Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
OMIH-33



Akhirnya Alea bisa bernafas lega saat melihat keluar kini mereka sudah berada di gerbang kampus. "Gue turun di sini aja!" Ucapnya pada Aidan.


Sebelah alis Aidan nampak tertarik ke atas. "Kenapa?" Tanyanya merasa aneh.


"Lo gak liat anak-anak yang lain udah pada rame di dalam." Cetusnya. "Mundurin mobil lo sedikit lagi. Gue gak mau sampai anak-anak yang lain liat gue turun dari mobil lo!" Perintahnya.


Aidan menghela nafasnya. Merepotkan saja, pikirnya. Namun pria itu tetap mengikuti kemauan Alea.


Setelah merasa aman, Alea pun turun dari mobil Aidan tanpa sepatah kata pun. Ia sudah diburu waktu saat ini. Jangan sampai dosen killernya lebih dulu masuk ke dalam kelas dibandingkan dirinya.


Alea sedikit berlari menuju ruangan kelasnya. Untung saja dari jauh ia melihat teman sekelasnya masih berada di luar kelas yang menandakan dosen mereka belum masuk. Alea pun sedikit memelankan jalannya. Nafasnya terengah-engah akibat berlari dari gerbang menuju kelas.


Huh huh


Alea menghirup dalam-dalam pasokan oksigen seakan kesulitan bernafas.


"Lo kenapa, Lea?" Maudy merasa heran dengan dahi Alea yang kini berkeringat


"Lo kaya orang habis lari aja?" Timpa Cika yang sama merasa heran.


"Gue emang habis lari! Lo pada gak liat gue ngos-ngosan ini?!" Celetuknya dengan bibir berkerut.


"Lari? Lagian lo ngapain sih pake lari segala? Biasanya lo paling santai kalau jalan?" Tanya Maudy. "Lagian jarak parkiran ke kelas juga gak jauh." Lanjutnya.


Lo gak tau aja gue tuh lari dari gerbang kampus ke sini! Alea hanya bisa menggerutu dalam hati. Tak mungkin ia menceritakan fakta yang sebenarnya.


"Ya, gue takut terlambat aja. Secara lo kan tau hari ini dosen yang masuk itu menyeramkan!" Kilahnya.


Cika dan Maudy mengangguk paham. Seperkian detik mereka sama-sama teringat dengan kejadian tempo hari saat melihat Alea dan Aidan memasuki rumah yang sama.


"Hm?"


"Kemarin sore lo kemana setelah pulang dari kampus? Ke rumah lo?" Tanya Cika menatap intens wajah Alea diikuti Maudy. Mereka ingin melihat reaksi Alea ketika mendengar pertanyaan Cika.


Benar saja. Raut wajah Alea seketika berubah mendapatkan pertanyaan dari Cika. Jika ia berkata pulang ke rumah orangtuanya, rasanya Alea tidak ingin membohongi Cika dan Maudy lagi. Namun jika ia berkata jujur, Alea takut Cika dan Maudy akan kecewa padanya karena menutupi pernikahannya.


Untung saja keberuntungan sedang berpihak pada Alea. Di saat ia sedang bingung harus menjawab apa, dosen pengajar pun masuk memutus pembicaraan mereka. Alea mengelus dadanya merasa lega. Dan gerak-gerik Alea tidan lepas dari pandangan Cika dan Maudy.


"Kita mau kemana?" Tanya Alea ketika baru keluar dari dalam kelasnya dan tangannya langsung ditarik menuju taman belakang kampus oleh Cika dan Maudy.


Mereka sudah sangat tidak sabar mengintrogasi Alea mengenai apa yang mereka lihat kemarin. Kebetulan masih ada sekitar tiga jam lagi sebelum mereka masuk jam kuliah ke dua sehingga mereka bisa lebih lama mengintrogasi Alea tanpa gangguan.


"Duduk!" Perintah Maudy tegas menunjuk kursi kayu di belakang Alea berdiri.


Alea mendengus namun tetap mengikuti perintah Maudy.


"Kalian apa-apaan sih?!" Ucap Alea merasa jengah dengan tingkah dua sahabatnya.


***


Happy reading!:)


Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉


Terimakasih sudah membaca karya recehku:)