
"Alea..." Pekik Cika dan Maudy saat melihat Alea berjalan menuju arah kelas.
Alea membalikkan tubuhnya.
"Lo dari mana aja sih? Bukannya lo bilang udah datang dari setengah jam yang lalu?!" Cecar Cika.
"Gue dari ruangan musik. Liatin Kenzo dan timnya latihan buat tampil nanti." Jawab Alea seadanya.
"Apa?!"
"Ya ampun Alea... Lo gak kapok juga ya sama kejadian kemarin. Kalau Kak Aidan tau lo satu ruangan dengan Kenzo bisa habis lo sama Kak Aidan." Geram Cika.
"Tenang aja gak bakal marah dia. Lagi pula gue gak ngapa-ngapain kok!" Ucap Alea dengan santainya.
Cika dan Maudy menghembuskan nafas kasar di udara.
"Gak usah nasehatin dia lagi Cik! Gak bakal didengarin juga!" Cetus Maudy.
Alea terkekeh.
"Ya udah sekarang kita mau kemana?" Tanya Alea memecahkan suasana.
"Ke kantin dulu deh. Gue belum sarapan." Ujar Cika.
*
Suasana kampus hari itu cukup ramai dengan kedatangan mahasiswa fakultas lain. Acara demi acara pun berlanjut hingga tiba saatnya Kenzo dan timnya maju untuk mempersembahkan penampilan mereka. Suara musik pun mulai mengalun merdu diikuti suara nyanyian Kenzo yang membuat kauh hawa mulai berteriak memanggil namanya. Alea, Cika dan Maudy yang saat itu baru berjalan menuju tempat acara pun sudah mulai mendengar suara riuh penonton dari tempat mereka berada.
Hingga saat Alea sampai di tempat penonton, pandangan Kenzo pun nampak tertuju ke arahnya dengan senyuman yang semakin melebar di bibirnya.
"Wah... Kenzo liatin lo tuh Le!" Ujar Maudy karna pandangan Kenzo kini terpusat kepada Alea.
Kenzo pun terus bernyanyi mengikuti alunan lagu. Alea yang sedang menikmati penampilan Kenzo pun tersentak kala tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang. Walau pun tidak kasar, tetapi tetap saja Alea merasa kaget.
"Aidan..." Cicit Alea saat melihat wajah dingin suaminya.
Suasana yang awalnya riuh oleh penampilan Kenzo tiba-tiba berganti ricuh oleh kedatangan Aidan. Apa lagi Aidan juga memegang tangan Alea membuat orang-orang bertanya tentang status mereka mengingat Aidan bukanlah orang yang mau memegang lawan jenisnya begitu saja.
"Ikut gue!" Titahnya dengan dingin.
Alea dengan terpaksa mengikuti langkah Aidan saat tangannya sudah ditarik paksa oleh pria itu.
"Alea dalam masalah nih!" Celetuk Cika serata menggeleng.
Maudy mengangguk membenarkan. "Itulah akibat jika gak dengerin omongan kita. Pasti Kak Aidan cemburu buta lagi."
*
"Aidan lepasin tangan gue! Sebenarnya kita mau kemana sih!" Ucap Alea bersungut-sungut saat Aidan tak kunjung melepaskan genggaman tangannya. Apa lagi saat ini orang-orang tengah menatap mereka sambil berbisik-bisik. Bagaikan seperti batu, Aidan tak kunjung mengindahkan ucapan Alea.
"Kita mau ke rumah Bunda." Ucap Aidan saat telah duduk di belakang kemudi setelah memasukkan tubuh Alea ke dalam mobil. Mobil pun mulai melaju membelah keramaian.
"Kalau mau ke rumah Bunda gak usah pake narik tangan gue segala tau!" Sungut Alea dengan wajah masam.
"Bikin tangan gue sakit aja." Lirih Alea kemudian. Mengelus tangannya yang terasa perih.
Aidan yang tidak begitu jelas mendengarkan ucapan Alea pun hanya diam. Suasana dalam perjalanan terasa hening karena baik Alea atau pun Aidan tidak ada yang mengeluarkan suara satu sama lain. Alea diam dengan kekesalannya karna ditarik begitu saja. Sedangkan Aidan diam untuk menahan gemuruh di dadanya.
***
Maaf udah lama gak update ya teman-teman...