Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
Penyesalan Bara



"Alea... Alea kenapa, Om?" Jerit Cika dan Maudy yang baru sampai di depan rumah Alea. Cika dan Maudy pun mendekat pada Papa Bara yang sudah memasukkan tubuh Alea ke dalam mobilnya.


"Om juga tidak tahu. Sudahlah. Sekarang Om akan membawa Alea ke rumah sakit!" Ucap Papa Bara dengan penuh kekhawatiran.


Cika dan Maudy mengangguk. Mereka pun masuk ke dalam mobil Papa Bara untuk memangku tubuh Alea di kursi belakang.


"Lea... Bangun... Lo kenapa bisa begini..." Ucap Cika dengan menangis ketakutan. Apalagi saat ini wajah putih Alea nampak pucat seakan tidak teraliri darah di sana.


Maudy pun turut menangis. "Ini semua pasti gara-gara Kak Aidan!" Seru Maudy dengan wajah merah padam.


"Lo benar. Ini semua pasti ada sangkut pautnya denga Kak Aidan!" Ucap Cika tak kalah berapi-api.


Papa Bara yang mendengar ucapan dua sahabat anaknya pun sontak bertanya. "Apa maksud kalian?" Tanya Papa Bara yang masih fokus dengan kemudinya.


Cika dan Maudy pun menceritakan kejadian yang terjadi pada Alea dan Aidan saat di kantin tanpa ada yang ditutup-tutupi. Papa Bara yang mendengar cerita itupun mencengkram erat kemudinya.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan putri saya, sampai mati pun saya tidak akan memaafkannya!" Geram Papa Bara. Pandangan Papa Bara pun beralih menatap spion dimana wajah putrinya terlihat pucat di sana.


*


Suara sepatu pentofel dan sepatu heels yang beradu dengan lantai menggema di lorong rumah sakit. Papa Bara, Cika dan Maudy berlari untuk mengikuti langkah perawat yang membawa Alea menuju ruangan penanganan.


Papa Bara mengusap kasar wajahnya merasakan peyesalan yang teramat di dalam dadanya karena tidak bisa menjaga putrinya dengan baik.


"Alea... Maafkan Papa, nak..." Sesal Papa Bara. "Ini semua kesalahan Papa yang bertindak gegabah untuk menikahkan kamu di usia muda." Papa Bara menutup wajahnya merasakan kekhawatiran yang teramat kepada putri kesayangannya.


*


"Kenapa perasaan gue tiba-tiba tidak enak?" Gumam Aidan. Tiba-tiba saja pemikiran Aidan melayang pada Alea yang ia tinggalkan begitu saja di dalam rumah.


Langkah kaki Aidan pun terus membawa tubuhnya untuk menuju ruangan rawat Velissa. Sebelah tangan Aidan pun nampak menjinjing makanan yang Velissa pesan kepadanya.


Aidan yang hendak masuk ke dalam ruangan Velissa menghentikan niatnya saat sayup-sayup mendengar pembicaraan Velissa dengan lawan bicaranya di seberang telefon karena pintu ruangan Velissa sedikit terbuka.


"Hahaha gue pintar bukan? Tentu saja... Gue bahkan sudah membayar dokter di rumah sakit ini untuk mengatakan jika keadaan gue belum pulih dan masih memerlukan perawatan lebih lanjut. Tentu saja dengan begitu, Aidan akan terus bersama dengan gue dan tidak akan memiliki waktu bersama wanita jal*ng itu." Tawa Velissa terdengar menggelegar hingga ke sudut ruangan.


"Gue melakukan semua ini karena gue sangat mencintai Aidan. Walau pun gue udah berpura-pura tidak mencintainya, namun di hati gue yang terdalam, Aidan akan tetap menjadi cinta gue untuk selamanya."


"Dan gue juga sangat yakin jika Aidan pasti lebih memilih merawat gue dibadingkan bersama wanita itu. Dari dulu Aidan itu udah terbiasa merawat gue saat keadaan gue seperti saat ini. Dan Aidan itu paling tidak tega meninggalkan sahabatnya yang sedang sakit seperti ini." Obrolan Velissa pun terus berlanjut. Wanita itu belum menyadari jika Aidan telah mendengar seluruh pembicaraannya tanpa ada yang terlewatkan. Velissa hanya berpikir jika saat ini Aidan pasti masih berada di dalam perjalanan mengingat pria itu terakhir masih berada di kampusnya.


***