Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
Hanya sendiri



Pagi ini Alea terbangun dari tidurnya akibat gejolak yang ingin keluar dari dalam perutnya. Alea menutup mulutnya dengan kedua tangannya kemudian berlari ke arah kamar mandi.


Hoek


Hoek


Alea terus memuntahkan isi perutnya. Rasa mual itu terus menjalar hingga hanya cairan kuning yang keluar dari dalam mulutnya.


Alea memijit pelipisnya yang terasa sakit. "Pusing banget kepala gue..." Lirih Alea sambil memejamkan kedua matanya. Saat rasa mualnya sudah mulai hilang, Alea pun membasuh wajah dan mulutnya dengan air.


"Apa hal seperti ini memang dialami setiap ibu hamil?" Alea melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi menuju ranjang. Hari ini Alea memutuskan untuk tidak masuk kuliah karena badannya yang lemas dan juga ia berniat untuk memeriksakan kandungannya ke dokter pagi ini.


Alea menyambar ponselnya yang berada di atas nakas. Lagi-lagi Alea hanya bisa mendesah saat belum ada satu pesanpun yang dikirimkan oleh Aidan kepadanya.


"Lo kemana sih, Aidan..." Lirih Alea dengan wajah sendu. "Gue sangat membutuhkan lo saat ini." Alea mengelus perutnya yang masih rata. Tak terasa satu tetes air mata mulai jatuh membasahi pipinya.


*


"Lo mau kemana?" Tanya Velissa melihat Aidan yang hendak meninggalkan ruangannya. Saat ini Velissa sudah berada di rumah sakit yang ada di Jakarta untuk melanjutkan rawat inapnya.


"Gue ada urusan sebentar." Ucap Aidan. Sebenarnya ia ingin mencari ponselnya yang tak terlihat keberadaannya sejak semalam.


Velissa memasang wajah sendunya. "Gue mohon jangan tinggalkan gue. Gue takut sendiri." Kedua bola mata Velissa mulai mengembun.


Aidan menghela nafas panjang.


"Setidaknya sampai gue tertidur." Ucap Velissa kemudian.


"Baiklah. Gue akan pergi jika lo udah tidur." Putus Aidan. Aidan pun kembali ke posisi semula.


Velissa nampak menyunggingkan senyumannya. "Terimakasih. Gue hanya takut di sini seorang diri. Dan cuma lo yang gue punya saat ini." Jelas Velissa lagi.


"Tak masalah, sebaiknya lo segera tidur." Tekan Aidan.


Velissa mengangguk lemah. Kemudian mulai menutup kedua matanya.


*


Alea menatap sendu pada ibu-ibu hamil yang ada disekitarnya ditemani oleh suaminya untuk mengontrol kandungan mereka. Sedangkan dirinya hanya datang seorang diri tanpa Aidan di sisinya.


"Harusnya saat ini lo juga ikut melihat perkenbangan anak kita untuk pertama kalinya Aidan." Guman Alea dengan wajah sendunya.


Tak lama nama Alea pun dipanggil untuk melakukan pemeriksaan.


"Apa?! Saya sedang mengandung anak kembar?" Kedua bola mata Alea nyaris keluar dari dalam wadahnya saat dokter cantik di depannya mengatakan jika ia sedang mengandung anak kembar.


"Benar, Nona Alea. Saat ini anda tengah mengandung anak kembar. Dan usia kandungan anda sudah memasuki minggu ke 10. Dan dari keluhan yang anda ceritakan, penyebab nyeri pada perut anda merupakan efek dari kehamilan awal anda." Jelas dokter cantik itu.


"Apakah anda atau suami anda ada memiliki saudara kembar?" Tanya Dokter itu kemudian melihat wajah Alea yang masih tak percaya.


"Suami saya memiliki saudara kembar, Dokter." Ucap Alea. Alea masih tidak menyangka jika kini ada dua nyawa yang sedang bersarang di rahimnya.


Dokter cantik itu tersenyum. "Dan itu adalah salah satu faktor penunjang yang menyebabkan saat ini anda sedang hamil anak kembar, Nona."


Alea melebarkan senyumannya. Pikirannya menerawang jika Aidan mengetahui jika mereka akan memiliki anak kembar. Pastilah suaminya itu sangat senang. Memikirkan reaksi Aidan saja sudah membuat Alea merasa tak sabar untuk segera memberitahu suaminya itu.


***


Lanjut lagi gak?


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺