
Tanpa rasa malu Alea menanggalkan satu persatu helai benang yang melekat di tubuhnya di hadapan Aidan yang sedang bermain ponsel di atas sofa. Lagi pula untuk apa malu karna setiap hari Aidan sudah melihat bentuh tubuh indahnya itu pikirnya. Tiba-tiba saja Alea meringis saat membuka bajunya.
"Lo kenapa?" Aidan bangkit dari sofa mendekat pada Alea saat mendengar ringisan Alea.
"Tangan lo..." Ucap Aidan terhenti melihat tangan Alea memerah.
"Gara-gara lo ini!" Sungut Alea dengan bibir mengerucut.
Aidan menghela nafasnya. "Maaf. Gue gak sadar megang tangan lo terlalu kuat. Ayo gue obatin." Ucapnya.
Aidan pun membawa Alea untuk duduk di tepi ranjang. Kemudian beranjak mengambil kotak P3K.
"Sshh..." Ringis Alea saat Aidan mengoleskan salap di tangannya. "Pelan-pelan."
"Lo mau ngapain buka baju? Mau menggoda gue?" Tanya Aidan dengan seringaian tipis di bibirnya.
"Pede banget sih lo!" Sungut Alea kemudian bangkit dari ranjang berjalan menuju kamar mandi. "Gue tu mau mandi!" Cetusnya kemudian.
"Aaa..." Pekik Alea saat tubuhnya sudah melayang di udara.
"Turunin gue...!!!" Pekik Alea menepuk dada bidang Aidan.
"Bukannya lo mau mau mandi. Gue akan membantu lo untuk mandi." Aidan terus berjalan menggendong tubuh Alea masuk ke dalam kamar mandi.
"Dasar mesum!" Alea tak hentinya memukul dada Aidan karna sudah mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
***
Alea nampak bersungut-sungut setelah keluar dari dalam kamar mandi. Tubuhnya saat ini terasa remuk. Dan perutnya pun terasa keroncongan karna mereka melewatkan jam makan malam. Alea juga merasa sungkan oada mertuanya karna tidak ikut makan malam bersama.
"Nyebelin banget sih lo!!" Sungut Alea melemparkan bantal kecil di tangannya ke arah Aidan yang sedang mengeringkan rambutnya.
Untung saja Aidan dengan sigap menangkap bantal itu sebelum melayang di kepalanya.
"Gue laper ini... Mau keluar gue kan gak enak sama Bunda karna gak ikut makan bereng!" Keluh Alea menghentakkan kakinya.
Aidan hanya diam tak menanggapi sungutan Alea. Melihat itu Alea bertambah kesal dan semakin menghentakkan keras kakinya.
"Udah gak usah malu. Ayo keluar." Aidan yang telah selesai mengeringkan rambutnya segera menarik tangan Alea keluar dari dalam kamar.
Dengan terpaksa Alea mengikutinya karna perutnya sudah benar-benar lapar.
"Iya, Bunda..." Jawab Alea tersenyum kikuk. Sedangkan Aidan hanya diam tanpa dosa.
"Kalian mau kemana?" Tanya Bunda Vara.
"Emh... Itu... Alea mau makan Bunda." Sungguh Alea benar-benar merasa sungkan saat ini.
Bunda Vara mengangguk paham. "Pergilah. Kalian belum makan sejak siang tadi." Ucapnya lembut.
"Gara-gara lo nih, gue kan jadi gak enak sama Bunda!" Alea masih saja bersungut mencubit pinggang Aidan.
"Lo suka banget sih cubit pinggang gue!" Aidan meringis merasa perih di pinggangnya. "Cubitan lo kayak cubitan kepiting tau gak." Aidan mengelus sebelah pinggangnya.
"Rasain!" Cibir Alea kemudia berjalan cepat menuju dapur.
Aidan hanya bisa menggeleng melihat tingkah Alea saat makan. "Pelan-pelan. Gue gak akan ambil makanan lo."
Alea hanya diam dan terus melanjutkan makannya.
"Uhuk-uhuk." Alea terbatuk-batuk.
Aidan pun segera memberikan minuman ke pada Alea.
"Kan gue udah bilang pelan-pelan. Lo udah kayak gak makan selama seminggu tau gak." Aidan menghela nafasnya lalu menggeleng.
"Bukan sikap lo aja yang bar-bar. Ternyata pada saat makan lo juga bar-bar." Lanjut Aidan kemudian.
**
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺