
Fajar tengah melakukan evaluasi setelah kegiatan ospek selesai. Fajar merasa jika rencana untuk mengajak mahasiswa baru di dalam kelas untuk mengikuti kegiatan ospek benar-benar rencana yang gagal. Mungkin banyak mahasiswa yang ikut kegiatan namun dikarenakan satu mahasiswi yang menolak itu bagi mereka itu suatu yang gagal. Mereka menganggap jika mahasiswi itu bisa menjadi masalah sebab pasti banyak mahasiswa yang akan ikut jejaknya. Untuk mengatasi hal itu, mereka harus bisa meyakinkan mahasiswi itu untuk untuk bisa mengikuti kegiatan ospek. Namun, sepertinya bakalan susah bagi mereka untuk meyakinkan mahasiswi itu. Karena mahasiswi bersikeras tak mau ikut karena menurutnya kegiatan ospek itu adalah kegiatan yang tak masuk akal. Yoga lalu datang, dia seolah datang dengan membawa berita baru.
" Aku sudah tahu." Ucap yoga.
" Apa yang kamu ketahui?" Tanya Kevin kepada Yoga.
" Ternyata gadis itu dia adalah anak pindahan, katanya sih dia juga pernah kasus yang sama, tapi lebih hebohnya dia berantem dengan senior." Kata yoga tentang mahasiswi pembuat ulah itu.
" Siapa namanya?" Tanya Fajar karena selama ini mereka belum siap nama mahasiswi baru yang membuat ulah itu.
" Namanya Diva." Jawab Kevin.
" Kok kamu bisa tahu namanya." Tanya Yoga karena Kevin mengetahui nama gadis itu.
" Karena aku sempat melihat name tag nya." Jawab Kevin.
" Pantasan saja kamu tahu, lebih baik kita biarkan saja dia karena sebelumnya dia juga pernah buat masalah, kan."kata yoga.
" Aku juga setuju, tapi kita juga harus mencegahnya agar dia tak mengajak mahasiswa yang lain untuk ikut seperti dirinya." Sambung Bima.
" Gak, kita gak bisa membiarkan dia begitu saja. Sepertinya aku bisa membujuk." Kevin membantah karena menurutnya gadis itu bisa dibujuk.
Saat mereka berempat tengah berdiskusi, para panitia cewek datang membawakan makanan. Mereka lalu membagikan bungkusan makanan yang mereka, karena seharian mereka melakukan kegiatan jadi tak lupa bagi mereka untuk mengisi perut. Mina memberikan sebungkus makanan untuk Fajar, namun Fajar menolak sebab. Sebab malam ini dia akan ada rencana di luar. Makanya dia menolak untuk makan, hingga Mina yang tak enak melihat teman-teman yang pada makan, dia memberikan Fajar sebuah jeruk. Dengan senyum, Fajar memotre jeruk itu melalui kamera ponselnya, dan kemudian dia kirim kan kepada Nadia dengan kalimat "Sampai ketemu". Begitu romantisnya pasangan suami istri ini.
Nadia tengah menunggu Fajar, karena mereka berdua malam ini akan makan di luar bersama. Nadia melihat kesekitar namun tak melihat sosok Fajar. Saat dirinya tengah fokus di ponselnya, untuk menanyakan keberadaan Fajar. Fajar berjalan pelan menuju Nadia, dan jari telunjuk mengarah ke pipi Nadia.
" Sejak kapan kak Nadia menunggu disini?"
Alhasil membuat Nadia terkejut dan merasa kesal, " Fajar, apa-apaan sih! Kamu mengagetkan saja." Ujar Nadia meski kesal namun dia tertawa juga. Sikap Fajar yang sedikit kekanak-kanakan namun tak luput bagi Nadia untuk tidak tertawa.
" Maaf ya, evaluasinya tadi agak lama." Ucap Fajar meminta maaf karena sudah membuat istrinya menunggu.
" Gak masalah kok.kamu sudah makan belum? Aku juga baru saja sampai disini. Kita makan dulu yuk, aku udah lapar." Ujar Nadia.
" Kita makan di rumah makan mie aja gimana? Sudah lama kita gak kesana." Tanya Fajar sebab rumah makan mie itu menjadi tempat terfavorit mereka. Karena sibuk dengan kegiatan masing-masing mereka tidak sempat makan bersama apalagi menikmati mie ayam favorit mereka berdua.
" Ide bagus tuh. Bisa gak setelah makan kamu temani aku ke toko buku dulu?"
" Tentu saja. Ayuk!"
Mereka berdua berjalan menuju rumah makan mie favorit mereka. Sepanjang jalan fajar terus memperhatikan wajah sang istri, dia terus tersenyum setiap melihat wajah istrinya.
" Emangnya aku gak boleh melihatmu?"
" Gak boleh, sebab wajahku ini mahal."
Fajar terkekeh, Nadia berlaga jual mahal. Padahal mereka sudah sah menjadi suami istri, jadi tak ada masalah jika Fajar melihat wajah Nadia. Karena Nadia sudah menjadi miliknya.
" Aw! Apa-apaan ini! Kenapa bisa berubah menjadi seperti ini?" Nadia yakin jika dia tak salah tempat, namun saat dilihat tempat mie yang menjadi favorit mereka sudah berubah menjadi restoran Jepang.
" Mungkin mereka sudah pindah."
" Sejak kapan? Terakhir kali aku kesini banyak sekali orang yang beli. Mengecewakan sekali. Di area tempat ku bekerja, gak ada yang menjual mie serta kuah yang seenak disini. Aku ingin makan disini, tapi lihatlah tempat malah sudah gak ada." Kata Nadia, mengeluarkan unek-uneknya sebab dia begitu kecewa tempat favoritnya sudah tidak ada, padahal dia sangat ingin mencoba mie ayam ditempat itu lagi.
Fajar terkekeh, istrinya begitu lucu ketika berkeluh kesah seperti itu. Namun, dia tak ingin Nadia kecewa, karena mereka berdua tak jadi makan di tempat favorit mereka. Fajar melihat ada sebuah restoran yang juga menjual mie, kebetulan dia pernah makan disana, dia mencoba menyarankan kepada Nadia, " Tempat disitu enak, mau mencoba?"
" Mau bagaimana lagi? Benar-benar mengecewakan. Bagaimana kalau mie ditempat itu gak seenak tempat ini? Kamu harus bertanggung jawab, Fajar." Cerewet Nadia saat mereka berdua berjalan menuju restoran yang ditunjuk oleh Fajar. Fajar lagi-lagi hanya terkekeh melihat begitu cerewetnya Nadia.
Saat mereka makan mie ayam di restoran itu, raut wajah Nadia begitu kecewa. Lagi-lagi dia berkata jika tidak ada mie yang enak, kecuali di restoran diseberang sana. Lalu Fajar menawarkan agar Nadia mencoba makan bakso uratnya. Namun Nadia menolak, karena sudah terlanjur kecewa.
" Kakak coba deh baksonya." Tawar Fajar sekali lagi namun sambil mengambil bakso dengan sumpit.
" Gak mau, kamu makan saja." Tolak Nadia. Tetapi Fajar sudah mengarahkan bakso itu ke arahnya. Begitu lama Nadia untuk makan, sebab dirinya harus melihat disekitarnya, begitu malu bagi Nadia jika melakukan hal semacam itu di tempat umum. Setelah merasa tak diperhatikan, Nadia mencoba memakannya dan dia terkesima.
" Um.. ternyata bakso disini sangat enak. Jangan-jangan kamu pernah kesini sebelumnya?" Ucap Nadia.
" Iya, aku pernah mencobanya. Jadi sekarang, kakak lebih baik makan punyaku saja." Tawar Fajar, agar Nadia bisa merasakan bakso enak di restoran ini.
" Gak, kamu makan saja. Biar aku makan mie ayam ini saja." Tolak Nadia. dia lalu memesan satu porsi bakso lagi untuk mereka.
" Ini, karena kamu suka bakso. Kamu juga harus membantuku untuk menghabiskannya." Kata Nadia meletakkan seporsi bakso di depan dia dan Fajar.
" Kak Nadia, masih tetap sama." Ucap Fajar.
" Maksudmu?"
" Kakak tetap membuat ku jatuh cinta pada kakak setiap saat." Kata Fajar.
Perkataan Fajar membuat Nadia tersedak, hingga dirinya segera meminum segelas air. Fajar terkekeh, merasa lucu dengan sikap salah tingkah Nadia. Fajar lalu meminta untuk segera menghabiskan makanannya, membuat Nadia meliriknya kesal karena sudah membuatnya tersedak.