Senior Is My Future Wife

Senior Is My Future Wife
Chapter 70



Acara pengambilan bendera telah berhasil dimana Fani yang membuka peti itu dan mengambil bendera. Acara juga berlangsung begitu lama. Sorak tepuk tangan dari semua mahasiswa baru serta para senior yang hadir memeriahkan acara tersebut.


" Sekarang kamu sudah resmi menjadi juniorku. Mulai sekarang, jika ada masalah dan menemukan kesulitan dalam masa perkuliahan, kami sebagai senior akan saling membantu. Sekarang kamu boleh pergi." Kata Fajar kepada Fani yang telah memasang bendera sebagai tanda jika acara ospek akan berakhir.


Dan dimulai lagi dengan acara senior mengikat tali di tangan para mahasiswa baru. Sama hal dulu yang pernah Fajar ikuti, selama dirinya masih berstatus mahasiswa baru. Kini Fani duduk dihadapannya mengulurkan tangannya, agar Fajar mengikatkan tali di jarinya dengan membuat harapan kepada juniornya itu.


" Aku berharap selama belajar disini kamu diberi kebahagiaan selama 4 tahun. Kamu dapat memanfaatkan dirimu sebaik-baiknya untuk kepentingan dirimu nantinya. Oh ya, kamu yang membukakan peti bagaimana bisa kamu menemukan surat dan mengetahui kode tersebut." Ujar Fajar sambil mengikat tali ditangan Fani.


" Soal itu sebenarnya kami cuma menemukan dua surat, lalu seseorang membantu kami menemukan surat yang lain lalu dia juga membantu kami dalam memecahkan kata sandi itu." Kata Fani.


" Siapa? Siapa yang telah membantu kalian?" Tanya Fajar yang penasaran.


" Dia.." ucap Fani sambil melirik ke arah Kevin. Kevin yang menyadari bukan dirinya yang membantu para junior untuk memecahkan kode itu.


" Diva?" Tebak Fajar. Ya, yang berhubungan dengan Kevin pastinya Diva karena mereka berdua sudah terkenal dikalangan kampus. Disebabkan Kevin sering mengejar Diva hingga menimbulkan perkelahian kecil diantar mereka.


Fani mengiyakan sebab Diva yang telah membantu mereka memecahkan kode itu. Setiap Fajar berbicara, Fani terus memandangi kagum seniornya itu. Terkesan begitu keren dan juga ramah dimatanya. Siapa yang tidak suka jika memiliki senior yang baik serta ramah dan murah senyum seperti Fajar. Ditambah dia merupakan ketua ospek sekaligus ketua BEM di kampusnya. Pastinya banyak mahasiswi yang tertarik kepada Fajar. Apalagi terlihat Fajar sepertinya tak memiliki kekasih karena tak ada tanda-tanda serta gosip apapun mengenai dirinya dekat dengan seorang gadis. Apakah ini bisa dikatakan sebagai kesempatan bagi Fani untuk mengejar seniornya itu?


" Fajar, aku pergi dulu. Cuma sebentar, aku akan kembali lagi." Ucap Kevin pamit pergi ditengah keramaian berbaurnya mahasiswa baru dan senior mereka.


Kevin pergi menuju depan halaman fakultas teknik. Dia seperti sedang mencari seseorang, lalu dia melihat tas serta kaos ospek dan juga kertas untuk memecahkan kode tadi. Kevin tahu siapa pemiliknya, dia lalu memanggil orang itu berdasarkan nomor mahasiswanya. Dia terus memanggil, namun mahasiswa itu tak kunjung menyahut ataupun keluar. Kevin tak berhenti memanggil hingga, seseorang keluar yang ternyata adalah diva.


" Aku tahu kamu akan berada disini. Dan kamu juga ikut serta dalam kegiatan ini." Ucap Kevin lalu tersenyum memandang Diva, dia merasa senang dan juga bangga karena perjuangannya selama tak sia-sia. Gadis yang pembangkang ini akhirnya bisa luluh dan mengikuti kegiatan pengambilan bendera. Karena menurut Kevin, kegiatan ini merupakan kegiatan ini dari semua kegiatan. Karena kegiatan ini merupakan kegiatan yang menyatukan senior dan juga junior.


" Maksud kakak apa? Aku gak gak ambil bagian dalam kegiatan ini." Bantah Diva sebab egonya masih tinggi tak mau mengalah.


Kevin melirik kearah kertas yang berada dekat dengan kaos ospek milik diva, diva mengikuti arah mata Kevin. "Apakah kamu yakin?"


" Itu... Aku...Ya.. aku baru saja membantu Fani. Jangan sertakan ini untuk aku ikut kegiatan itu atau jangan memaksa untuk pergi kesana." Ujar Diva.


" Baik, aku mengerti."


Diva merasa malu, dengan segera mengambil tasnya untuk cepat pulang dan pergi dari situ. Namun Kevin segera mencegahnya, dan lagi memanggil diva dengan menyebut nomor mahasiswanya.


" Kak, bisakah kakak berhenti memanggil ku dengan nomor mahasiswa ku? Nama ku adalah Diva." Kata Diva tak terima, sebab Kevin selalu memanggilnya dengan nomor mahasiswanya.


" Iya deh, tapi bisakah kamu ulurkan tanganmu?"


Diva menuruti dan mengulurkan tangannya, lalu Kevin memasang tali di pergelangan tangan mahasiswi yang membuat menjadi senior yang stres sebab terus mengejar bahkan memintanya untuk ikut kegiatan ospek.


" Hey! Apa yang kakak lakukan? Mengapa kakak ikatkan seutas tali itu dipergelangan tanganku?" Tanya Diva, sebab dirinya tak tahu jika acara sebenarnya para senior akan mengikat seutas tali di pergelangan tangan para mahasiswa baru.


Namun Diva menolak dan ingin melepaskan tali itu, tapi dengan cepat Kevin memegang tangannya. "Aku ingin kamu untuk menyimpannya."


" Kenapa aku harus menyimpannya?"


" Ayolah. Lakukan saja. Sini ikut aku." Pinta Kevin dan menarik tangan Diva untuk ikut dengannya.


" Kakak akan membawaku kemana?"


" Sudah! Ikut saja. Perhatikan langkah mu dengan baik!"


" Hei! Lepaskan! Ini tindakan kejahatan!" Teriak Diva.


Hingga Kevin melepaskan tangan Diva, dia mengajak diva menuju tempat acara.


" Hei! Ini tindakan kejahatan tau gak!" Ucap Diva kesal karena Kevin menarik tangannya dengan paksaan.


" 2023241. Diam lah!" Ucap Kevin memberi kode agar Diva diam dan tak berbicara.


Diva begitu malu melihat di depannya, terlihat mahasiswa baru berbaur dengan para senior. Rasanya sangat memalukan baginya untuk berada disitu. Apalagi dia sangat menentang acara itu dan pula dia juga tak berpartisipasi dalam acara. Rasanya tak begitu layak bagi dirinya untuk berada bersama mereka.


" Apa kamu gak tahu, jika kita memiliki acara pengikatan tali dari senior untuk junior, hm?"


Diva terdiam, lalu datang Gladis yang juga menjadi panitia di kegiatan itu. Dia lalu meminta diva untuk mengulurkan tangannya agar dia bisa mengikat tali dipergelangan tangan diva. Diva Marasa heran dan tak mau mengulurkan tangannya. Namun Gladis mengambil tangan gadis itu, dengan berkata bahwa akan baik-baik saja. Dia lalu mengikat tali dipergelangan tangan diva sambil berkata, " belajar dengan giat ya. Aku senang jika kamu datang kesini. Ayo, bergabung dengan yang lain."


" Ini gak seburuk dari yang kamu pikirkan, bukan? 2023241, lihatlah sekelilingmu dan lihat senyum diwajah mereka. Kamu gak mau melihat senyuman seperti itu di wajah para junior yang akan datang? 2023241, apa kamu mau ikut dengan ku?" Tanya Kevin.


Diva seolah terdiam melihat apa yang ada dihadapannya, begitu berbeda dari pemikirannya. Suasana rukun antara junior dan senior begitu terlihat, senyuman manis yang junior begitu pula dengan para senior. Diva memandangi Kevin sejenak, " kemana kamu aku membawaku?"


" Kesitu." Ucapnya sambil menunjuk kearah dimana senior sedang mengikatkan tali dipergelangan tangan para juniornya.


Diva merasa malu, jika ikut berada disana dengan mahasiswa baru yang lain. " Bagiku ini sudah cukup." Ucapnya sambil menunjukan tali yang diikat dipergelangan tangannya.


Kevin hanya bisa tersenyum, dia sudah memahami apa yang ada dipikiran gadis itu. Jadi dia tak ingin memaksanya, setidaknya dengan mendengarkan Diva ikut andil dalam acara itu sudah puas baginya.


" Baiklah. Sampai jumpa lagi besok." Ucap Kevin lalu pergi.


Fajar melihat itu semua dia atas lantai dua. Dia duduk melihat kerukunan antar junior dengan para senior yang lain. Sudah hampir malam, bahkan jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Namun, Nadia tak kunjung juga datang, padahal Fajar sudah mengundang gadis itu dan dia sudah mengiyakan tetapi belum ada tanda-tanda kehadirannya. Seharusnya sedari tadi Nadia sudah pulang kerja, sudah jam segini dia tak kunjung datang. Fajar lalu pergi untuk menuju area depan kampus. Namun seseorang memanggilnya.


" Fajar!"