
Hari kompetisi sudah dimulai, Nadia dan Edgar sudah menyiapkan semua hasil untuk dipresentasikan nantinya di depan para juri termasuk direktur perusahaan. Fajar mengantar Nadia dan Edgar untuk mengikuti kompetisi, meskipun begitu dirinya juga terlibat dalam membantu Nadia dan Edgar untuk persiapan ide yang akan mereka berdua tunjukan nanti.
Sesampainya di tempat perlombaan, Edgar terkejut melihat Fian yang ternyata satu kelompok dengan John. Dia tidak menyangka jika selama ini Fian bekerja sama dengan John untuk mengikuti kompetisi. Karena selama berada di ruangan kerja yang sama, Edgar baik Nadia juga tidak melihat Fian dan John dekat apalagi membahas tentang kompetisi tersebut. John mengeluarkan sindiran jika tahun ini dia akan memenangkan lagi kompetisi itu. Edgar tidak perduli setidaknya dengan bantuan Nadia, Edgar yakin dia juga bisa meluluhkan hati para juri dengan ide barang yang sudah mereka berdua persiapkan.
Giliran Nadia dan Edgar sudah dipanggil oleh panitia untuk memasuki ruangan. Fajar hanya menemani sebentar saja, karena dia harus kembali ke tempat kerjanya. Di dalam ruangan Edgar dan Nadia mempresentasikan hasil ide mereka berdua. Nadia percaya diri, dia yakin jika idenya ini akan berhasil.
Kompetisi telah usai, Nadia menanyakan tentang pengumuman hasil kepada Edgar. Edgar berkata jika pengumuman itu akan di berikan melalui pesan kepada kelompok, atau ditempel ke pengumuman perusahaan. Diruangan kerja sudah ada Sari yang duduk bekerja sendirian, sedangkan John dan Fian belum tiba di ruangan. Sari yang kebetulan bergabung di grup gosip, dia berhasil melihat hasil yang dibagikan oleh Cantika di dalam pesan grup.
John dan Fian masuk ke ruangan, dia melihat raut wajah Nadia dan Edgar tidak sebahagia tadi. Dia menanyakan kepada mereka apa yang terjadi, lalu sari datang mengucapkan selamat padanya karena dia memenangkan kompetisi tersebut. Mendengar hal itu, John kembali menyindir Nadia yang tidak mau bergabung dengannya. Lalu tiba-tiba direktur masuk keruangan mereka, dengan mengucapkam selamat kepada John dan Fian. Direktur sangat senang karena karyawan di perusahaan sangat kreatif. Direktur memilih John dan Fian sebagai pemenang karena biaya akan ide barang milik John dan Fian sangat terjangkau dan tidak menyulitkan bagi perusahaan. Namun direktur juga mengucapkan terima kasih kepada Nadia dan Edgar.
Sesuai janji, karena Nadia tidak memenangkan kompetisi maka dia tidak memberikan hadiah kepada Fajar. Namun Nadia mengajak Fajar menuju rooftop perusahaan. Kebetulan hari sudah sore, dari jauh senja terlihat begitu cantik. Pemandangan sangat indah untuk pasangan yang kini tengah berdiri memandang senja yang akan tenggelam. Fajar mengeluarkan ponselnya, dia mengambil gambar senja, kemudian kamera ponselnya kepada Nadia.
" Sangat rugi bagiku jika hanya memotret senja tetapi tidak memotret gadis cantik yang berdiri disamping ku." Ujar Fajar membuat Nadia tersipu malu.
" Berhenti gombal! Perlihatkan fotonya padaku?" Nadia meminta ponselnya Fajar untuk melihat wajahnya yang baru saja di potret Fajar melalui ponsel.
" Tidak boleh!" Ucap Fajar segera menyimpan ponselnya disaku celana.
" Masih sedih karena tidak menang kompetisi, hm?" Tanya Fajar karena dia sangat tahu jika Nadia sangat berambisi untuk menang.
" Tidak, aku tidak merasa sedih. Justru aku sangat senang setidaknya aku berhasil menghasilkan sebuah ide untuk perusahaan." Jawab Nadia tersenyum.
Fajar ikut tersenyum karena merasa lega jika Nadia tidak merasa sedih akan hal itu. " Senjanya cantik, sama seperti mu."
" Hm, berhenti gombal! Hadiahnya senja."
Fajar melihat Nadia, dia tidak mengerti dengan perkataan istrinya itu. " Hadiah?"
" Iya.. aku tidak menang kompetisi. Jadi ini hadiahnya."
Fajar tertawa, Nadia menganggap perkataan kemarin dengan serius. Padahal maksud Fajar hanya becanda.
" Ada yang ingin aku tanyakan." Ucap Fajar.
" Apa?"
" Apa Edgar tahu jika kamu istriku?" Sengaja Fajar menanyakan hal itu, karena Edgar begitu dekat dengan Nadia. Siapa tahu Nadia menceritakan tentang status pernikahannya dengan Edgar.
" Tidak, Edgar tidak mengetahuinya. Aku masih belum bisa mengungkapkan itu." Jawab Nadia.
Fajar memaklumi, dia hanya bisa bersabar menunggu Nadia berani jujur akan hubungan mereka berdua di semua karyawan perusahaan. Setidaknya, dengan mempublikasi pernikahan mereka, Edgar tahu diri dan tidak terlalu dekat dengan Nadia. Dan fajar tidak perlu menahan cemburu lagi. Namun Nadia masih tetap belum untuk itu. Fajar terpaksa harus kembali bersabar.
" Kak, apa kamu bisa memanggil mu dengan sebutan istriku?"
" Boleh saja, tapi hanya untuk kita berdua. Jangan ada yang mendengar."
Fajar tersenyum, " Istriku, aku mencintaimu."
" Uek! Cukup!" Ucap Nadia.
Sedangkan Fajar menahan tawa, karena dia tahu betul sikap istrinya itu. Padahal mereka sudah lama menikah, Nadia masih tetap saja bertindak cuek. Fajar tahu jika Nadia berusaha menahan rasa senangnya, terlihat Nadia mencoba menahan senyumnya.
" Lebih baik kita pulang sekarang, karena nanti kita akan ada pertemuan dengan para anggota panitia baru ospek." Ujar Nadia untuk mengakhiri keromantisan sebelum dia makin tersipu dengan perkataan Fajar yang lain.
Nadia begitu khawatir dengan keadaan Fajar, sejak di kos Nadia sudah meminta Fajar untuk tidak pergi bekerja. Namun Fajar selalu melawan dan ingin tetap bekerja. Di dalam lift, Nadia melihat raut wajah Fajar yang lumayan pucat.
" Sudah aku bilang untuk minum obat, kenapa kamu tidak minum obatnya sih!" Kata Nadia kepada Fajar karena dia sudah menyiapkan untuk fajar setelah sarapan, namun Fajar justru mengabaikannya.
" Tenang aja sayang, aku baik-baik saja cuma kurang istirahat saja semalam." Ucap Fajar menenangkan istrinya.
Tiba-tiba Cantika masuk kedalam lift bergabung dengan mereka berdua. Penampilan Cantika begitu sexy dengan dres yang hampir membentuk tubuhnya. Dia berdiri dekat dengan Fajar, sambil tersenyum dia menyapa Fajar. Nadia terus memperhatikan Cantika, dia begitu cemburu melihat Cantika yang mendekati Fajar. Nadia jadi teringat akan perkataan mahasiswa kemarin tentang Fani yang menyukai Fajar. Nadia seolah takut jika Fajar juga luluh dengan wanita lain. Nadia memegang tangan Fajar secara diam-diam, takut jika Cantika melihatnya.
" Fajar, nanti ke ruangan ku, kita akan membahas tentang penempatan mu." Ujar Cantika keluar dari lift.
" Kita pisah disini. Aku harus ke ruangan Bu Cantika." Ucap Fajar mengikuti Cantika dari belakang.
Nadia mempout bibirnya yang tidak tega melihat Fajar harus pergi dengan cantika.
Di ruangan Cantika, Celina sudah menunggu. Fajar menyapanya, sambil menanyakan dimana Celina ingin ditempatkan. Celina menceritakan jika dia ingin tetap berada di depertemen produksi. Celina mengatakan itu karena selama berada di depertemen produksi, Toni selalu memberikan perhatian kepadanya. Bahkan Toni mengajaknya makan malam serta mengantarnya pulang sampai rumah. Semenjak bekerja sama dengan Toni, terasa Celina sudah menaruh hati kepada Toni selalu kepala depertemen tersebut.
Cantika duduk dan mulai memberitahu mereka tentang perubahan penempatan kerja mereka nantinya. Fajar masih ditempatkan bekerja di depertemen produksi, sedangkan Celina harus merasa kecewa karena dia ditempatkan di departemen QC.
Fajar kembali ke ruangan kerjanya yang sama dengan Nadia, dia ingin mengambil beberapa barang yang ketinggalan. Nadia melihatnya dan menghampiri Fajar untuk menyakam keadaannya.
" Kamu sudah terlihat baik-baik saja. Kamu akan ditetapkan dimana?" Tanya Nadia.
" Di depertemen produksi." Jawab Fajar.
" Wah! Kayaknya kamu memang pintar di depertemen itu deh." Nadia memuji Fajar suaminya.
" Iya, aku harap kakak tidak merindukanku. Apalagi tugas ku sudah selesai membantu kakak."
" Cih! Sadarlah itu tidak akan!" Ucap Nadia mengejek.
Lalu pak Danang datang, mengucapkan terima kasih kepada Fajar yang sudah membantu karyawan. " Makasih ya Fajar. Sudah membantu Nadia dan Edgar menyiapkan kompetisi mereka berdua. Dengan bakat mu yang bagik seperti itu, maa depan pastinya akan baik."
" Sama-sama pak. Masa depan sudah cerah kok, pak." Ucap Fajar memandangi Nadia.
Nadia tahu maksud Fajar, dia berusaha menahan untuk tidak tersenyum. Setelah pak Danang, Nadia memukul Fajar karena sudah berkata gombal padanya.
" Emangnya salah? Apa kakak tidak mau membina masa depan yang cerah bersamaku?"
Nadia merasa malu, dan takut jika ada yang mendengar. Sebelum fajar kembali berkata gombal padanya. Segera Nadia mengusir fajar dari ruangan. Fajar hanya biasa tertawa dengan aksi lucu Nadia.