Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
Tiga kali sehari



"I-tu..." Cicit Maudy dengan kedua bola mata membola sempurna.


"Ihh... Apaan sih ganggu aja!" Gerutu Alea lagi yang masih fokus pada cermin kecil di tangannya


"Lea... Ih...!!" Gumam Cika mengguncang lengan Alea.


"Lo berdua apa-apaa—" Seketika Alea pun bungkam saat melihat Aidan kini sudah berada di depannya.


"Aidan..." Ucap Alea dengan senyum kecut.


"Udah selesai dandannya?" Tanya Aidan dengan nada khas datarnya.


"Hehehe..." Alea hanya menjawab dengan tertawa tanpa dosa.


"Kalau kamu masih mau lanjutin dandannya silahkan keluar dari kelas saya sekarang juga!" Titahnya dengan dingin.


Alea terhenyak. Apa-apaan sih kulkas ini? Alea hanya bisa menggerutu dalam hati. Dengan malas Alea pun menyimpan kembali peralatan makeupnya ke dalam tas.


Setelah melihat Alea menyimpan makeupnya, Aidan pun kembali ke depan kelas dan mulai mengajar.


*


"Kak Aidan kenapa tuh dari awal masuk auranya serem banget gue lihat." Ucap Cika saat mereka baru saja keluar dari dalam kelas.


"Bener banget tuh. Udah kaya berasa lagi disidang aja tadi di dalam kelas." Timpal Maudy.


"Apa belum dikasih jatah sama lo kali Le?" Tanya Cika ke arah Alea yang sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Wah... Jangan-jangan bener tuh!" Timpal Maudy lagi. Menyenggol lengan Alea.


"Lo berdua ngomongin apa sih?" Sungut Alea kemudian memasukkan ponsek ke dalam tasnya.


"Kita tuh lagi ngomongin sikap Kak Aidan tadi. Auranya serem banget gak seperti biasanya. Apa lo beneran gak kasih jatah sama Kak Aidan makanya dia serem amat." Tanya Cika lagi pada Alea.


"Gak gue kasih jatah gimana? Tadi pagi udah gue kasih sampe masih gemetar nih kaki gue berangkat ke kampus!" Sungut Alea mengingat kejadian tadi pagi dimana Aidan menerkamnya berulang kali. "Asal lo tau aja nih ya. Kalau lagi libur tuh, si Aidan udah kaya minum obat minta jatahnya. Badan gue tu selalu remuk tau gak!" Ucap Alea lagi.


"Berisik!" Sungut Alea karna telinganya terasa berdengung.


"Ternyata Kak Aidan benar-benar ganas. Keren!" Cika dan Maudy pun bertepuk tangan berbarengan.


Alea mendengus. Ia pun berjalan meninggalkan kedua sahabat mesumnya dengan pemikiran merek masing-masing.


"Aidan itu juga tadi kenapa sih sikapnya aneh banget. Buat gue malu aja di depan anak-anak. Awa aja nanti malam gak gue kasih jatah!" Gerutu Alea mengingat sikap Aidan yang menyebalkan.


"Alea..." Tepukan di bahunya membuat Alea yang hendak membuka pintu mobilnya menoleh ke belakang.


"Kenzo?" Cicit Alea merasa kaget karena kini wajah mereka begitu dekat.


"Lo mau pulang?" Tanya Kenzo.


"Iya. Gue udah gak ada mata kuliah lagi hari ini." Balas Alea tersenyum.


Kenzo mengangguk. "Lo sibuk gak nanti malam?"


"Emh... Kayanya enggak deh."


"Kalau lo gak sibuk gimana kalau nanti malam lo dan teman-teman lo lihat penampilan band gue di cafe AA nanti malam." Tawar Kenzo.


"Cafe AA?" Kening Alea mengkerut ketika merasa nama itu tidak asing di telinganya.


"Iya Cafe AA. Kebetulan nanti malam band gue ada job di sana."


"Jadi gimana?" Tanya Kenzo lagi karena Alea masih diam saja.


"Boleh deh... Nanti gue ajakin Cika dan Maudy juga." Ucap Alea pada akhirnya. Kenzo pun tersenyum lebar mendengar jawaban Alea. Ia sudah tidak sabar menunggu malam tiba karena sudah ada sesuatu yang akan dipersiapkannya untuk Alea nantinya.


***


Hai teman-teman semua... Terimakasih sudah mendukung karyaku... Semoga kalian semua sehat selalu ya😍