
Malam ini Aidan memutuskan untuk menginap di orangtuanya setelah mendapatkan paksaan dari sang Bunda. Seperti yang sudah Aidan perkirakan, malam ini ia akan mendapatkan amukan dari sang bunda karena permasalahan rumah tangganya dengan Alea. Tidak hanya Aidan, Ayah Rangga yang hanya diam saja pun tak luput dari kemarahan sang bunda.
"Ini semua juga gara-gara kamu, Mas. Jika saja kamu bisa mengajarkan Aidan agar bisa lebih hati-hati dalam berteman, pasti semuanya tidak akan seperti ini." Bunda Vara mengusap dadanya merasa amarahnya sudah memuncak.
"Kenapa jadi aku sih, sayang?" Protes Ayah Rangga merasa tak terima.
"Jika saja sifat kamu mudah peka terhadap perasaan wanita, pasti Aidan menuruni sifat kamu yang baik itu." Cecar Bunda Vara lagi.
Aidan yang menjadi terdakwa malam itu di ruangan kerja ayahnya pun hanya bisa menghela nafas kasar. Melihat sang bunda mengamuk seperti saat ini, Aidan dapat menangkap jika saat ini bundanya benar-benar kecewa akan sikapnya.
"Ini semua memang salah Aidan, Bunda..." Ucap Aidan setelah Bunda Vara menghentikan amukannya.
Vara melihat ke arah putranya. "Bukankah Bunda sudah berpesan waktu itu agar kamu bisa menjaga jarak dengan Velissa karena saat ini kamu sudah memiliki istri? Bunda paham jika kamu hanya melaksanakan amanat dari kedua orang tua Velissa untuk bisa menjaga Velissa dalam keadaan apapun. Namun saat ini berbeda, Aidan. Saat ini kamu sudah bekeluarga. Ada hati seorang istri yang harus kamu jaga. Pastilah selama ini Alea kecewa akan sikap kamu. Wanita mana yang tidak sakit mengetahui suaminya berduaan dengan wanita lain sedangkan dirinya sedang mengandung?!" Bunda Vara tak dapat menahan tangisannya. Bunda Vara juga dapat membayangkan betapa sedihnya hati Alea karena sikap putranya itu.
"Bunda tidak melarang kamu untuk bersahabat dengan Velissa. Namun saat ini kamu harus benar-benar menjaga jarak dengan wanita mana pun itu. Karena tidak ada pertemanan antara pria dan wanita yang benar-benar tulus berteman. Pasti akan ada di salah satunya yang memiliki perasaan entah kamu atau pun wanita itu." Bunda Vara menarik nafas panjang.
"Jika kamu memang ingin berteman dengan seorang wanita, maka bertemanlah dengan istri kamu sendiri, Aidan." Lanjutnya kemudian.
"Wajar saja jika sampai saat ini Alea begitu sulit memaafkan kamu. Selain kamu sudah menyakiti hatinya, kamu juga adalah orang yang hampir membuat Alea kehilangan bayi-bayinya." Lirih Bunda Vara. Bunda Vara dapat merasakan kesedihan Alea saat ini. Apalagi Alea pasti sangat ketakutan saat mengetahui ia hampir kehilangan bayi-bayinya.
"Tidak mudah bagi seorang wanita yang baru berumur seperti Alea menjalani kehamilan di usia muda. Pasti saat ini Alea juga merasa ketakutan akan kehamilannya saat ini. Apakah ia bisa menjaga bayi-bayinya di usianya yang masih muda atau tidak." Bunda Vara pun teringat pada kejadian beberapa tahun silam di saat ini sedang mengandung Aidan dan Ayura.
Aidan semakin tertunduk menyadari kesalahannya yang sudah begitu fatal. Apalagi saat ia mengetahui jika Alea sering mengalami muntah di pagi hari bahkan tidak dapat tegak sendiri di kamar mandi akibat tubuhnya yang lemah.
Maafin aku, Alea... Maafin aku... Batin Aidan semakin merasa bersalah.
***
Lanjut?
Jangan lupa tinggalin like dan komennya lebih dulu sebelum lanjut ke bab berikutnya, ya😊