Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 65



Kegiatan ospek sedang berlanjut, saat berhadapan dengan mahasiswa baru. Fajar melihat seorang mahasiswi tidak mengenakan name tag nya, dia lalu menghampiri namun raut wajah tidak memperlihatkan senyum sama sekali.


" Kamu! Berdiri! Dimana nametag mu?" Tanya Fajar kepada mahasiswi itu yang ternyata adalah Fani.


Fani berdiri lalu menunduk, dia berpikir jika sebentar lagi dia akan mendapatkan hukuman karena kehilangan name tag nya.


" Siapa namanya? Dan apa kegiatan favoritnya?" Tanya fajar kepada semua mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan ospek. Namun tak ada yang berani mengangkat tangan mereka untuk menjawab, hingga Fajar harus bertanya sekali lagi.


Seseorang mahasiswi mengangkat tangannya, lalu menjawab, " namanya Fani, dan dia sangat suka menonton film."


" Siapa disini yang suka menonton film? Angkat tangan kalian." Tanya Fajar kepada semua mahasiswa baru.


Beberapa mahasiswa mengangkat tangannya, ternyata beberapa dari mereka mempunyai hobi yang sama dengan mahasiswi bernama Fani ini. Lalu juga bilang jika dirinya juga suka menonton film, sambil tersenyum tipis kepada Fani. Lalu dia kembali berkata," Sebenarnya nametag hanyalah memberi tahu nama dan nomor mahasiswa kalian saja. Namun tidak memberitahu apa yang disukai. Dan tempat apa yang menjadi favorit. Atau memberitahu kalian apa yang makanan yang disukai. Tapi itu akan membantu temanmu dan senior untuk bisa mengingat mu. Dan yang lebih penting itu, adalah aku ingin kalian semua dapat berkomunikasi satu sama lain. Siapa tahu diantara kalian begitu pula dengan kami para senior memiliki hobi dan minat yang sama. Dan kamu, nanti aku akan berikan lagi nametag baru untukmu, dan jangan lupa kenalan dengan teman-teman mu juga. Sekarang kamu boleh duduk."


Namun, salah satu mahasiswi yang pernah ditemui oleh Kevin tiba-tiba saja berdiri. Dia tidak mengerti dengan konsep dari kegiatan ospek ini. Bagi dirinya kenalan tak perlu dilakukan kegiatan semacam ini, karena nanti seiring berjalan waktu baik mereka bahkan senior nantinya akan saling mengenal satu sama lain. Dan menurut pasangan mahasiswi itu, kegiatan ini begitu merugikan waktunya. Dia berdiri dan pergi begitu tanpa pamit kepada para seniornya. Kevin yang mengenali mahasiswi itu hanya terdiam, dia tak bisa mengejar karena kegiatan masih belum usai.


Setelah kegiatan mereka kembali rapat, sebagai ketua wajib bagi Fajar untuk mengetahui beberapa banyak mahasiswa baru yang berminat untuk mengikuti kegiatan ospek ini. Menurut laporan dari Mina, sudah banyak mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan ini, hanya salah satu yang masih enggan untuk ikut. Dan itu membuat Kevin kepikiran, kenapa masih ada mahasiswi yang tak mau mengikuti kegiatan semacam ini. Padahal konsep yang diterapkan ospek kini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan Bima memberikan usul untuk bisa menemui para mahasiswa baru setelah selesai mata kuliah dengan memberikan semacam semangat agar mereka tetap bisa bertahan mengikuti kegiatan sampai akhir. Karena kegiatan ospek ini, sangat dipantau oleh dekan. Sebab, takut menimbulkan kekerasan bagi para mahasiswa baru. Jadi, perlu kehati-hatian bagi mereka dalam melaksanakan kegiatan ini, jangan sampai terbawa emosi jika ada mahasiswa baru yang membangkang.


" Mari kita buat kegiatan ini lebih transparan akan apa yang kita lakukan. Contohnya, kita meminta beberapa dosen untuk bergabung dalam kegiatan kita. Dan kita akan mengirim laporan kepada dosen setiap saat. Jadi, para dosen baik dekan bisa tahu jika kegiatan kita ini tidak mengandung kekerasan dan fokus pada kegiatan yang konstruktif." Kata Fajar selaku ketua panitia kepada panitia lain.


Nadia baru saja tiba di kantor, terlihat sudah ada dua karyawan yang berada di dalam ruangan. Nadia menyapa Sari, namun Sari malah menyambutnya dengan bertanya soal sepatu high heels mana yang bagus untuknya. Nadia malah tak bisa menjawab sebab dirinya tak begitu menyukai high heels. Nadia menyapa Edgar yang duduk disampingnya, dan bertanya kapan Edgar sampai ke kantor. Namun sayang, lagi-lagi Nadia dicuekin oleh Edgar. Edgar terlihat serius bekerja sambil mendengarkan headset yang tersambung di ponselnya.


John masuk keruangan, dia sepertinya juga baru saja tiba. Dia lalu menghampiri Nadia. " Nad, pak Danang sudah datang belum?"


" Sepertinya belum." Jawab Nadia, sebab saat melihat ke ruangan manajer tak terlihat sang manajer disana.


" Ah, baiklah. Kalau begitu kamu bisa bantu aku?" Tanya John meminta bantuan kepada Nadia.


" Bisa.. tapi..."


" Yakin? Jika aku pergi sekarang?" Tanya Nadia memastikan sebab dirinya baru saja tiba di kantor begitulah pula dengan John, setidaknya periksalah dulu isi dari dokumen itu.


" Iya, makasih ya Nadia." Ucap John sambil tersenyum.


Nadia mengantarkan dokumen tadi, setiap masuk ke tempat produksi banyak karyawan yang menyapanya. Siapa yang tak kenal Nadia sebab Nadia pernah magang di depertemen produksi cukup lama. Nadia masuk ke ruangan Toni, kebetulan Toni memang sedang berada di ruangan. Toni tersenyum saat Nadia datang, dia menyapa Nadia, sudah lama dia tak bertemu dengan Nadia.


" Hey nad, bagaimana kabarmu?"


" Baik kak. Ini aku diminta kak John untuk memberikan dokumen ini kepada kakak." Ujar Nadia memberikan dokumen kepada Tino.


" Dia selalu memberikannya terlambat, untungnya aku sudah menyelesaikannya. Ini tolong berikan kepada John. Nadia, bagaimana bekerja di bagian pembelian? Pastinya enak karena seharian cuma berhadapan dengan meja." Kata Toni yang mulai ingin tahu keadaan Nadia bekerja di bagian pembelian.


" Tidak buruk kak, masih awal bekerja jadi masih belum merasa bosan." Jawab Nadia.


" Orang seperti kamu pastinya akan merasa bosan jika bekerja dibagian pembelian, apalagi cuma berurusan dengan dokumen. Tapi lama-lama bakalan terbiasa. Apalagi kamu ini seorang yang cepat belajar. Jadi kamu pasti dapat membaur dengan pekerjaan seperti itu." Kata Toni.


" Iya, akan aku coba." Jawab Nadia, baginya bekerja di bagian produksi adalah hal yang terbaik meski pekerjaan itu sangat memberatkan.


Tiba-tiba masuk seorang wanita yang memeluk Nadia dari belakang. " Dek Nadia, apa kamu tahu sudah lama aku merindukanmu?"


Nadia tersenyum, dia juga sudah lama merindukan pekerjaan ini dan juga para karyawan disini. Namun Toni menghentikan aksi saling merindu itu karena dia tahu pasti Cherry pasti belum menyelesaikan pekerjaannya. Cherry begitu kesal dengan Toni yang tak mengerti dengan perempuan. Toni membela jika dirinya harus membiarkan Nadia pergi karena Nadia juga harus menyelesaikan pekerjaannya. Dan akhirnya pertemuan saling melepaskan rindu harus tertunda.


" Nanti setelah pekerjaan mu selesai datang dan temui lagi aku disini ya." Ucap Cherry kepada Nadia.


" Baik kak, kalau begitu aku permisi dulu ya." Ucap Nadia pamit untuk kembali ke kantornya.


Seharian ini, pasangan suami istri itu terlalu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing hingga membuat mereka lupa untuk saling berkomunikasi. Dengan kesibukan diantara mereka, apa cinta mereka akan bertumbuh ditambah mereka berdua sering bertemu dan berkenalan dengan orang baru. Apakah tak ada masalah bagi Nadia maupun jika harus berhadapan serta bertemu dengan orang baru dan apakah hubungan Nadia dan Fajar akan tetap membaik meski sesibuk apapun mereka tanpa adanya komunikasi.