
"Ah Lea... Lagu ini pasti buat lo deh..." Ucap Cika mengatupkan kedua tangan di dagunya.
"Dari tadi pandangan Kenzo ke elo banget tau gak." Timpal Maudy yang dengan tatapan masih tertuju pada Kenzo yang sedang bernyanyi.
"Apa-apaan sih kalian. Ngaco banget." Elak Alea. Walau ia tahu jika lagu itu kemungkinan besar untuknya. Alea juga menyadari jika tatapan Kenzo saat ini tertuju padanya.
Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Pandangan para pengunjung pun kini tertuju pada Alea dan teman-temannya karena Kenzo tak lepas memandang wajah Alea. Bahkan diakhir lagunya, Kenzo menunjuk ke arahnya. Alea yang sudah merasa wajahnya memanas pun berdiri dari duduknya.
"Gu-gue ke toilet bentar, ya." Ucap Alea pada Cika dan Maudy yang juga ikut bersorak seperti pengunjung lainnya.
Alea pun buru-buru pergi dari meja mereka dengan tatapan orang-orang yang masih tertuju padanya. Belum sampai di depan pintu toilet, tangan Alea tiba-tiba saja oleh seseorang yang hampir membuat Alea sontak ingin berteriak.
"Aidan..." Gumam Alea dengan langkah terseret karna Aidan menarik kasar tangannya menuju pintu keluar belakang cafe.
"Lepasin tangan gue... Lo apa-apaan sih!" Sungut Alea karna tangannya terasa sakit.
Namun Aidan menulikan telinga. Ia terus menyeret Alea menuju mobilnya.
"Masuk!" Perintah Aidan dengan kerasnya.
"Lo kenapa sih? Dan kenapa lo juga bisa berada di cafe tadi?" Tanya Alea saat Aidan mulai menjalankan mobilnya keluar dari dalam perkarangan cafe.
Aidan yang ditanya pun hanya diam saja. Urat-urat ditangannya nampak menegang bersamaan dengan cengkramannya di kemudi.
"Aidan... Lo dengar gak sih gue ngomong dari tadi? Dan gimana mobil gue yang masih berada di sana. Gue bahkan belum bilang apa-apa sama Cika dan Maudy. Gimana kalau mereka nyariin gue!" Ucap Alea menggebu-gebu karna Aidan masih diam.
"Diam!" Bentak Aidan. Hatinya saat ini masih panas mengingat bagaimana tatapan Kenzo pada Alea sejak awal pria itu mulai bernyanyi tadi. Ia dan Yura memang diminta Bunda Vara untuk mengecek dan memantau kondisi cafe mereka hari ini karna Bunda Vara masih merawat Nenek Ana yang sedang sakit. Aidan bahkan melihat dengan jelas bagaimana Alea ikut tersipu dengan tatapan Kenzo padanya.
Mata Alea nampak berkaca-kaca mendengar bentakan Aidan. Alea pun mengalihkan pandangan ke arah luar. Ia hanya bisa menahan sesak di dada dengan air mata yang mulai mengalir di kedua pipinya.
Sedangkan Aidan yang sudah dibutakan oleh rasa cemburu, menambah kecepatan mobilnya hingga Alea memegang erat seatbelt dengan menahan rasa takutnya.
"Shtt..." Maki Aidan pada pengguna motor yang berhenti mendadak di depannya. Untung saja ia masih bisa mengendalikan mobil hingga tak menyebabkan tabrakan. Aidan pun kembali melajukan mobilnya. Sedangkan Alea memejamkan erat kedua matanya berharap ia dan Aidan masih selamat sampai tujuan.
Tak lama mobil Aidan pun memasuki gedung menjulang tinggi. Alea nampak kaget melihat Aidan membawanya ke gedung apartemen elit di kotanya.
"Ini apartemen siapa Aidan?" Tanya Alea saat mereka sudah masuk ke dalam lift dengan tangannya masih dicengkram erat oleh Aidan.
***
Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen dan votenya.
Terimakasih