Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
Hampir kehilangan



"Papa..." Gumam Aidan mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


"Untuk apa kau datang ke sini, huh? Apa belum puas kau membuat putriku hampir keguguran!" Maki Papa Bara dengan wajah merah padam.


"Ke-keguguran?" Ucap Aidan mengulangi perkataan Papa mertuanya.


Papa Bara yang sudah muak melihat wajah Aidan pun segera masuk ke dalam ruangan putrinya tanpa menjawab pertanyaan Aidan.


"Kak Aidan benar-benar keterlaluan!" Sembur Maudy saat Aidan menatap bingung pintu ruangan yang sudah tertutup rapat.


"Bagaimana keadaan Alea saat ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Aidan pada Cika dan Maudy yang kini menatap berang kepadanya.


"Untuk apa Kakak menanyakan keadaan Alea? Bukankah yang lebih penting itu adalah keadaan sahabat licik kakak itu? Dan harusnya pertanyaan itu kakak tanyakan pada diri kakak sendiri! Apa yang kakak lakukan pada Alea sehingga Alea bisa mengalami pendarahan seperti tadi!" Sembur Cika dengan berapi-api.


"Apa maksud semua ini? Keguguran? Pendarahan? Apakah Alea—" Kepala Aidan menggeleng mencerna maksud perkataan mertuanya dan sahabat istrinya.


"Benar. Alea hampir saja kehilangan kedua bayinya karena perbuatan kakak! Apakah Kakak tahu jika saat ini Alea sedang mengandung?" Tanya Cika menatap tajam pada Aidan. "Pasti jawabannya adalah tidak! Karena yang ada dipikiran Kakak hanyalah wanita licik itu tanpa memikirkan jika istri kakak dan Baby twins juga membutuhkan Kakak saat ini!"


"Alea... Alea hamil..." Lirih Aidan mengusap wajahnya kasar.


"Bahkan di saat Alea mengalami morning sickness Kakak tidak ada di sampingnya. Alea hanya menjalani kehamilannya seorang diri tanpa kehadiran suaminya. Sedangkan suaminya sibuk dengan wanita lain!" Maudy tak kalah mengutarakan kekecewaan mereka pada Aidan.


"Berdoalah agar Alea masih mau memaafkan kakak. Mengingat karena Kakak Alea hampir saja kehilangan kedua janinnya!" Ucap Cika dengan sinis.


"Alea hamil... Bahkan gue tidak mengetahui semua itu. Suami macam apa gue yang tidak ada di samping istri gue di saat istri gue sangat membutuhkan dukungan dari gue!" Ucap Aidan. Tanpa terasa matanya sudah berkaca-kaca.


Aidan pun teringat bagaimana wajah Alea yang sering pucat saat tertidur. Bahkan tubuh wanita itu semakin berisi hari ke hari. Aidan juga mengingat bagaimana tadi Alea memintanya untuk mendengarkan kabar penting yang akan disampaikannya.


"Maafin gue... Maafin gue, Alea..." Gumam Aidan penuh penyesalan. Bukankah selama ini ia yang sangat mengharapkan kehadiran seorang anak di dalam rumah tangga mereka? Namun saat ini ia pula yang membuat anaknya dalam keadaan bahaya.


"Dua janin? Tiba-tiba Aidan pun teringat dengan ucapan Cika. "Apakah saat ini Alea sedang mengandung bayi kembar?" Aidan mengusap pipinya yang tiba-tiba basah.


Ingin sekali rasanya Aidan masuk ke dalam ruangan itu untuk melihat keadaan istrinya. Namun Aidan mengurungkan niatnya karena ia tidak ingin membuat keributan yang akan membuat istrinya bertambah sakit.


Tak lama Mama Zaskia pun nampak berjalan tergesa-gesa ke arahnya. "Aidan... Bagaimana keadaan Alea?" Tanya Mama Zaskia dengan menangis.


"A-alea...." Lidah Aidan terasa kelu saat ingin mengatakannya.


Mama Zaskia yang tak mendapat jawaban dari Aidan pun segera masuk ke dalam ruangan putrinya.


Sedangkan di dalam ruangan, Alea nampak menangis tersedu-sedu saat mengetahui ia hampir saja kehilangan kedua bayinya.


"Papa... Bawa Alea pulang ke rumah Papa... Alea tidak ingin bertemu dengan Aidan..." Ucap Alea dengan berderai air mata.


***