
Malam ini Alea sudah nampak cantik dengan dress selutut bewarna biru pastel di tubuhnya. Alea nampak berputar-putar di depan cermin menelisik penampilannya jika ada yang kurang. Setelah merasa puas Alea pun melangkahkan kakinya menuju lantai bawah.
"Aidan belum pulang juga?" Gumam Alea yang sudah menunggu Aidan sedari tadi untuk izin pergi. Karena Aidan tak kunjung pulang, Alea pun memutuskan untuk segera berangkat karena waktunya sudah mepet.
Di depan cafe AA Alea pun sudah ditunggu oleh Cika dan Maudy yang sudah datang sedari tadi.
"Lama banget sih, Le!" Sungut Maudy yang sudah pegal berdiri dari tadi.
"Nungguin Aidan pulang. Tapi kayaknya dia bakal lama pulang deh." Ucap Alea.
"Yaudah yuk. Masuk." Ajak Cika yang sudah tidak sabar untuk melihat penampilan Kenzo.
Suasana di dalam cafe nampak ramai oleh pengunjung yang di dominasi oleh anak-anak remaja. Pandangan Alea pun menyeluruh mencari meja yang masih kosong untuk mereka bertiga.
"Tuh di ujung masih kosong." Tunjuk Alea pada meja bulat dengan empat kursi.
Cika dan Maudy pun mengikuti langkah Alea menuju meja itu. Suara alunan musik terdengar ke seluruh penjuru cafe. Alea, Cika dan Maudy nampak menikmati setiap alunan musik yang mereka dengar.
"Alea... Lo di sini?" Ucap seseorang yang sudah berada di depan Alea.
"Kak Yura?" Ucap Alea merasa terkejut.
"Kakak di sini juga?" Tanya Alea kemudian.
"Iya. Gue emang udah biasa di sini." Ucap Yura terkekeh kecil.
"Duduk dulu, Kak." Ucap Alea mendorong kursi yang masih kosong pada Yura.
"Ayura..."
"Cika."
"Maudy."
Yura, Cika dan Maudy pun mulai berkenalan.
"Tumben lo main ke cafe ini?" Tanya Yura saat sudah mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Gue, Cika dan Maudy diajakin teman kita buat liatin dia tampil malam ini."
"Siapa?"
"Kenzo."
Yura manggut-maggut. "Oh Kenzo..." Ucapnya.
"Kakak kenal?" Tanya Alea kemudian.
"Baru kenal karna dia Kakak yang undang buat manggung di sini." Jelas Yura.
"Jadi maksudnya cafe ini punya kakak?" tanya Alea sedikit terkejut.
"Bukan punya kakak. Tapi cafe ini punya Nenek dan Bunda." Jelas Yura.
"Apa?" Kedua bola mata Alea pun membola sempurna.
"Apa Kak Aidan gak pernah cerita sama lo?"
Alea menggeleng pasti.
"Eh udah dulu ya. Kakak harus kembali ke dapur." Ucap Yura ketika mengingat jika ia disuruh Bunda Vara mengecek bahan-bahan masakan yang kurang.
"Itu kembarannya Kak Aidan, Le?" Tanya Cika menatap punggung Yura.
"Iya."
"Cantik banget..." Puji Cika mengatupkan tangannya.
"Gue jadi penasaran wajah mertua lo aslinya gimana. Kenapa bibit-bibitnya bisa unggul banget." Ucap Cika yang diangguki Maudy.
Alea mendengus. Ini untuk pertama kalinya mereka memuji orang lain yang memiliki paras cantik. Tak lama grup Kenzo pun naik ke atas panggung. Alea dan teman-temannya pun mengalihkan fokus mereka pada Kenzo yang nampak begitu tampan malam ini.
"Lagu ini gue persembahkan untuk wanita yang saat ini sudah berhasil memenuhi hati gue yang sudah lama kosong." Ucap Kenzo dari arah panggung menatap dalam pada Alea yang kini menjadi pusat perhatiannya.
Para pengunjung pun nampak bersorak mendengar ucapan Kenzo. Kenzo pun mulai memetik senarnya.
Kutuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu
Takkan habis sejuta lagu
Untuk menceritakan cantikmu
'Kan teramat panjang puisi
'Tuk menyuratkan cinta ini
Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Aku pernah berfikir tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari
Yang kujalani sampai kini?
Aku selalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi
Bila habis sudah waktu ini
Tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan
Sisa hidupku hanya untukmu
Dan telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu