
Aidan pun dengan cepat melepaskan genggaman tangan Alea saat merasa tenaga Alea mulai melemah.
"Mulai saat ini lo tidak boleh pergi kemana-mana tanpa izin dari gue. Dan mulai hari ini akan ada pengawal yang akan mengawasi pergerakan lo!" Ucap Aidan merapikan kemejanya yang sedikit kusut.
"Apa maksud ucapan lo Aidan? Lo mau mengurung gue di rumah ini?" Alea yang merasa tak terima pun berusaha mengejar langkah Aidan yang semakin menjauh darinya.
"Lo akan tetap berada di rumah ini sampai gue memberikan izin jika lo ingin pergi!" Seru Aidan.
Tak lama ponsel Aidan pun mulai berdering. Aidan menghentikan langkahnya dan segera merogoh ponsel di celananya.
"Baik, gue akan ke sana sebentar lagi." Ucap Aidan pada orang diseberang sana.
Alea yang sedikit menangkap pendengaran siapa yang menelepon suaminya pun dengan segera mencekal tangan Aidan yang hendak melangkah kembali. Alea pun teringat tentang niatnya yang ingin menyampaikan tentang kabar kehamilannya pada Aidan. Ia sangat berharap setelah Aidan mendengar kabar kehamilannya suaminya itu tidak akan kembali ke rumah sakit dimana Velissa dirawat.
"Aidan..." Lirih Alea menatap suaminya dengan mata mengembun. "Ada hal penting yang ingin gue sampaikan sama lo saat ini." Ucap Alea menatap penuh harap pada suaminya
"Tidak ada hal yang lebih penting menurut gue saat ini. Lebih baik lo diam di rumah dan turuti semua ucapan gue!" Titah Aidan melepaskan cekalan tangan Aidan.
"Apa cuma Velissa yang penting menurut lo saat ini?" Jerit Alea karena Aidan tak menghiraukan ucapannya.
"Velissa membutuhkan gue saat ini. Maaf, gua harus kembali ke rumah sakit." Aidan pun segera berjalan menuju pintu rumahnya.
"Aahhkk..." Tak lama Alea memekik merasa sakit yang teramat di perutnya. "Sakit..." Lirih Alea mencengkram baju yang dikenakannya.
"Da-darah..." Ucap Alea terbata saat melihat darah yang mengalir di kakinya. Pandangan Alea pun seketika gelap sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
Siang itu Papa Bara yang pulang lebih cepat dari kantornya memilih untuk menghampiri Alea di rumahnya. Mengingat pesan yang dikirimkan Alea tadi malam jika anaknya itu hanya sampai siang di kampus membuat papa Bara berpikir jika Alea saat ini sudah berada di rumahnya.
"Kenapa pintu rumah Alea tidak terkunci?" Gumam Papa Bara dengan kening mengkerut. Tanpa berpikir panjang, Papa Bara pun masuk ke dalam rumah. Saat sudah memasuki rumah, Papa Bara dibuat terkejut melihat putri kesayangannya tergelak begitu saja di atas lantai.
"Alea..." Pekik Papa Bara berlari cepat ke arah Alea. Tas kerja yang dijinjingnya pun terjatuh begitu saja namun Papa Bara tak memperdulikannya.
"Alea... Sayang... Kamu kenapa nak??" Papa Bara mencoba menyadarkan Alea dengan menepuk pipi putrinya. Tak lama pandangan Papa Bara pun beralih pada lantai yang terdapat darah di bawah kaki Alea.
"Alea..." Gumam Papa Bara begitu panik. Dengan hati-hati Papa Bara pun menggendong tubuh Alea. Akhirnya Papa Bara dapat melihat jelas darah yang masih mengalir di kaki putrinya sebab celana yang dikenakan Alea tersingkap ke atas.
Tanpa membuang waktu, Papa Bara pun segera membawa Alea keluar dari dalam rumah untuk membawa putrinya ke rumah sakit.
"Alea... Alea kenapa, Om?" Jerit Cika dan Maudy yang baru sampai di depan rumah Alea.
***