Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
OMIH-21



Setelah melewati drama yang panjang, barang-barang Alea dan Aidan pun sudah tersusun rapi di kamar mereka masing-masing. Alea manarik diri dari atas kasur ketika perutnya terasa lapar. Wajar saja jika kini perutnya sudah memberontak meminta makan mengingat hanya sarapan tadi pagilah yang masuk ke dalam perutnya sampai sekarang.


Alea keluar dari dalam kamarnya mencari keberadaan Aidan. Melihat pintu kamar Aidan yang terbuka lebar membuat Alea berjalan ke sana. Mata Alea menyipit tidak melihat keberadaan Aidan di dalam kamarnya.


"Kemana dia?" gumam Alea. Alea memilih menuruni tangga mencari keberadaan Aidan.


Alea mendengus melihat orang yang dicarinya kini tengah duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Aidan terlihat sangat serius menatap layar laptop dengan kesepuluh jarinya berselancar di atas keyboard.


"Aidan..." Panggil Alea yang kini sudah mendudukkan tubuhnya di samping Aidan.


Sejenak Aidan menghentikan aktivitasnya melirik ke arah Alea. Kemudian ia kembali sibuk dengan laptopnya.


"Lo gak dengar gue manggil!" Sungut Alea melihat Aidan tidak merespon panggilannya. "Gue laper..." Keluhnya. "Lo dengar gue gak sih!" Umpat Alea memegang pergelangan Aidan.


Aidan menghentikan aktivitasnya. "Kalau lo laper, lo bisa makan!" Jawab Aidan seadanya.


"Gue mau makan apa? Gak ada sama sekali makanan di sini!" Rutuk Alea. "Emangnya lo udah makan?" Tanya Alea.


"Gue belum makan."


"Terus kita mau makan apa, Aidan..." Sungutnya lagi.


"Lo bisa masak?" Tanya Aidan menatap wajah memelas Alea.


"Tentu saja tidak." Cetusnya.


Aidan nampak menghela nafas mendengar jawaban Alea. "Pesan makanan saja." Putusnya. Mengambil ponselnya yang ada di atas meja. "Lo mau makan apa?" Tanya Aidan melihat daftar menu yang akan ia pesan.


"Terserah. Yang penting gak pake lama."


Alea nampak menguap beberapa kali menahan kantuknya. Bahkan sudut matanya nampak berair. Sudah hampir satu jam ia menunggu namun makanan yang dipesan Aidan tak kunjung datang.


"Lama banget sih datangnya... Gak tau gue udah laper banget apa..." Keluh Alea lirih. Kini rasa kantuknya sudah tidak bisa ia bendung lagi. Perlahan mata Alea pun tertutup.


Setelah mengambil pesanan mereka dari kurir, Aidan pun meletakkan makanan yang masih terbungkus plastik itu di atas meja. Melihat Alea yang masih lelap, Aidan memilih mengambil piring, sendok dan air minum di dapur terlebih dahulu.


"Lea, bangun..." Aidan mengguncang pelan bahu Alea. Sebenarnya ia tidak tega melihat wajah Alea yang begitu damai dalam tidurnya. Tetapi mengingat Alea yang kelaparan Aidan memutuskan untuk membangunkannya saja.


Merasa tidurnya terusik, Alea pun membuka matanya secara perlahan.


Deg


Jantung Alea berdetak kencang ketika melihat wajah Aidan yang begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan Alea dapat mengamati setiap pahatan di wajah Aidan yang begitu sempurna. Alis matanya yang tebal dan hidungnya yang mancung membuat Alea sejenak tertegun. Kesadarannya kembali ketika tangan Aidan sudah melambai di wajahnya.


"Lo gak jadi mau makan?" Tanya Aidan yang sudah kembali duduk di sofa.


"Tentu saja gue mau makan. Lo gak liat gue udah kelaparan dari tadi!" Ketus Alea yang sudah kembali ke alam sadarnya.


Aidan diam. Ia lebih memilih membuka bungkus makanannya dibandingkan mendengarkan suara cempreng Alea yang memekakkan telinga.


*


*


*


*


Lanjut? Happy reading!:)


Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉


Terimakasih sudah membaca karya recehku: