
Fajar menghampiri Karin yang kebetulan jalan dengan Nadia di kantin, Fajar menanyakan keberadaan Nadia kepada Karin, saat Karin melihat Nadia yang tadinya berdiri dibelakangnya, gadis itu sudah menghilang. Karin merasa aneh padahal baru saja Karin menegur Nadia karena melamun namun gadis itu menghilang begitu saja. Ternyata Nadia tengah menjawab telepon dari seseorang seperti seseorang sedang memintanya untuk bertemu, sekaligus sebagai bentuk pelarian karena melihat Fajar yang berjalan ke arahnya. Fajar yang nampak lesu, karena kali ini pencarian akan Nadia tidak berhasil. Namun, dia kembali bertanya kepada Karin, kapan jadwal mata kuliah mereka akan berakhir. Untungnya masih ada kesempatan buat Fajar untuk bisa bertemu dengan Nadia sekaligus mengembalikan buku Nadia yang ketinggalan.
Karena Nadia dan teman-temannya sudah mau menginjak semester akhir, mereka bukan lagi mendapatkan pelajaran melainkan mereka mendapatkan sedikit materi mengenai pemilihan judul untuk pembuatan skripsi mereka nantinya. Tak berselang begitu lama arahan materi dari dosen telah selesai, Dea dan Prince keluar duluan dari kelas, sedangkan Nadia masih membereskan buku catatannya begitu pula dengan Karin yang juga sedang menunggunya. Karin yang berdiri dihadapan Nadia, melihat Fajar yang sudah berada di pintu masuk. Karin segera memberitahu Nadia jika ada orang menemuinya. Nadia begitu terkejut melihat orang yang dimaksud oleh Karin, tidak bisa lagi bagi dirinya untuk menghindari Fajar. Karin yang tak mau ikut campur memutuskan menunggu diluar meninggalkan Nadia bersama dengan Fajar didalam kelas.
Fajar menghampiri Nadia dan menyerahkan buku-buku Nadia yang ketinggalan di kosnya. Nadia mengambil buku itu, namun Fajar menahannya. Karena dia tahu setelah ini Nadia akan pergi meninggalkannya untuk itu dia mencoba menahan bukunya sebagai jaminan untuk menyelesaikan masalah mereka. " Kak, ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Fajar.
" Aku sibuk, cepat berikan bukunya." Nadia dengan sikap cuek ingin segera bukunya di kembalikan.
" Kenapa kakak menghindari ku?" Tanya Fajar karena merasa selama ini Nadia sangat sulit untuk dihubungi.
" Fajar, jika kamu gak memberikannya. Ya sudah, aku akan pergi." Ucap Nadia mengambil tasnya dan hendak pergi, dirinya tak mau menjawab pertanyaan dari Fajar.
Fajar yang merasa tak enak, akhirnya memberikan buku-buku itu kepada pemiliknya. Nadia menerimanya dan langsung pergi tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya untuk Fajar. Fajar hanya terdiam, dia mengacak rambutnya begitu frustasi dengan sikap dari yang seolah berubah begitu saja kepadanya. Nadia keluar dari kelas, dimana Karin sudah menunggunya di luar kelas. Karin mendengar semuanya, dan Karin merasa jika Nadia memeng sepertinya menghindari Fajar.
" Kamu kenapa sih, Nad? Kamu seperti sedang menghindarinya, dia gak ada masalah padamu. Kenapa kamu bersikap seperti itu?" Tanya Karin dengan perubahan sikap Nadia, biasanya dia tidak begini dan bahkan jika berada bersama Fajar pun Nadia tidak mempermasalahkannya. Namun, gadis itu terlihat sekali sedang menghindari Fajar.
" Aku gak apa-apa." Jawab Nadia berlalu begitu saja.
Setelah selesai kelas, Nadia menemui Vino sahabatnya yang baru saja menelfonnya untuk bertemu. Terlihat Vino tengah duduk sendirian menunggu kedatangannya. Nadia tersenyum melihat Vino dihadapannya, sudah lama mereka tidak bertemu seperti ini.
" Ada apa?" Tanya Nadia karena tumben sekali Vino menghubunginya duluan.
" Aku hanya ingin bertemu denganmu, sudah lama kita tidak seperti ini. Apalagi kita sekarang sudah sibuk dengan kegiatan kuliah masing-masing." Kata Vino.
" Chika kok gak ikut." Nadia tak melihat tanda-tanda kedatangan Caca untuk gabung bersama dengan mereka. Hanya ada Vino dan dirinya serta para pengunjung yang lain di cafe itu.
" Oh gitu... Padahal aku juga merindukannya, semenjak aku sibuk dengan kuliah dan kegiatan ospek, aku jadi jarang bertemu dengannya." Ujar Nadia.
" Padahal kita satu kampus jadi malah susah ketemunya, aku jadi ingat dulu saat kita belajar bersama, kita mengobrol jurusan yang akan kita ambil nanti saat kuliah." Ujar Vino mengingat kembali momen saat mereka masih duduk dibangku sekolah.
Flashback
Nadia duduk bersama Chika mereka berdua tengah asyik belajar untuk menghadapi ujian akhir di sebuah taman depan rumah Chika. Tak berselang lama, Vino datang dengan membawakan dua botol untuk mereka. Nadia menyambutnya dengan penuh ceria begitu Chika yang langsung meminta Vino membukakan tutup botol minumannya. Mereka bertiga mulai berbincang mengenai masa depan mereka setelah lulus dari SMA. Nampaknya mereka bertiga mempunyai impian yang sama dengan melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, namun mereka bertiga masih bingung jurusan apa yang akan mereka tempuh. Chika menginginkan mereka bertiga untuk satu jurusan, namun sayangnya Nadia memilih jurusan yang berbeda. Dirinya ingin melanjutkan pendidikan dibidang teknik sesuai dengan apa yang dia sukai, yaitu suka mengoleksi karakter robot. Hal itu membuat Chika begitu kesal, beruntung Vino bisa menenangkan kekesalan di hati Chika dengan mengatakan tak apa jika jurusan yang diambil berbeda setidaknya mereka bisa berada di universitas yang sama. Nadia menyetujui keputusan Vino begitu pula dengan Chika, karena itulah membuat mereka berada di kampus yang sama meski berbeda jurusan.
Nadia tengah membantu Chika mencuci piring bekas mereka bertiga makan, terlihat wajah Chika yang begitu sumringah. Nampaknya ada hal yang membuat moodnya tengah berbahagia hari itu. Nadia merasakannya, namun tidak bertanya karena dia menunggu Chika yang menceritakannya sendiri.
" Nad, hari valentine nanti kamu mau bantu aku gak?" Pertanyaan yang tak pernah Chika tanyakan sebelumnya pada Nadia, hal itu membuat Nadia tertawa sebab Chika selama ini tak memiliki kekasih kenapa malah Chika justru meminta bantuannya, entah siapa cowok yang sudah menarik hati seorang Chika sehingga dia harus meminta bantuan dari Nadia sahabatnya.
" Emangnya ada apa?" Tanya Nadia.
" Aku butuh bantuan mu untuk memberikan kejutan untuk seseorang." Jawab Chika.
" Siapa orangnya? Kok kamu gak cerita sih sama aku." Desak Nadia yang ingin tahu siapa cowok yang sudah menarik hati sahabatnya ini.
" Vino, aku rencana ingin memberikan kejutan padanya." Kata Chika dengan senyuman manis terukir dibibir cantiknya.
Nadia terkejut, dia tak menyangka jika mereka berdua menyukai cowok yang sama, yang merupakan sahabat mereka berdua. Nadia yang tak ingin persahabatan itu hancur, meski sakit hati dia terpaksa harus mengikhlaskan. Nadia hanya mengangguk sebagai tanda jika dirinya mau membantu Chika.
Namun, tak hanya Chika, Vino juga meminta bantuan Nadia. Di malam valentine, Vino ingin mengungkapkan perasaannya pada Chika. Nadia hanya bisa terdiam, cinta pertamanya harus kandas karena tak ada kesempatan baginya untuk memiliki Vino, karena Vino juga mencintai Chika. Meski menyakiti dirinya, Nadia tak pernah putus hubungan dari mereka meski sekarang sudah pada sibuk dengan kegiatan sendiri. Namun, Nadia masih mau jika mereka berdua mengajak bertemu, seperti saat ini Vino ingin bertemu dengannya.