
Tidak jauh dari tempat mereka berada, seorang wanita tengah menahan sesak di dadanya saat mendengar ucapan suaminya. Walau pun ialah yang meminta untuk menyembunyikan pernikahan ini. Namun tetap saja hatinya terasa sakit.
"Wajah lo kenapa, Lea?" Tanya Cika menghampiri Alea yang sudah sampai lebih dulu di kelas.
Maudy yang masih tertinggal jauh di belakang Cika pun berjalan cepat ke arah mereka.
"Gue gak apa-apa." Alea memaksakan senyumannya.
"Lo yakin?" Selidik Maudy yang cukup mendengar obrolan sahabatnya.
Alea dengan cepat mengangguk.
"Apa ini semua karna berita lo dan Kak Aidan udah tersebar di lingkungan kampus?" Tanya Cika.
"Maksud lo?" Kening Alea mengkerut.
"Apa lo gak lihat sosial media lo tadi malam? Lo dan Kak Aidan jadi bahan pembicaraan di grub kampus." Terang Maudy.
"Apa?" Rahang Alea seakan ingin jatuh saat mendengarnya. Yang ia takutkan akhirnya terjadi juga. Pantas saja sejak keluar dari dalam mobil Aidan tadi para wanita di kampusnya menatapnya dengan sinis. Ia sungguh tidak suka dengan keadaan ini. Hidupnya yang biasanya tenang akan terusik sebentar lagi.
"Udah... Gak usah lo pikirin. Lagi pula bagus dong mereka ngegosipin lo pacaran sama Kak Aidan. Biar mereka gak kegatelan lagi tuh sama Kak Aidan." Celetuk Maudy melihat wajah Alea yang murung.
Cika mengangguk setuju. Sedangkan Alea hanya diam dalam pemikirannya.
"Ya udah, yuk ke kelas!" Ajak Cika menarik tangan Alea.
Helaan nafas Alea terdengar kasar. "Aidan nih suka banget buat gue dalam masalah." Lirihnya tak menyetujui tanggapan dua sahabatnya.
***
Alea menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang. Matanya terpejam diikuti helaan nafas yang terdengar kasar. Hari ini sungguh melelahkan untuknya. Pagi-pagi sekali ia sudah harus berada di kampus untuk mengikuti jadwal kuliah pengganti. Hingga sore hari ia harus disibukkan oleh urusan kampus yang tiada habisnya. Belum lagi cibiran dari kakak kelasnya karna sudah berani mengambil perhatian fans mereka.
"Sungguh menyebalkan." Lirihnya sambil menguap.
Karena sudah tidak kuat menahan rasa kantuk yang mendera, akhirnya Alea pun tertidur dengan tas dan sepatu yang masih melekat di tubuhnya.
Pukul 8 malam Aidan memasuki rumahnya dengan langkah lebar. Setelah mendengar kabar dari teman-temannya saat berlatih basket di lapangan tadi bagaimana Alea dibully oleh teman-teman angkatannya dan juga para fansnya yang lain, membuat hati Aidan menjadi tidak tenang. Akhirnya Aidan pun memutuskan untuk pulang menemui istrinya. Walau pun termasuk wanita yang bar-bar, namun Aidan yakin jika Alea cukup tertekan dengan keadaannya saat ini.
Ceklek
Aidan melangkahkan kakinya dengan pelan mendekat ke arah ranjang. Nafasnya terbuang kasar di udara melihat Alea yang tertidur dengan tas dan sepatu yang masih melekat di tubuhnya. Entah mengapa ada perasaan bersalah yang menyeruak di dalam hatinya saat ini.
Dengan hati-hati Aidan mulai melepas sepatu yang melekat di kaki istrinya kmudian melepas tas selempang di tubuh Alea agar Alea merasa nyaman di dalam tidurnya. Setelah memastikan Alea tertidur dengan posisi nyaman, Aidan pun memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
***
Lanjut?
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺