Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
Semakin dekat



"Aidan minggir ih... Lo itu berat tahu..." Alea mendorong tubuh Aidan yang masih berada di atasnya.


Aidan pun bangkit dari tubuh Alea dan menjatuhkan tubuhnya di samping wanita itu. Nafas keduanya terdengar terengah-engah setelah percintaan mereka yang berlangsung cukup lama. Aidan menatap lekat pada Alea yang mulai memejamkan matanya.


Alea yang hendak menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya tersentak saat Aidan menarik tangannya.


"Lo apa-apaan sih! Gue ngantuk tau!" Alea bersungut menatap Aidan kesal. Rasa kantuknya pun hilang seketika.


"Aaaa..." Alea berteriak saat Aidan tiba-tiba menggendong tubuhnya.


"Diam...!" Ucap Aidan saat telinganya terasa sakit.


"Lo apa-apaan sih!" Memukul dada bidang Aidan dengan gumpalan tangannya.


"Bersihin tubuh lo dulu baru tidur!" Ucap Aidan terus melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.


"Selalu saja suka seenaknya!" Protes Alea berwajah masam. Alea pun mengalungkan tangannya ke leher Aidan karna takut terjatuh.


*


Hubungan Aidan dan Alea pun terjalin semakin membaik dari hari ke hari. Berita tentang hubungan mereka pun kini dapat dipercayai orang-orang ketika melihat mereka yang semakin hari semakin dekat. Aidan secara terang-terangan memberi perhatian dan kemesraan pada Alea di depan teman-teman kampusnya. Bukan tanpa alasan Aidan melakukan itu semua, Aidan hanya tidak ingin istrinya mendapatkan prilaku buruk dari orang-orang sekitarnya.


"Lo jadi mau pratikum di luar kota minggu besok?" Tanya Alea saat mereka sedang dalam perjalanan ke rumah orang tua Aidan. Mobil yang dikemudikan Aidan sesekali mengerem akibat jalanan yang cukup padat sore hari itu.


Aidan menatap lurus ke arah jalanan. "Jadi. Rabu besok lo gue anterin ke rumah Mama dan Papa biar lo gak sendirian di rumah." Ucap Aidan. Mobil pun berhenti ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.


"Tidak perlu. Gue di rumah aja. Lagi pula gue bisa ajakin temanm-teman buat nginap di rumah."


"Di rumah Mama dan Papa aja deh." Ucap Aidan lagi. Entah mengapa ia merasa awas ketika Alea berada jauh darinya tanpa pengawasan. Apalagi mengingat sikap istrinya yang bar-bar itu. Bisa saja Alea pergi ke tempat biasanya ia dan teman-temannya nongkrong.


Mobil pun mulai berjalan membelah jalanan Ibu kota saat lampu lalu lintas sudah bewarna hijau. Pemandangan sore itu cukup memanjakan mata Alea. Apalagi di saat mobil mulai memasuki kawasan yang padat penjual kaki lima. Air liur Alea hampir saja menetas membayangkan betapa nikmatnya jajanan di pinggir jalan itu.


"Mau berhenti?" Tawar Aidan melihat gelagat Alea.


Alea dengan cepat mengangguk. "Boleh kan?" Tanya Alea dengan maksud membeli jajanan di pinggir jalan itu.


Aidan tak menjawab. Namun ia menepikan mobilnya agar tak menghambat jalan kendaraan lain.


"Jangan banyak-banyak. Katanya mau diet." Tegur Aidan.


"Siap bos!" Alea memperagakan gerakan hormat.


Aidan tersenyum. Mengacak pelan rambut Alea. Kemudian mengeluarkan dompet dari saku celananya.


"Beli secukupnya saja." Menyodorkan selembar uang bewarna merah.


"Terimkasih, ya." Ucap Alea dengan mata berbinar seperti anak kecil yang mendapatkan permen dari ayahnya.


Cup


Alea mengecup singkat pipi Aidan kemudian buru-buru keluar dari dalam mobil.


***


Mau lanjut lagi gak, ya🤧😩