Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 78



Fajar mengarahkan mahasiswa baru ke tempat mereka masing-masing untuk menanam pohon muda. Mahasiswa baru menuju tempat yang telah ditentukan. Semua memulai kegiatan begitulah Fajar, dia memantau dan juga membantu mahasiswa baru yang masih tidak cara untuk menanamnya.


Bima bukannya ikut menanam, dia justru memantau Mina yang tengah bersama junior lelaki untuk menanam pohon bersama. Mina mengajarkan mereka cara menanam yang benar. Penampilan Mina yang mencolok membuat Bima khawatir, rasa cemburunya membuatnya tidak bisa melarang atau menegur gadis itu.


Melihat Bima yang sedari tadi hanya diam dan melihat saja. Yoga sebagai sahabat menghampirinya sambil membawa dua botol air mineral. " Jika kamu hanya melihatnya dari kejauhan, seseorang bisaja saja akan merebutnya darimu. Ini!" Memberikan dua botol air mineral kepada Bima.


" Untuk apa ini?" Bima masih belum mengerti dengan maksud dari sahabatnya itu.


" Berikan satu botol air mineral itu kepadanya. Pergi sana!" Ucap yoga mendorong Bima untuk pergi mendekati Mina.


Saat Bima berjalan mendekati Mina, yoga memanggil mahasiswa yang berada bersama Mina untuk membantu mengangkat tanaman muda yang masih di bus. Dia sengaja begitu supaya, Bima bisa mendapatkan kesempatan untuk berdua bersama dengan Mina.


" Mina, apa kamu lelah? Ini minumlah." Ucap Bima saat sudah berada didekat Mina. Dia menawarkan satu botol air mineral untuk mina, namun gadis itu masih sibuk dengan menanam pohon muda.


Bima terdiam sejenak, meski dia tidak merasa enak dengan Mina, namun dia ingin menegur Mina akan penampilannya. " Mina, bukannya aku lancang. Tapi bagiku tidak baik kamu seorang gadis berpakaian seperti itu."


" Aku datang kesini untuk menanam pohon. Emangnya kamu ingin aku berpakaian seperti apa?" Mina merasa tidak suka ditegur seperti itu oleh Bima.


" Ya.. aku cuma merasa tidak baik saja. Apalagi aku melihat beberapa junior cowok ingin berada didekat mu."


" Mereka hanya datang untuk membantu ku. Aku tidak merasa jika mereka memiliki maksud lain. Dan juga ini tergantung dari pribadi masing-masing atau kamu sendiri yang berpikir buruk tentangku." Mina merasa kesal dengan Bima yang menegurnya. Lalu pergi meninggalkan tanpa menerima botol air mineral yang ditawarkan oleh Bima.


" Mina.. ada kotoran di pipimu." Ucap Bima terbata-bata dan merasa bodoh telah mengatakan hal tersebut kepada Mina tanpa memikirkan perasaan Mina.


" Kebetulan sekali! Bima! Berikan padaku! Aku harus sekali." Ucap Gladis yang kebetulan berada disitu, dia menginginkan air mineral yang dibawa Bima. Sebab dirinya sudah merasa lelah karena menanam pohon.


Mina berada di toilet, didepan kaca dia ingin membersihkan wajah. Dia melihat pantulan wajahanya. Terdapat kotoran diarea pipinya, kotoran yang sempat dikatakan Bima tadi. Kotoran itu membuatnya teringat akan Bima yang dulu pernah membersihkan wajahnya yang pernah terkena cat dengan tangannya. Dia mengingat perhatian Bima, Bima selalu memperhatikan hal kecil meski Mina tidak menyadari. Bahkan keringat yang menetes pun, Bima memberikan sapu tangannya untuk Mina.


Bahkan saat Mina patah hati karena cintanya di tolak oleh Fajar, Bima masih setia menemani dan mencoba untuk menghibur. Mina tidak menyadari semua itu karena dirinya terlalu terpaku menyukai Fajar, dia tidak menyadari jika ada orang lain yang selalu memberikan perhatian bahkan menemaninya hingga sekarang. Mungkin perkataan Bima tadi, juga bentuk perhatian kepada Mina. Tetapi Mina justru merasa kesal, karena baginya Bima sudah mulai mengatur dirinya.


Sedangkan Fajar dan panitia lain beserta Dea sebagai perwakilan mantan sudah bersiap-siap menunggu mahasiswa baru diarahkan ke pantai. Karena malam itu akan menjadi malam kenangan sekali selama menginjak bangku kuliah. Di malam itu mahasiswa baru akan diberikan sebuah gelang yang akan menjadi simbol bagi mahasiswa teknik.


Suasana hati terasa tidak baik hari wajahnya terlihat begitu murung. Bahkan saat pengisi acara meminta Bima yang yoga ke atas panggung. Kevin sampai harus menyadari Bima, karena sedari tadi dia bengong sambil melihat kearah Mina yang berdiri tak jauh darinya.


Bima dan yoga menaiki panggung untuk melontarkan beberapa kalimat untuk semua para mahasiswa baru.


" Selamat malam semua. Kami para panitia sangat menikmati semua pertunjukan kalian semua. Namun untuk saat kami meminta kalian semua untuk diam, sebelum kita semua beralih ke ritual penting acara malam ini. Aku berharap kalian semua dapat mengerti. Dan setelah ritual dimulai, aku berharap kalian semua dapat memahami arti dalam ritual itu. Apakah begitu, Bima?" Kata Yoga sebagai pembuka.


" Iya. Aku jadi mengingat kembali saat aku berada di semester awal. Itu merupakan momen yang sangat berkesan bagiku." Ucap Bima lalu menatap kearah Mina yang berdiri disamping panggung.


" Saat itulah aku bisa menghabiskan waktu bersama dengan orang lain. Aku menjadi kenal dengan orang-orang yang awalnya aku tidak tahu. Semua perasaan yang aku miliki ditujukan melalui tindakanku. Tanpa harus berkata apa yang ingin aku maksud."


Mina yang mendengar itu mulai merasa jika perkataan Bima sepertinya ditujukan untuknya. Dia hanya menunduk dan tidak mengangkat wajahnya. Dia masih belum bisa memandangi Bima yang tengah mengungkapkan apa yang dia rasakan diatas panggung.


Yoga mengerti dengan apa yang dikatakan Bima dan tujuannya untuk siapa. Sebelum semakin panjang, Yoga langsung memotongnya, " Iya benar sekali, Bima. Tentang semua perasaan yang kamu baru saja katakan. Kami ingin kalian semua memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya. Baiklah, semuanya sudah waktunya. Silakan kalian semua berdiri."


Semua mahasiswa baru berdiri, Gladis menarik Mina dan Citra karena mereka akan membimbing mahasiswa baru untuk berjalan menuju pantai. Satu persatu mahasiswa baru keluar dari aula, mereka mulai berjalan menuju arah yang telah diarahkan oleh Mina, citra dan Gladis. Sebelum keluar aula, Mina memandangi Bima yang masih berdiri diatas panggung sejenak. Arah pandang mereka bertemu, namun Mina segera keluar dari aula. Bima hanya bisa tertunduk lesu, rasanya sudah tidak ada harapan lagi baginya.


Di pantai, Fajar dan panitia telah berdiri siap menanti semua mahasiswa baru. Terdapat hiasan lampu warna warni serta bendera yang melambangkan universitas serta logo fakultas teknik.


" Semua mahasiswa baru, dibelakang ku ini sudah terdapat gelang yang dibuat untuk kalian sebagai mahasiswa baru di fakultas teknik. Kami para panitia disini akan duduk sambil mempersilahkan kalian semua berjalan melewati kami untuk mengambil gelang tersebut." Kata fajar menyambut mahasiswa baru.


Semua mahasiswa baru berjalan lurus, disana terdapat Dea yang berdiri sambil memegangi gelang. Dialah yang akan memberikan gelang itu kepada semua mahasiswa baru.


Semua panitia duduk berpasang-pasangan, dan beruntungnya Bima duduk berhadapan dengan Mina. Yang tadinya raut wajah lesu, kini tersenyum sambil memandangi Mina yang duduk dihadapannya. Dalam hati dia terus berkata, harapanku masih ada.