleh para juniornya. Mau bagaimana lagi, sudah takdirnya jika hari Sabtu nanti dia harus berangkat ke kantor.
Diva memandangi brosur yang tertempel di papan pengumuman. Melihat brosur mengenai kegiatan Sabtu nanti, jika semua mahasiswa fakultas teknik akan melakukan kegiatan menanam pohon bersama.
" Apa kamu yakin untuk tidak ingin bergabung?" Tanya seseorang dari belakang yang ternyata adalah Fajar.
" Tidak kak."
" Kita mungkin memiliki pemikiran yang berbeda.Tapi aku belajar darimu akan hal baru. Makasih." Ucap Fajar lalu pergi.
Saat Kevin dengan ingin menyentuh tangan Diva, Diva berjalan seolah tidak ingin lagi ditarik tangannya oleh Kevin. " Jangan seret aku untuk melakukan kegiatan menanam pohon bersama. Aku bisa saja memanggil polisi untuk menangkapmu karena upaya penculikan."
Kevin tersenyum, dia merasa lucu dengan tingkah diva dan memanggil diva dengan nomor mahasiswanya. " Baiklah. Aku kesini bukan untuk memaksa apapun. Aku hanya ingin memberitahumu. Jika kamu berubah pikiran, kamu masih bisa untuk bergabung."
" Sudah aku bilang, jangan memanggil ku dengan angka."
Kevin mendekati, namun diva terus berjalan mundur. Kevin berhenti, karena diva terlihat menghindar darinya. " Namamu diva, kan? Aku akan mengingatnya."
Diva langsung pergi, sebelum Kevin memaksanya lagi. Sedangkan Kevin memandangi kepergian diva.
Fajar pulang ke rumah, dia melihat keadaan rumah yang lumayan berantakan. Fajar tidak merasa kesal dengan Nadia yang membiarkan saja keadaan rumah yang berantakan saat berangkat kerja. Fajar sangat mengerti dengan istrinya. Nadia bisa saja merasa lelah karena sudah bekerja seharian. Dan pastinya gadis itu pergi dengan keadaan terburu-buru karena bangun terlambat. Biasanya setiap pagi Fajar akan membangunkannya, namun karena ada pekerjaan yang mengharuskan Fajar untuk menginap di kos Bima selama dua malam. Karena mereka akan mempersiapkan agenda kegiatan untuk acara Sabtu mendatang. Maka dari itu, mereka akan terus melakukan pertemuan.
Fajar membersihkan semua pakaian kotor dan juga kertas yang menumpuk di meja. Dia memilah kertas yang mungkin masih dipake oleh Nadia dengan kertas yang sudah dicoret. Dia membersihkan kasur mengantikan seprai yang baru. Fajar tidak pernah melakukan pekerjaan karena baginya hubungan suami istri bukan hanya suami yang menunggu istri yang melakukan semua pekerjaan rumah tetapi suami juga harus ikut andil dalam melakukan pekerjaan rumah.
Malam datang, Nadia baru saja pulang. Dia terlihat kusut dengan pekerjaannya. Fajar tersenyum menyambut istrinya. Makanan suda tertata rapi di meja makan. Nadia melihat suaminya, dia langsung memeluknya. Meluapkan rasa lelah yang menumpuk ditubuhnya. Fajar menyambut pelukan itu, dia mencoba memberikan kehangatan tubuhnya.
" Ah.. Aku sangat lelah.." ucap Nadia masih dipelukan suaminya.
" Kakak mandi dulu. Aku sudah siapkan air hangat untuk kakak. Makan malam juga sudah siap. Aku akan tunggu kakak untuk makan malam bersama."
Nadia melepaskan pelukan, Nadia tersenyum senang melihat suaminya yang begitu pengertian kepadanya. Dia memegangi, dua hari terasa seperti setahun bagi Nadia. Wajah serta kulit lembut Fajar sangat Nadia rindukan.
" Makasih ya." Ucapnya.
" Tidak perlu berterima kasih kak. Bukannya ini sudah tanggung jawab aku sebagai suami."
" Seharusnya membersihkan rumah dan memasak adalah tugasku sebagai istri. Tapi kamu malah.."
" Sudahlah.. lebih baik kakak mandi. Hangatkan tubuh kakak. Baru kita makan malam bersama." Fajar mengarahkan tubuh Nadia ke kamar mandi.
Nadia terdiam, dia masih belum masuk ke kamar mandi. Dia ingin mengatakan sesuatu kepada suaminya namun rasanya begitu malu.
" Kakak masih belum mandi, nanti makanannya keburu dingin." Ucap Fajar melihat Nadia masih tetap berdiri didepan pintu kamar mandi.
" Fajar."
" Iya?"
" Mau.... Eum....mandi bersama."