Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
OMIH-28



Setelah lebih kurang satu jam berkutat di dapur, akhirnya masakan Alea pun sudah jadi dan tertata rapi di atas meja.


"Masak ternyata capek juga ya, Bi..." Ucap Alea yang tengah menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Tangannya melambai di udara mengipas wajahnya yang terasa panas.


Bi Inah yang duduk di depan Alea tersenyum. "Kalau buat masakin suami kan capeknya jadi berkah, Non." Goda Bi Inah membuat Alea mendelik.


"Bibi pulangnya aku anter aja, ya. Gak usah telepon Mamang buat jemput. Sekalian aku mau ambil baju yang ketinggalan." Ucap Alea.


Bi Inah mengangguk. "Baik, Non." Balasnya.


Alea teringat dengan Aidan yang belum terlihat keluar dari dalam kamar dari tadi. Mending gue minta anter Aidan aja deh. Badan gue juga udah capek banget dari tadi. Lagian lama banget sih tuh anak turunnya! Batin Alea menggerutu.


"Bi, aku ke kamar dulu ya mau bersih-bersih. Bibi kalau mau istirahat dan bersih-bersih bisa pergi kamar tamu." Ucap Alea pada Bi Inah yang sedang mencuci piring bekas memasak.


"Baik, Non."


*


Alea menatap pintu kayu bewarna coklat yang tertutup rapat di depannya dengan perasaan bingung. Sudah hampir lima belas menit ia berdiri di depan kamar Aidan menunggu pria itu keluar setelah mengetuk pintu namun yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Lama banget sih keluarnya tuh anak!" Sungut Alea. Alea yang sudah lama menunggu akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam kamar Aidan. Untung saja Aidan tidak mengunci pintu kamarnya.


Alea menatap kesal pria yang kini tengah tertidur pulas bertelanjang dada di depannya. "Pantas aja gak nyahut dari tadi. Kiranya lagi ngebo!" Sungutnya.


"Lo kebo banget sih tidurnya!" Kembali Alea menggoyangkan tangan Aidan karena pria itu tak kunjung membuka mata.


Deg


Jantung Alea berdetak begitu cepat ketika kedua bola mata Aidan terbuka dengan sempurna dan kini sedang menatapnya.


"Mau ngapain lo bangunin gue!" Tanya Aidan datar. Matanya melirik ke arah tangan Alea yang masih setia memegang lengannya. Sebenarnya Aidan sudah bangun sejak Alea masuk ke dalam kamarnya. Hanya saja ia ingin melihat apa yang akan dilakukan Alea masuk ke dalam kamarnya.


"Gu-gue... Akh..." Pekik Alea ketika Aidan menarik tangannya hingga kini tubuhnya berada di atas tubuh Aidan. "Lepasin gue!!" Alea memberontak. Namun bukannya melepas, Aidan malah semakin erat menahan kedua tangan Alea di atas dadanya.


"Mau ngapain lo bangunin gue?" Tanya Aidan menatap intens kedua bola mata indah milik Alea.


Alea menutup kedua matanya merasa jantungnya bekerja lebih cepat dibanding biasanya. Bahkan Alea dapat merasakan hembusan nafas Aidan di wajahnya.


Melihat Alea yang tak kunjung menjawab pertanyaannya bahkan wajah Alea nampak terlihat gugup membuat Aidan melepaskan tangan Alea.


Alea kembali menormalkan ekspresi wajahnya ketika tangannya sudah terlepas dari cekalan Aidan. "Ngeselin banget sih lo!" Alea yang merasa kesal menghentakkan kedua kakinya ke lantai.


"Makanya kalau orang nanya itu dijawab!" Cecar Aidan yang sudah duduk di pinggir ranjang.


"Gue udah selesai masak. Apa lo gak mau makan malam? Gue juga mau minta tolong anterin Bi Inah ke rumah gue sekalian gue mau ikut ambil barang gue yang ketinggalan." Ucap Alea menjelaskan maksud dan tujuannya.