
Fajar dan Bima satu kos, dengan kamar kos yang berbeda. Tidak disangka yoga dan Kevin juga satu kos dengan mereka. Bukan hanya itu, Wawan yang baru fajar kenal juga berada di kos yang sama.
Fajar menghampiri Wawan yang tengah merokok. Fajar tahu jika Wawan sangat benci kegiatan ospek yang bertemakan senioritas itu. Karena sejak mereka kenalan setelahnya Wawan sudah tidak pernah mengikuti kegiatan ospek lagi.
" Wan, kenapa kamu sangat benci dengan para senior?" Tanya fajar.
" Dari dulu saat SMA aku paling benci namanya senioritas. Kita ini sama-sama manusia, yang menempuh jejak pendidikan yang sama. Kenapa mesti yang baru masuk harus menghormati seniornya." Ujar Wawan memberikan alasan kenapa dirinya sangat membenci para senior.
" Para senior kita di kampus itu, sangat menjunjung tinggi senioritas, dan aku gak begitu menyukainya. Itulah sebabnya aku udah gak mau mengikuti kegiatan ospek itu." Ujar Wawan lagi.
Fajar mengakui hal itu, namun dia tidak bisa ikut campur lebih baik banyak. Dia tahu semua orang punya prinsip sendiri begitupun dengan Wawan. Mungkin bagi Wawan, ospek merupakan kegiatan yang dimana junior harus menghormati senior. Namun, bagi fajar sendiri ospek bukanlah kegiatan yang seperti itu, tetapi ospek merupakan kegiatan untuk lebih mengeratkan hubungan antar senior dan junior.
Yoga, Bima dan Kevin keluar dari kos. Mereka bertiga mendekati fajar dan Wawan yang kebetulan berdiri diluar.
" Fajar, yuk kita nongkrong di luar. Kagak bosan apa di kos mulu." Ajak yoga.
Mereka bertiga berencana untuk nongkrong malam di luar. Kebetulan ada fajar dan Wawan mereka bertiga juga mengajak fajar dan Wawan untuk pergi bersama.
Mereka berdua mengunjungi sebuah warung kopi yang tidak jauh dari kos mereka. Banyak sekali anak muda yang juga nongkrong disana. Mungkin untuk melepaskan lelah karena belajar atau hanya sekedar menghibur diri sebab di kos mereka akan sendirian.
" Bang, kopinya 5 ya." Ujar Kevin memesan kopi untuk mereka berlima.
Tak selang begitu lama kopi yang dipesan meja mereka. Mereka pun akhirnya menikmati kopi dan suasana malam itu. Namun, tidak Wawan izin pamit duluan. Dia segera memberikan uang untuk membayar kopinya.
" Hey Fajar! ada yang aku ingin tanyakan padamu. Kenapa waktu itu kamu bilang bahwa kamu akan menjadikan kak Nadia sebagai istri mu?" Tanya yoga, dia begitu penasaran kenapa fajar tiba-tiba mengatakan hal itu.
Fajar terdiam sejenak, emang benar Nadia akan menjadi istrinya nanti, itupun jika Nadia mau menerima perjodohan mereka. Namun fajar tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada teman-temannya. Karena itu masih dirahasiakan sebab Nadia juga belum tahu tentang perjodohan mereka berdua.
" Apa lagi yang harus aku lakukan? Sebab dia terlebih dahulu kasar kepada ku." Ujar fajar.
" Kamu tahu, kamu sudah membuatnya jengkel." Ucap Bima.
Fajar juga menyadari itu, namun itu merupakan strategi untuk mencari perhatiannya Nadia. Karena fajar tahu, jika semakin dia membuat Nadia jengkel. Maka semakin pula Nadia akan terus mencarinya untuk menghukumnya. Itu akan menjadi kesempatan jika fajar akan menjadi lebih dekat dengan Nadia, calon istrinya.
" Memang, para senior itu terlihat sangat menakutkan." Ujar Kevin.
" Untuk apa kita harus takut dengan senior itu. Mereka juga manusia sama seperti kita." Kata fajar agar sahabatnya harus bisa melawan jika ada perintah dari panitia yang menurut mereka tidak masuk diakal.
" Lalu mereka apa?" Tanya fajar kepada yoga merasa aneh dengan ucapan yoga itu.
" Bisa jadi mereka adalah arwah para senior terdahulu yang ingin hidup kembali dan menyiksa kita semua." Ujar yoga dengan wajah serius dan nada yang terdengar menyeramkan.
Kevin yang duduk disampingnya memukul kepala yoga. Bima lalu tertawa, sedangkan fajar menggelengkan kepala sambil minum kopi, seolah apa yang dikatakan tiga tidak lucu sama sekali di telinganya.
" Eh! Kalian udah pada dengar cerita hantu di kelas umum di kampus kita." Tanya Kevin kepada tiga temannya itu.
"Belum tuh. Emangnya ada hantu di kelas umum?" Tanya yoga yang tidak percaya.
"Baiklah aku akan menceritakan kepada kalian. Jadi ada seorang senior pria yang mati didalam kelas umum itu. Dan setiap malam sering terdengar suara tangisan dan teriakan. Pernah ada seorang mahasiswa yang tidak sengaja berkunjung ke kelas aula. Dia melihat seorang mahasiswa yang duduk menundukkan kepalanya yang ternyata hantu senior itu. Mahasiswa itu mendekatinya, dan bertanya apakah dia baik-baik saja. Namun, ternyata saat hantu itu menengok wajahnya dipenuhi oleh darah. Hantu senior itu lalu berteriak " Diam! Berapa jumlah mahasiswa di angkatan kalian? Tundukan kepala!" "Kata Kevin tertawa, diikuti oleh ketiga temannya itu.
" Seharusnya aku menghajar mu, aku serius sekali mendengarnya." Ucap yoga kesal.
" Dia sudah mati tetapi masih memelonco, haha." Tawa Bima merasa lucu.
Namun tiba-tiba ekspresi wajah kedua temannya yoga dan Kevin berubah, mereka terlihat takut dan menunduk. Menyadari hal itu fajar dan Bima menengok kebelakang mereka. Ternyata ada Nadia dan panitia ospek lainnya berdiri di belakang mereka berdua. Ekspresi wajah mereka masih tetap sama serius dengan tatapan tajam.
" Bukannya kalian bilang kalian memiliki tugas yang banyak? Kenapa kalian ada disini? Kalian sengaja untuk gak hadir di kegiatan ospek, hm?" Tanya Nadia masih dengan ekspresi wajah yang sama.
" Bukan begitu kak. Kami disini hanya ingin melepaskan penat setelah mengikuti ospek dan juga belajar. Jadi kami ingin bersantai dan minum kopi sejenak." Ujar Kevin memberikan alasan yang tepat agar para senior itu tidak salah paham.
"Oh jadi begitu kalian ingin melepaskan penat, kan? baiklah kita akan bergabung." ucap prince dengan membawa sebuah minuman beralkohol.
Nadia dan teman-temannya ikut bergabung. Prince dan Bagas menuangkan minuman itu dalam gelas yang diminta mereka kepada pemilik warung dan memberikan kepada fajar, yoga, dan Kevin. Namun, fajar menolak minuman itu kecuali Kevin, Bima dan yoga yang ingin mencoba. Mereka akhirnya menikmati minuman alkohol bersama kecuali Dea, Karin, Nadia dan fajar yang hanya menemani mereka saja.
" Kenapa gak ikut minum? cukup bagus melepaskan stres, kan?" tanya Nadia kepada fajar yang tidak ikut menikmati alkohol.
" Melepaskan stres bukan hanya meminum minuman ini juga, kan?" tanya fajar balik. Nadia akhirnya diam, dan tidak lagi bertanya.
Fajar yang duduk disamping Bima, tidak menyangka jika Nadia bisa menjadi liar seperti ini. Nadia bahkan berani duduk dan bergabung bersama teman cowoknya meski dia tidak meminum minuman alkohol. Namun, sebagai cewek tak pantas baginya untuk nongkrong malam dengan cowok yang banyak seperti ini. Beruntungnya Nadia dan teman-temannya bergabung dengan fajar, jika tidak fajar mungkin tidak akan bisa mengawasi Nadia karena tidak tahu jika nadia akan nongkrong seperti ini dengan teman-temannya.
Warung sudah mulai sepi pengunjung, Bima dan Kevin terlihat mabuk akibat minuman yang dibawakan prince. Nadia meminta mereka untuk segera pulang. Fajar awalnya menolak melihat Nadia juga belum pulang. Akhirnya mereka semua memilih pulang bersama-sama.