Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
OMIH-49



Sore ini Alea kembali menyaksikan pertandingan babak final antara tim Aidan dan tin Kenzo. Mau tidak mau Alea harus menunggu sampai acara selesai karena Cika dan Maudy memaksanya untuk menonton sampai akhir. Mereka bahkan tidak tahu jika hati Alea saat ini sangat terbakar ketika melihat dengan matanya sendiri Velisaa mengelap keringat yang bercucuran di wajah Aidan. Walau Alea tau Aidan berusaha menghindar, tetap saja hati Alea sudah terbakar saat ini.


"Wah... Gak bisa dibiarin tuh si Velisaa!" Geram Cika yang sudah berdiri dari duduknya. "Lo susulin gih cewe kegatalan itu, Le. Masa lo diam aja liat su—" Ucapan Cika terputus karena Maudy sudah membekap mulut Cika dengan tanganya.


"Mulut lo!" Ucap Maudy yang masih membekap mulut Cika.


Cika mengangguk tanda mengerti. Akhirnya Maudy pun melepaskan tangannya.


Cika dan Maudy saling pandang melihat wajah Alea yang sudah memerah saat ini. Cika dan Maudy paham jika Alea saat ini tengah menahan kobaran api di dadanya.


Sampai pertandingan selesai yang dimenangkan oleh tim Aidan, Alea masih saja menahan gejolak bara api di dadanya.


"Udah selesai kan? Ayo kita pulang!" Alea beranjak tanpa menunggu jawaban dari Cika dan Maudy. Entah mengapa hatinya merasa sakit saat melihat lagi-lagi Velissa hadir memberikan perhatian dengan memberikan satu botol air minum pada Aidan.


Cika dan Maudy menurut saja. Mereka tau saat ini kondisi hati Alea sedang tidak baik-baik saja.


"Lo mau langsung pulang, Le?" Tanya Cika saat mereka sudah sampai di parkiran.


"Iya. Gue mau langsung pulang. Lo jadi mau ke supermarket dulu?" Alea merasa tidak enak mengingat Cika sempat mengajaknya untuk menemani ke supermarket setelah selesai menonton pertandingan.


"Jadi. Gue sama Maudy aja, Le. Tak apa... Lo langsung pulang aja. Dari pada lo gak fokus nantinya."


Alea hanya tersenyum kecut. Sepandai apa pun ia menyembunyikan perasaannya, pastilah kedua sahabatnya itu mengetahuinya. Mengingat mereka sudah bersama saat duduk di bangku sekolah menengah pertama.


Mobil yang dikendarai Alea akhirnya sampai di depan rumah. Alea bergegas turun dari mobil memasuki rumahnya. Beberapa kali Alea nampak menghela nafasnya yang kian memberat. Ia hanyalah seorang wanita yang begitu minim masalah percintaan. Hingga saat ia harus dihadapkan dikondisi seperti saat ini, Alea tidak mengetahui apakah arti yang dirasakannya saat ini.


Alea menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Hari ini ia memutuskan untuk tidak memasak. Lagi pula belum tentu Aidan akan pulang tepat waktu. Bisa saja seperti tempo hari Aidan akan pulang diwaktu ia sudah sangat kelaparan.


"Gue ini sebenarnya kenapa?" Lirih Alea merasa aneh pada dirinya. Setelah lama menerka-nerka isi hatinya, akhirnya Alea memilih untuk membersihkan diri karena tubuhnya sudah begitu lengket.


*


"Gimana buat rayain kemenangan kita kali ini kita pergi ke klab. Udah lama banget tau kita nggak ke sana." Ucap Aksa setelah mereka baru saja selesai mengganti pakaian.


"Bener banget tuh bro... Ayolah... Kita udah lama banget gak ngumpul di klabnya Deni." Ucap Leo begitu antusias.


"Lo gimana? Lo ikut kan sama kita-kita?" Tanya Aksa pada Aidan yang nampak berpikir.


"Ya udah gue ikut." Putus Aidan pada akhirnya.


"Gue juga ikut, ya! Lagian gue kesepian nih di rumah. Orang tua gue lagi pada keluar kota." Ucap Velissa yang tiba-tiba sudah berada di dekat mereka.


Aksa dan Leo mengangguk setuju. Lagi pula Velissa juga sudah biasa ikut bersama mereka.


Velissa tersenyum senang dengan seringaian licik di bibirnya. Saat ini ia sudah merencanakan sesuatu yang akan membuat Aidan terjerat padanya.