
"Jadi gue harus gimana?" Alea menggigit kuku jarinya.
"Jorok ih!" Ucap Cika menarik jari Alea dari mulutnya.
"Lo gak mau 'kan jadi janda di usia lo yang masih muda?" Tanya Maudy memprovokasi Alea.
"Ya, enggak lah! Setelah gue pikir-pikir gue belum siap menyandang status janda di usia gue yang sekarang."
"Maka dari itu lo harus sigap membasmi calon pelakor mulai dari sekarang!" Tukas Maudy.
"Tapi bagaimana caranya?" Tanya Alea. Wanita itu nampak bingung.
"Nanti gue kasih tau caranya. Mending sekarang kita ke perpustakaan."
Alea dan Cika mengangguk. Mereka pun keluar dari dalam kantin.
Alea nampak meloncat beberapa kali menjangkau buku yang ada di rak nomor dua dari atas. Walau pun badannya cukup tinggi, namun tidak sebanding dengan tinggi rak buku yang lebih tinggi darinya.
"Lo butuh ini?" Tanya Pria yang sudah berada di belakang Alea dan sudah mengambil buku yang diinginkan Alea.
Alea mengangguk. "Terimakasih!" Ucapnya setelah pria itu memberikan buku ke tangannya.
"Lo Kenzo ketua angkatan di angkatan kita 'kan?" Tanya Alea setelah mengingat siapa pria di depannya.
Pria itu mengangguk. "Sepertinya kita perlu berkenalan lagi!" Ujarnya mengulurkan tangan.
Alea menerima uluran tangan pria itu.
"Kenzo."
"Alea."
"Nama yang manis." Pujinya.
Rona merah nampak menyembul di kedua pipi Alea. Kenzo merupakan pria yang banyak digandrungi kaum hawa di angkatannya. Wajahnya tidak kalah tampan dari Aidan. Apa lagi dengan lensung pipi yang ia punya. Membuat kaum hawa ingin pingsan saja melihatnya.
"Alea?" Tangan Kenzo melambai di udara melihat Alea yang termenung menatap wajahnya.
"Eh, i-iya." Alea nampak gugup ketika ketahuan memperhatikan wajah Kenzo.
"Gue gapapa!" Jawabnya menahan malu. "Emh, kalau gitu gue ke Cika dan Maudy dulu, ya. Btw makasih buat bantuannya." Ucap Alea tersenyum manis.
Alea segera berlalu dari hadapan Kenzo dengan buru-buru. Degub jantungnya kini berdetak tidak karuan.
"Kalau dilihat-lihat dia emang ganteng banget. Tapi..." Alea seketika teringat dengan suaminya. "Ish... Jelek!" Ucapnya menolak pemikirannya bahwa wajah Aidan melebihi ketampanan Kenzo.
"Lo kenapa sih, Lea?" Tanya Cika melihat Alea menepuk beberapa kali kepalanya.
"Kalian udah selesai?" Alea balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Cika.
"Udah. Nih kita udah dapat bukunya." Maudy menunjukkan dua buku ditangannya begitu pula dengan Cika.
"Gue juga udah." Balas Alea mengangkat dua buku di tangannya.
Mereka pun menuju ke meja petugas perpustakaan untuk melakukan peminjaman buku. Setelah selesai, mereka pun keluar dari perpustakaan.
"Lo tadi lihat Kenzo gak di perpus?" Tanya Maudy. Saat ini mereka sudah berada di dalam kelas.
"Lihat... Emang gantengnya gak ketolong sih..." Sahut Cika menggelengkan kepalanya.
"OMG... Kenapa dia gak satu kelas sama kita aja sih! Kalau ada dia 'kan gue bisa cuci mata nih tiap hari!" Gerutu Maudy.
Cika mengangguk membenarkan. "Saingan Kak Aidan dia mah!" Celutuk Cika.
"Iya gak, Le?" Tanya Cika lagi melihat Alea yang hanya diam saja.
"Mana gue tau!" Ucapnya acuh.
"Ish... Alea mah gak enak dibawa ke area sana, Cik."
"Iya nih!"
Alea tak menghiraukan lagi ucapan dua sahabatnya yang masih asik membandingkan ketampanan dan kekayaan anatara Aidan dan Kenzo. Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah bagaimana caranya agar ia tidak menjadi janda di usia muda dan mempertahankan rumah tangganya dan Aidan.
***