
Celina berada di pinggir membangun sebuah istana dari pasir sendirian. Toni melihatnya dari jauh, Toni menghampiri Celina untuk memperbaiki hubungan mereka. Semenjak di kantin kantor, Celina seperti menjauh dan cuek kepada Toni.
" Celina." Sapa Toni, namun gadis itu masih sibuk membuat istana dari pasir.
" Kak Toni, itu..."
" Aku ingin minta maaf sekali menjelaskan kenapa kamu ditetapkan di departemen QC."
" Tapi kak.."
" Sebenarnya aku sudah tahu soal perpindahan mu ke depertemen QC, aku sudah berusaha menahan mu untuk tetap bekerja di departemen produksi. Namun, kak Sam selaku pemimpin depertemen QC ingin kamu bergabung dengannya. Dia melihat potensi bagus di depertemen QC. Makanya itu dia sangat membutuhkan di depertemennya, aku sudah mencoba untuk tetap di depertemen produksi bekerja denganku. Namun, setelah mendengar kak Sam yang membutuhkan mu, aku memilih mengalah karena ini demi masa depan perusahaan dan juga masa depanmu." Toni menjelaskan semuanya, dia ingin Celina tidak marah padanya lagi. Dan hubungan mereka semakin baik dan tidak menjauh lagi.
" Kak Toni, aku sudah tidak marah sama kakak. Bahkan aku sudah memaafkan kakak saat kakak memberikan potongan semangka padaku. Tapi itu, istana kakak menginjaknya."
Toni terkejut melihat kakinya menginjak istana pasir yang dibuat oleh Celina. "Maaf. Aku akan membantu memperbaikinya." Ucapnya.
Mereka berdua membangun istana pasir bersama. Kecanggungan diantar mereka sudah hilang, kini suasana menjadi hangat. Pantai memang membuat suasana menjadi sejuk dan hangat bagi orang yang mengunjunginya.
Fajar dan Nadia masih duduk dipinggir pantai dengan pakaian yang sudah basah kuyup karena aksi mereka yang kejar-kejaran di pantai. Tiba-tiba Cantika datang menghampiri mereka berdua, dia meminta foto bersama dengan Fajar dan Nadia. Nadia tidak begitu suka dengan kehadiran Cantika, karena sudah menganggu keromantisannya dengan Fajar.
" Mari kita foto bersama, aku belum berfoto dengan kalian berdua." Ucap Cantika duduk ditengah-tengah fajar dan Nadia.
Nadia menatap dengan tatapan tidak suka, karena Cantika yang duduk di tengah dirinya dengan Fajar. " Seharusnya aku yang ditengah." Bisik Nadia dalam hatinya.
" Oke.. lebih dekat dong kalian berdua." Ucap Cantika mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka bertiga.
Nadia benar-benar tidak suka, apalagi melihat Fajar yang terlihat begitu menempel dengan Cantika. Namun, dia harus berpura-pura senyum agar potret wajahnya terlihat cantik.
Setelah mendapatkan beberapa foto dengan Nadia dan Fajar, Cantika pergi dengan membawa kamera ponselnya dengan senang.
" Kamu kenapa pula pake dekat begitu sama Cantika!" Nadia memarahi Fajar yang terlihat begitu dekat dengan Cantika saat foto bersama.
" Dianya bilang harus dekat biar masuk kedalam kamera. Kamu tidak dengar?"
" Tapi tidak usah sedekat itu juga! Sudahlah aku mau ke kamar!" Gerutu Nadia kesal.
" Kak. Kak Nadia... Malah ngambek." Fajar cuma bisa melihat Nadia pergi meninggalkannya dipinggir pantai sendirian.
Acara malam akan di mulai, namun di malam ini Cantika dan Danang selaku pengisi acara tidak memberi pengumuman akan pemenang lomba. Malam ini hanya akan ada sambutan dari pak direktur selalu pimpinan perusahaan. Setelah itu semua karyawan boleh menikmati makan malam, serta cemilan dan sudah sediakan. Mereka boleh berfoto bahkan menikmati malam di pinggir pantai.
Setelah direktur memberikan sambutannya semua karyawan yang berkumpul mulai bubar, Edgar sendirian mencari keberadaan Nadia. Namun sejak siang gadis itu tidak pernah bersama dengannya. Karena kelelahan, dia memilih menikmati air kelapa sambil merasa sejuk udara pantai di malam hari sendirian. Padahal Edgar sudah berencana dirinya ingin membuat momen spesial bersama dengan Nadia. Namun sayang, Nadia seperti menghilang. Karena beradabdi kelompok yang sama, dia tidak bisa berbicara dengan Nadia seluasa dia berada di kantor bersama Nadia. Sedikit kecewa bagi edgar karena tidak bisa menciptakan momen manis untuknya di malam ini.
Celina dan Toni mulai semakin dekat, mereka berdua duduk sambil menonton bola. Toni merasa kesal, karena tim sepakbola kesukaannya harus kalah diawal permainan. Celina terhibur melihat raut wajah sedih dari Toni. Cantika kebetulan lewat, tidak mau melepaskan momen manis mereka berdua.
" Toni, Celina.. menghadap kesini biar aku foto." Panggil Cantika.
Celina dan Toni tersenyum di depan kamera, bahkan mereka berdua membuat ekspresi lucu yang bikin Cantika tertawa.
Sedangkan Fajar dan Nadia memilih tempat dipinggir namun jauh dari keramaian. Mereka berdua duduk sambil memandangi bintang.
" Iya, tidak terasa." Ucap Nadia.
" Untuk dulu dan sekarang rasanya beda. Dulu, kita berada di pantai karena perpisahan dengan mahasiswa baru. Sekarang kita berada disini karena liburan dari kantor. Rasanya begitu berbeda. Dulu aku menjabat menjadi ketua yang mempunyai wewenang. Sekarang aku hanyalah anak magang biasa. Tapi, aku merasa apa yang kak Nadia rasakan dulu. Aku semakin belajar bagaimana rasanya bekerja, bagaimana berada dilingkungan baru bahkan aku belajar untuk lebih bersosialisasi dengan orang-orang baru disekitar ku. Aku menjadi belajar banyak akan hal itu. Dan terutama aku menjadi lebih dekat dengan kak Nadia." Fajar memandangi Nadia.
" Aku boleh mendengar dengan serius, kalimat akhirnya malah gombal." Ucap Nadia merasa kesal.
" Aku tidak gombal, emang kenyataannya aku semakin dekat dengan kak Nadia. Aku bisa lebih banyak melihat kak Nadia baik itu bekerja, tersenyum bahkan tertawa."
Nadia tersipu mendengar namun lagi-lagi dia menutupnya dengan berpura-pura tidak suka mendengar kalimat-kalimat yang dikatakan Fajar untuknya.
" Aku tahu kakak tersipu, senyum saja. Tidak usah ditutupi." Ucap Fajar terkekeh melihat tingkah istrinya.
" Apaan sih! Tidak ada!" Ucap Nadia membantah.
" Eh! Ada bintang jatuh!" Teriak Nadia menunjuk kearah langit.
" Buatlah harapan!" Ucap Fajar.
" Mana bisa! Bintang sudah hilang."
" Setidaknya buatlah harapan. Tapi, apa yang kakak harapkan, jika bintangnya jatuh?"
" Eum.. apa ya.. tidak akan aku beritahu!" Ucap Nadia menjulurkan lidahnya bermaksud untuk mengejek Fajar.
" Kalau kamu apa yang kamu harapkan?" Tanya Nadia kepada Fajar.
" Jika bintang terjatuh lagi, aku akan membuat harapan jika aku menginginkan kak Nadia mengatakan aku mencintaimu setiap hari."
" Jangan berharap."
Nadia menatap wajah fajar yang terlihat masih memandangi langit, sambil tersenyum Nadia berkata, " aku mencintaimu."
Fajar tersenyum mendengarnya, sudah lama dia tidak mendengar kalimat itu dari mulut istrinya, " bisa katakan sekali lagi?"
" Sudah. Tidak ada lagi. Bagi aku mau dikatakan atau tidak, itu tidak masalah. Kamu harus percaya jika aku selalu mencintaimu."
" Aku juga, aku sangat mencintai kak Nadia. Dan menurut ku, hatiku cuma untuk kakak."
Nadia tersipu mendengarnya. Dia tersenyum malu-malu mendengar kalimat indah yang baru saja dikatakan oleh Fajar. Fajar lalu lebih dekat dengan Nadia, Nadia tahu apa yang akan dilakukan fajar.
" Apa yang ingin kamu lakukan?"
" Kak, ciptakan momen yang indah. Dan jangan menolaknya!" Ucap Fajar menarak tengkuk nadia, lalu mencium bibir Nadia. Nadia tidak menolak, dia juga menikmati momen itu.
Tanpa mereka berdua sadari, Cantika berdiri tidak jauh dari mereka.